kalselupdate.id — Seorang siswa kelas 2 sekolah dasar (SD) berinisial M di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (30/09). Korban diduga kuat menjadi korban perundungan serta kekerasan fisik yang dilakukan oleh sejumlah kakak kelasnya di lingkungan sekolah. Peristiwa tragis ini memicu perhatian luas setelah pihak keluarga mengungkapkan kronologi kejadian yang dialami bocah berusia tujuh tahun tersebut.
Keluarga korban menyebutkan bahwa insiden pemukulan terjadi saat jam istirahat sekolah berlangsung. M diduga dihadang oleh tiga orang kakak kelasnya di dekat area kantin sebelum akhirnya mengalami tindak penganiayaan. Keluarga baru mengetahui kejadian tersebut setelah M mengeluhkan sakit perut hebat hingga kesulitan untuk berjalan pada pertengahan September lalu.
“Anak kami tidak bercerita kalau ternyata dipukuli oleh kakak kelasnya, ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu,” tutur Diah Indrianti, ibu dari korban.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, dokter menyatakan bahwa rasa sakit yang dialami M bukanlah akibat penyakit bawaan atau pola makan, melainkan dampak dari hantaman benda tumpul pada bagian perut. M sempat mendapatkan perawatan intensif di RSUD Dr Azhari, Pemalang, selama sembilan hari. Meski sempat diizinkan pulang, kondisi kesehatan M kembali memburuk hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit.
Pihak keluarga mengaku kecewa dengan respons pihak sekolah yang dinilai lamban dalam menyikapi kasus ini. Menurut keterangan keluarga, sekolah dianggap kurang memberikan tindakan tegas terhadap para terduga pelaku yang melibatkan siswa kelas 5 dan kelas 6. Hingga korban meninggal dunia, pihak keluarga pun menyatakan belum menerima permohonan maaf atau klarifikasi resmi dari pihak orang tua para terduga pelaku.
Kepolisian Resor Pemalang saat ini tengah mendalami kasus tersebut secara serius. Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memintai keterangan dari berbagai pihak, termasuk rekan korban, pihak sekolah, serta orang tua. Proses autopsi telah dilakukan terhadap jenazah korban untuk memastikan penyebab kematian secara medis sebagai bagian dari penyidikan hukum.
Pemerintah daerah melalui Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, telah melakukan kunjungan ke rumah duka dan pihak sekolah untuk memverifikasi kronologi kejadian. Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kementeriannya tengah melakukan investigasi menyeluruh. Ia menekankan bahwa setiap tindakan kekerasan di satuan pendidikan wajib diusut dengan pendekatan yang objektif dan humanis tanpa mengabaikan proses hukum yang berlaku.
Kasus yang menimpa M menambah catatan panjang kekerasan di lingkungan pendidikan Indonesia sepanjang tahun 2026. Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat adanya lonjakan kasus kekerasan fisik di sekolah dalam kurun waktu Januari hingga September 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa kekerasan fisik yang melibatkan sesama murid masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keamanan dan kenyamanan di lingkungan sekolah.
Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat implementasi regulasi terkait perlindungan anak di sekolah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Upaya pencegahan, termasuk pengawasan CCTV di area sekolah dan peningkatan kesadaran lingkungan aman, kini kembali menjadi sorotan utama agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan. Kepolisian memastikan akan menindak tegas jika ditemukan adanya unsur pidana dalam insiden yang menimpa siswa SD di Pemalang tersebut.


