kalselupdate.id — Seorang pria berusia 47 tahun bernama Agung tampak hadir di tengah kerumunan pencari kerja di GOR Pulogadung, Jakarta Timur, pada Selasa (6/10/2026). Warga asal Tanjung Priok, Jakarta Utara, ini berupaya mencari peluang pekerjaan tetap setelah lima tahun terakhir tidak memiliki penghasilan stabil. Kedatangannya ke bursa kerja tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya yang telah dilakukan secara berkala di berbagai lokasi, termasuk di kawasan Sunter sebelumnya.
Tantangan utama yang dihadapi Agung dalam mencari posisi baru adalah batasan usia yang ditetapkan oleh banyak perusahaan. Ketentuan administratif mengenai usia sering kali menjadi penghalang bagi pelamar yang telah memasuki usia paruh baya, meskipun mereka masih memiliki kompetensi yang mumpuni. Agung mengakui bahwa situasi tersebut sempat membuatnya merasa pesimis saat hendak mengajukan lamaran untuk posisi tertentu, seperti housekeeping, karena terkendala kriteria umur.
“Rasanya ya sebelumnya sih saya agak pesimis karena ada aturan usianya ya, saya kan usia 47 tahun,” ujar Agung saat ditemui di GOR Pulogadung.
Meski menghadapi kendala administratif, Agung memilih untuk tidak menyerah dan tetap memetakan peluang yang lebih realistis. Dengan latar belakang pengalaman kerja di bidang sistem informasi dan teknologi, ia kini mulai membidik posisi back office yang umumnya lebih terbuka bagi berbagai rentang usia. Strategi ini diambil agar kemampuannya tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.
Sebelum mengalami masa sulit dalam mencari pekerjaan, Agung memiliki rekam jejak profesional yang cukup panjang. Ia pernah bekerja selama 9,5 tahun di sebuah perusahaan properti yang berbasis di Bintaro dengan fokus pada administrasi dan verifikasi data. Setelah itu, ia sempat bekerja di perusahaan manufaktur barang rumah tangga di Cikarang melalui sistem outsourcing selama tiga bulan, namun harus berhenti karena perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut.
Selama masa transisi dan tidak memiliki pekerjaan tetap, Agung berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan berbagai cara, termasuk membantu istrinya dalam usaha kue kering yang bersifat musiman. Upaya untuk membuka usaha mikro pada masa pandemi sempat dilakukan, namun terkendala oleh proses perizinan yang tidak kunjung selesai. Kondisi ini menuntutnya untuk tetap kreatif dan produktif demi keberlangsungan ekonomi keluarga.
Di tengah keterbatasan peluang, Agung mengisi waktunya dengan mendalami teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia belajar mandiri sambil mendampingi anaknya yang duduk di bangku kelas 11 SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Kemampuan baru dalam bidang AI ini ia manfaatkan untuk mengembangkan sejumlah aplikasi sederhana, sebuah langkah yang dianggapnya sebagai cara untuk tetap menjaga ketajaman intelektual sambil menunggu kesempatan kerja.
Agung kini lebih selektif dalam mengirimkan lamaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaku tidak lagi terlalu aktif mengirimkan lamaran secara daring karena pengalaman menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Namun, ia menyadari bahwa peluang bisa datang dari berbagai arah, seperti pengalamannya di masa lalu saat seorang manajer perusahaan manufaktur menghubunginya melalui LinkedIn untuk menawarkan posisi pekerjaan.
Dukungan dari keluarga menjadi pilar utama bagi Agung untuk tetap menjaga kondisi mental dan semangatnya di tengah tekanan ekonomi. Ia berharap agar perusahaan lebih mengedepankan penilaian berdasarkan keahlian dan pengalaman kerja ketimbang sekadar angka usia. Dengan optimisme yang terjaga, Agung terus melangkah menuju bursa kerja berikutnya, percaya bahwa kemampuan profesionalnya masih memiliki nilai jual di pasar kerja yang kompetitif saat ini.


