kalselupdate.id — Harga minyak dunia mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan akhir September 2026. Minyak mentah jenis Brent ditutup melemah sekitar 2,6 persen ke level US$102,6 per barel pada Selasa (29/9), sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran US$103 per barel pada Rabu (30/9) sore.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Koreksi harga ini dipicu oleh kabar pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah yang dilaporkan telah kembali mendekati level normal sebelum periode konflik. Berdasarkan estimasi JPMorgan, rata-rata ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut dalam sepuluh hari terakhir telah mencapai 17,5 juta barel per hari, atau setara dengan 98 persen dari kapasitas normal sebelum perang.

Selain pemulihan ekspor, Arab Saudi dilaporkan telah mengaktifkan kembali jalur ekspor melalui Laut Merah dengan memanfaatkan pipa utama East-West. Pipa ini mampu mengalirkan volume minyak sekitar 3,5 juta barel per hari, yang berfungsi sebagai jalur alternatif vital di luar Selat Hormuz. Meski risiko keamanan pelayaran di kawasan tersebut masih membayangi, aliran pasokan minyak secara konsisten terus terjaga.

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari kebijakan Amerika Serikat yang memutuskan untuk melepas cadangan minyak darurat sebanyak 40 juta barel. Langkah ini merupakan kontribusi terakhir dari rencana pelepasan total cadangan sebesar 172 juta barel yang telah dikoordinasikan secara global sejak awal konflik, sehingga secara langsung menambah suplai di pasar internasional.

“Keputusan untuk menggunakan instrumen spot atau domestic non-deliverable forwards bergantung pada urgensi permintaan dolar AS, di mana kebutuhan mendesak dipenuhi melalui transaksi spot,” tegas Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Hutapea.

Normalisasi ekspor minyak ini dinilai mampu mengurangi kekhawatiran pasar terkait pengetatan suplai global. Jika tren positif ini berlanjut, tekanan inflasi global diproyeksikan akan mereda, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral di berbagai negara.

Bagi perekonomian Indonesia, penurunan harga minyak memberikan dampak positif berupa berkurangnya beban belanja subsidi energi. Kondisi ini turut memperbaiki neraca perdagangan melalui penurunan nilai impor energi, yang secara tidak langsung mendukung penguatan nilai tukar Rupiah. Terbukti, pada Rabu (30/9), Rupiah menguat 0,58 persen ke level 17.870 per dolar AS.

Di pasar modal, sejumlah emiten mencatatkan perkembangan aksi korporasi yang cukup signifikan. Astra Graphia (ASGR) berencana membagikan dividen interim tahun buku 2026 dengan indikasi yield mencapai 11,8 persen, sementara Bank Syariah Indonesia (BRIS) menyiapkan rencana penambahan modal melalui rights issue hingga 6,8 miliar saham untuk memperkuat pembiayaan.

Langkah korporasi lainnya melibatkan Merdeka Gold Resources (EMAS) yang memberikan pinjaman sekitar Rp6,5 triliun kepada anak usahanya, PT Pani Industri Nusantara, guna mendukung kebutuhan belanja modal dan operasional. Selain itu, Sarana Menara Nusantara (TOWR) berkomitmen melakukan buyback saham hingga 1,2 miliar lembar untuk menjaga stabilitas pasar modal hingga akhir tahun 2026.

Sektor infrastruktur digital juga mencatatkan langkah strategis melalui kerja sama antara Telkom Indonesia melalui anak usahanya, InfraNexia, dengan PT CCSI Konektivitas Digital untuk pembangunan sistem komunikasi kabel laut SUB-2. Proyek ini ditargetkan menghubungkan konektivitas data antara Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.

Di sisi lain, MD Entertainment (FILM) memperkuat kemitraan strategis dengan perusahaan media asal Korea Selatan, SBS Co. Ltd., untuk mengembangkan konten media dan distribusi di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan menjadi hub bagi pengembangan bisnis kekayaan intelektual perusahaan di pasar Asia Tenggara.

Sementara itu, konsensus ekonom yang disurvei Bloomberg pada September 2026 menunjukkan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 basis poin ke level 6 persen pada akhir tahun. Meski demikian, para ekonom juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,2 persen secara tahunan, mencerminkan optimisme di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.