kalselupdate.id — Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait keberadaan seorang sosok misterius yang sempat terlihat berboncengan motor dengan Sutrimo sebelum pria tersebut ditemukan meninggal dunia. Sutrimo ditemukan tak bernyawa di depan sebuah klinik di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dengan kondisi mulut mengeluarkan busa. Hingga saat ini, identitas individu yang bersama korban dalam rekaman CCTV tersebut masih dalam proses penelusuran oleh pihak berwajib.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dewa Anom Danunjaya mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengumpulkan berbagai bukti rekaman CCTV untuk memetakan aktivitas korban sebelum peristiwa tersebut terjadi. Berdasarkan linimasa yang disusun penyidik, Sutrimo terpantau berinteraksi dengan sosok misterius tersebut sejak malam hari pada 22 Juli 2026 hingga dini hari tanggal 23 Juli 2026. Meski telah memegang bukti visual, penyidik menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan unsur tindak pidana dalam proses penyidikan tersebut.

“Untuk yang boncengan masih kita dalami. Tentunya dalam proses ini tadi kan kami sampaikan, kesimpulan kami dalam proses penyidikan adalah belum ditemukan peristiwa pidana,” tegas AKBP Dewa Anom Danunjaya.

Dalam keterangannya, AKBP Dewa Anom menambahkan bahwa seluruh fakta yang terkumpul di lapangan akan dianalisis secara komprehensif. Pihak kepolisian akan melakukan sinkronisasi terhadap bukti-bukti tambahan guna memperkuat kesimpulan akhir mengenai penyebab kematian korban. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal dunia dapat terungkap secara faktual dan transparan sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Sementara itu, hasil pemeriksaan medis dari tim ekshumasi dan autopsi memberikan titik terang mengenai penyebab kematian Sutrimo secara klinis. Ketua Tim Ekshumasi dan Autopsi, dr. Ahmad Yudianto, menyatakan bahwa berdasarkan temuan medis, korban dipastikan meninggal dunia akibat penyakit jantung iskemik. Penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaan publik terkait kondisi fisik korban yang ditemukan dalam keadaan mulut berbusa saat ditemukan di lokasi kejadian.

Dokter Ahmad Yudianto memaparkan bahwa busa yang keluar dari mulut Sutrimo merupakan manifestasi dari edema paru akut yang dialami korban. Kondisi tersebut terjadi akibat adanya penumpukan cairan pada organ paru-paru, yang kemudian bercampur dengan lendir di saluran pernapasan. Kesulitan dalam proses pernapasan menyebabkan cairan tersebut bergejolak dan menghasilkan busa berwarna putih saat keluar dari mulut, sehingga hal ini murni merupakan fenomena medis pasca-kematian.

Rekonstruksi kronologi kematian Sutrimo dilakukan polisi dengan menelusuri puluhan titik CCTV mulai dari tanggal 22 Juli 2026 malam. Korban terpantau sempat melintas di depan Klinik SAS dengan mengendarai motor, bahkan sempat terlihat mendorong kendaraannya di beberapa titik sebelum akhirnya dibonceng oleh sosok misterius tersebut pada dini hari tanggal 23 Juli 2026. Rangkaian pergerakan korban terekam mulai dari kawasan Jalan Radio 3, Petogogan, hingga akhirnya kembali ke lokasi kejadian di depan klinik.

Penyidik telah memantau pergerakan korban hingga ia berhenti di sebuah warung makan di Jalan Radio Dalam Raya, sebelum akhirnya kembali melintas ke Jalan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Setelah rangkaian pergerakan tersebut, korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di depan tempat kejadian perkara. Pihak kepolisian kemudian mengerahkan ambulans untuk mengevakuasi jenazah menuju Rumah Sakit Muhammadiyah guna proses pemeriksaan lebih lanjut, yang menandai berakhirnya rangkaian peristiwa yang terekam dalam CCTV tersebut.