kalselupdate.id — Pemerintah Prancis secara resmi mengumumkan pengiriman bantuan militer ke Arab Saudi guna membantu negara tersebut menghadapi eskalasi serangan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Bantuan yang mencakup pengerahan pasukan, unit radar, serta sistem pertahanan udara ini bertujuan untuk memperkuat keamanan wilayah Saudi dari ancaman rudal dan drone yang kerap menargetkan infrastruktur vital.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen Paris dalam melindungi sekutu di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa kehadiran aset militer Prancis di Arab Saudi murni bersifat defensif dan tidak dimaksudkan untuk terlibat dalam konflik aktif atau perang melawan kelompok mana pun di kawasan tersebut.
“Sama sekali tidak, ini hanya bersifat defensif. Sejak dimulainya perang melawan Iran, kami telah mengerahkan aset militer untuk melindungi sekutu dan mitra kami,” tegas Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot.
Langkah pengiriman bantuan ini menyusul pengumuman resmi Presiden Emmanuel Macron pada hari Kamis lalu. Keputusan tersebut diambil di tengah situasi keamanan yang memanas di kawasan, terutama setelah perang di Yaman kembali berkecamuk sejak bulan Juli menyusul berakhirnya masa gencatan senjata yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Serangan dari Houthi sendiri diketahui kerap menyasar instalasi minyak utama milik Saudi, termasuk terminal minyak di Yanbu, yang dinilai mengancam stabilitas pasokan energi global.
Barrot menjelaskan bahwa keterlibatan militer Prancis dalam pengamanan wilayah Saudi disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Skala pengerahan personel dan teknologi pertahanan nantinya akan sangat bergantung pada permintaan resmi dari pemerintah Riyadh, disamping mempertimbangkan kapasitas operasional Prancis serta dinamika perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah yang terus berubah.
Lebih lanjut, ia menanggapi spekulasi mengenai keterlibatan Prancis dalam perang Arab Saudi melawan Houthi. Menurutnya, pengerahan bantuan tersebut tidak mengubah posisi Prancis menjadi pihak yang terlibat dalam pertempuran. Barrot memastikan bahwa Paris tetap memegang prinsip bahwa setiap aset yang dikerahkan memiliki mandat terbatas untuk menjaga stabilitas dan melindungi mitra strategis dari serangan udara yang tidak terduga.
Situasi di Laut Merah sendiri memang sedang dalam sorotan dunia internasional setelah adanya upaya blokade oleh kelompok Houthi terhadap jalur ekspor energi Saudi. Gangguan tersebut kian kompleks dengan adanya ketegangan di Selat Hormuz yang sebelumnya telah menghambat transit maritim di wilayah Teluk. Melalui pengiriman perangkat pertahanan ini, Prancis berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keamanan jalur perdagangan energi sekaligus membantu mitigasi ancaman serangan udara terhadap target-target strategis di Arab Saudi.


