kalselupdate.id — Penyelidikan mendalam kini tengah diarahkan pada sosok Hamam al-Hammami, seorang kopilot berkewarganegaraan Oman yang diduga melakukan aksi penyerangan brutal terhadap pilot utama dalam penerbangan maskapai Flydubai FZ1073 rute Dubai menuju Tel Aviv pada tanggal 30 September 2026. Insiden menegangkan tersebut terjadi di ketinggian sekitar 34.000 kaki dengan membawa sebanyak 174 orang penumpang yang berada di dalam pesawat.
Pelaku dilaporkan menyerang kapten pilot bernama Smit Machchhar menggunakan sebuah kapak darurat yang berada di dalam kokpit, dalam sebuah aksi yang kini dikategorikan oleh Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA) sebagai dugaan upaya tindakan terorisme untuk mengambil alih kendali pesawat secara paksa. Setelah terjadi pergumulan hebat di dalam ruang kemudi, pilot yang terluka parah berhasil membuka pintu kokpit sehingga para penumpang dapat masuk untuk membantu melumpuhkan pelaku sebelum pesawat akhirnya mendarat darurat dengan selamat di wilayah Arab Saudi.
Seiring berjalannya proses investigasi internasional yang melibatkan berbagai otoritas keamanan dan penerbangan, latar belakang serta rekam jejak karier Hamam al-Hammami di dunia penerbangan sipil mulai terungkap ke publik. Sebelum bergabung dengan maskapai Flydubai, pria yang lahir di Uni Emirat Arab dari ayah asal Oman dan ibu asal Suriah ini diketahui sempat berpindah-pindah bekerja di sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Salah satu fakta penting yang menjadi sorotan tajam tim penyelidik adalah riwayat kerja al-Hammami selama kurang lebih tujuh tahun di maskapai nasional Oman Air. Berdasarkan data yang dihimpun dari profil profesional LinkedIn miliknya yang kini telah dihapus, masa bakti al-Hammami di maskapai tersebut tercatat baru berakhir secara resmi pada bulan Februari 2025 yang lalu.
Namun, di balik masa kerja yang cukup panjang di Oman Air, tersimpan catatan merah mengenai kedisplinan dan pandangan ideologisnya yang memicu kekhawatiran serius dari pihak manajemen. Menurut laporan dari dua sumber tepercaya yang mengetahui langsung persoalan internal tersebut, al-Hammami ternyata pernah dikeluarkan dari program pelatihan penerbangan resmi di Oman Air karena adanya indikasi kuat mengenai pandangan radikal ekstremis yang dianutnya.
Meskipun sempat dikeluarkan dari program pelatihan krusial tersebut karena kekhawatiran ideologis, al-Hammami tidak langsung diberhentikan dari maskapai pelat merah Oman itu. Sumber internal menyebutkan bahwa pihak manajemen kemudian memutuskan untuk memindahkannya ke divisi atau peran pekerjaan lain yang dinilai tidak berhubungan langsung dengan kendali operasional pesawat terbang di udara.
Setelah mengakhiri masa kerjanya di Oman Air, perjalanan karier al-Hammami berlanjut ke maskapai penerbangan Royal Air Maroc yang berbasis di Maroko pada bulan Juni 2025. Kendati demikian, masa baktinya di maskapai nasional Maroko tersebut tergolong sangat singkat karena ia memutuskan untuk hengkang pada bulan Januari 2026.
Pihak manajemen Royal Air Maroc memberikan konfirmasi resmi bahwa al-Hammami memang sempat mengikuti program pelatihan pra-kerja intensif selama tiga bulan pada tahun 2025. Namun, setelah melalui serangkaian evaluasi dan penilaian ketat dari instruktur, al-Hammami dinilai tidak memenuhi kualifikasi standar kelayakan kerja sehingga tidak terpilih untuk diangkat menjadi staf penerbang tetap di maskapai tersebut.
Lepas dari proses seleksi di Maroko, al-Hammami kemudian berhasil diterima bekerja di Flydubai, sebuah maskapai penerbangan berbiaya hemat yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Pejabat keamanan Israel mengungkapkan bahwa al-Hammami baru menjalani masa kerja sekitar delapan bulan di Flydubai sebelum akhirnya nekat melancarkan aksi penyerangan ekstrem di dalam kokpit pesawat pada akhir September lalu.
Menariknya, dalam riwayat profil profesional LinkedIn yang sempat beredar sebelum dihapus secara sepihak, al-Hammami sama sekali tidak mencantumkan pekerjaannya di Flydubai. Sumber internal dari intelijen penerbangan membenarkan bahwa profil digital tersebut memang valid milik pelaku, yang kini menjadi salah satu barang bukti digital penting dalam proses investigasi komprehensif.
Detik-detik mencekam di dalam kokpit pesawat Flydubai FZ1073 diungkapkan langsung oleh korban selamat, Kapten Pilot Smit Machchhar, yang mengalami luka fisik sangat serius akibat tebasan kapak darurat dari kopilotnya sendiri. Machchhar menceritakan bagaimana dirinya berjuang mati-matian di ambang maut demi mempertahankan keselamatan ratusan penumpang yang berada di kabin belakang.
“Saat itu, saya berjuang mempertahankan hidup saya. Saya terluka sangat parah hingga jatuh tersungkur… saat itu, saya sempat berpikir, bagaimana jika saya tidak bisa bangkit lagi?” ujar Pilot Flydubai Smit Machchhar saat memberikan kesaksiannya kepada Perdana Menteri India Narendra Modi melalui panggilan video.
Dalam kondisi tubuh yang bersimbah darah dan terus melemah, Machchhar mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk menjangkau sistem pengunci elektronik pintu kokpit dan membukanya agar kru kabin serta penumpang menyadari bahaya yang sedang terjadi. Keberanian sang pilot memberikan jalan bagi sejumlah penumpang yang sigap menerobos masuk ke dalam kokpit guna menyergap dan mengikat al-Hammami hingga tidak berdaya.
Setelah situasi di dalam ruang kemudi berhasil dikendalikan secara darurat, kru pesawat segera mengalihkan rute penerbangan dan melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat di Arab Saudi demi menyelamatkan nyawa sang pilot yang membutuhkan penanganan medis segera. Insiden luar biasa ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pemimpin negara di kawasan Timur Tengah yang mengecam keras tindakan nekat sang kopilot.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan persnya menduga kuat bahwa al-Hammami telah terpapar proses indoktrinasi radikal Islamis secara sistematis sebelum melancarkan aksi terornya. Tudingan serius ini kini tengah didalami secara saksama oleh tim penyidik gabungan dari berbagai negara guna mengungkap jaringan atau aktor intelektual di balik aksi radikalisasi mandiri tersebut.
Kasus penyerangan di kokpit Flydubai ini juga memicu gelombang kekhawatiran baru di industri penerbangan global mengenai efektivitas sistem penyaringan latar belakang bagi calon kru pesawat. Banyak pihak menilai maskapai penerbangan kecolongan karena membiarkan seseorang dengan catatan kekhawatiran radikalisasi di masa lalu tetap bisa memegang lisensi terbang aktif dan mengakses area sensitif seperti kokpit pesawat komersial.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Flydubai masih enggan memberikan komentar lebih rinci terkait latar belakang perekrutan al-Hammami dengan alasan menghormati proses penyelidikan hukum yang sedang berjalan. Begitu pula dengan pihak Oman Air dan kantor media pemerintah Dubai yang masih menutup rapat informasi tambahan terkait masa lalu kopilot kontroversial tersebut.


