kalselupdate.id — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk mengambil alih PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Langkah strategis ini dinilai sebagai angin segar bagi perusahaan mengingat PSBI merupakan pemegang saham mayoritas dari pihak Indonesia dalam proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selama ini, keterlibatan WIKA dalam proyek tersebut memberikan beban signifikan pada laporan keuangan perusahaan. Sebagai salah satu pemegang saham dalam PSBI, WIKA harus menanggung dampak dari imbal hasil proyek yang tercatat negatif dalam konsolidasi keuangan perseroan. Hal ini menyebabkan kinerja keuangan perusahaan tertekan setiap tahunnya akibat konsolidasi kerugian yang timbul dari proyek infrastruktur skala besar tersebut.

“Terkait bagaimana jika kereta cepat nanti diambil alih oleh pemerintah, ini memberikan dampak positif bagi WIKA. Jadi saat ini konsolidasi keuangan, WIKA melakukan konsolidasi berdampak ke ekuitas negatif karena saat ini kereta cepat itu menghasilkan return yang negatif,” ujar Direktur Keuangan WIKA, Mulyadi.

Dalam catatan kinerja perusahaan, keterlibatan dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah menyumbang kerugian bagi WIKA yang mencapai kisaran Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun setiap tahunnya. Beban tersebut berasal dari porsi kepemilikan saham WIKA sebesar 33,36 persen di dalam PSBI, yang mengharuskan perusahaan mencatatkan kerugian operasional proyek ke dalam laporan laba rugi konsolidasian.

Mulyadi berharap bahwa proses pengalihan saham ini dapat terealisasi pada tahun 2026. Dengan lepasnya beban konsolidasi negatif dari proyek kereta cepat, manajemen optimis bahwa kinerja keuangan perusahaan akan mengalami perbaikan signifikan pada akhir periode tersebut. Harapan ini didasarkan pada perbaikan struktur ekuitas perusahaan yang selama ini tergerus oleh kewajiban dari proyek kereta cepat.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko dan Legal WIKA, Vera Kirana, mengungkapkan bahwa proses transisi ini saat ini tengah berjalan. Pihak pemegang saham PSBI yang terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), WIKA, PT Perkebunan Nusantara I, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk saat ini sedang merampungkan proses uji tuntas atau due diligence terkait pengalihan saham tersebut.

Proses ini melibatkan koordinasi intensif dengan berbagai instansi pemerintah, termasuk Danantara, Badan Pembinaan BUMN, serta Kementerian Keuangan. Meskipun proses due diligence masih berlangsung, koordinasi antar pemangku kepentingan terus dilakukan untuk memastikan pengalihan porsi saham berjalan sesuai dengan rencana strategis pemerintah dalam menyehatkan kondisi keuangan BUMN yang terlibat dalam proyek kereta cepat.

Sebagai informasi tambahan, PSBI menguasai 60 persen saham di KCIC, sementara 40 persen sisanya dimiliki oleh konsorsium perusahaan asal China. Dengan adanya pengambilalihan oleh pemerintah, diharapkan kendali atas proyek strategis nasional ini menjadi lebih terpusat dan mampu memberikan dampak positif bagi stabilitas keuangan perusahaan-perusahaan BUMN yang terlibat di dalamnya.