kalselupdate.id — Katie Zacharia resmi dicopot dari posisinya sebagai juru bicara atau Sekretaris Pers Gedung Putih setelah kurang dari satu pekan menjabat. Keputusan pemberhentian perempuan berusia 41 tahun tersebut diambil menyusul serangkaian blunder dan kontroversi publik yang dinilai memperberat beban politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepastian mengenai hengkangnya Zacharia dikonfirmasi oleh seorang pejabat Gedung Putih menyusul laporan awal yang dirilis oleh jaringan media Fox News. Dalam laporan tersebut, Zacharia disebutkan sedang menjalani proses transisi keluar dari posisinya, tak lama setelah rumor keretakan hubungan kerjanya dengan pihak kepresidenan mulai mengemuka di ruang publik.

Sinyal pencopotan sebenarnya sudah tersirat dari pernyataan langsung Donald Trump yang mengindikasikan kesiapannya melepas juru bicara yang baru ditunjuknya itu. Trump secara terbuka sempat meragukan kesiapan Zacharia dalam menangani tekanan tinggi yang menyertai pekerjaan sebagai juru bicara kepresidenan.

“Saya bilang, ‘Katie, apakah ini untuk Anda?’ Saya berkata kepadanya, ‘Sejujurnya, kalau saya jadi Anda, saya akan mempertimbangkannya kembali,’” tutur Presiden AS Donald Trump saat memberikan tanggapan kepada wartawan.

Penunjukan Zacharia awalnya dimaksudkan untuk menggantikan Karoline Leavitt, sosok juru bicara sebelumnya yang dikenal agresif dan vokal terhadap pers. Leavitt sebelumnya berhasil membangun strategi media Gedung Putih dengan memberikan ruang lebih besar kepada saluran media yang pro-pemerintah sembari bersikap kritis menghadapi pers independen.

Namun, penampilan perdana Zacharia di ruang pengarahan Gedung Putih pada Selasa lalu justru menuai kritik tajam dan menjadi bahan perbincangan publik. Konferensi pers resmi pertamanya berlangsung sangat singkat, yakni tidak sampai 15 menit, dan terkesan disampaikan tanpa persiapan yang matang.

Dalam pengarahan pers singkat tersebut, Zacharia mengawali sesi dengan membacakan daftar pencapaian Donald Trump dengan nada lambat. Ia kemudian menyudahi sesi pengarahan dengan hanya bersedia menjawab pertanyaan dari tiga orang wartawan yang hadir, sebelum akhirnya meninggalkan podium.

Selain penampilan media yang dinilai buruk, sorotan tajam juga tertuju pada kualifikasi profesional yang diklaim oleh Zacharia. Ia secara konsisten memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengacara, tetapi gagal memberikan jawaban yang jelas mengenai status lisensi hukum yang dimilikinya saat dicecar oleh para jurnalis.

Berdasarkan rekam jejaknya, Zacharia memang memegang gelar sarjana hukum dari Pepperdine University dan mencantumkan pengalaman sebagai penasihat hukum di sebuah organisasi nirlaba konservatif di California serta pernah bekerja pada firma hukum di Beijing, China. Meski demikian, ia mengakui belum pernah lulus ujian profesi advokat atau bar exam yang menjadi prasyarat mutlak untuk berpraktik hukum di Amerika Serikat.

Saat dimintai klarifikasi mengenai latar belakang hukumnya, Zacharia beralasan bahwa dirinya sempat mendaftar ujian advokat, tetapi proses tersebut terganggu oleh kepindahannya ke China bersama sang suami. Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia tidak pernah mengambil ulang ujian profesi tersebut namun tetap merasa berhak memakai label pengacara berdasarkan gelar akademik dan pengalaman kerjanya.

“Di California, menyebut diri sendiri sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi bukanlah sekadar bualan, itu adalah tindak pidana,” tegas organisasi etika politik Campaign for Accountability dalam tuntutannya.

Atas perbuatannya tersebut, organisasi etika politik Campaign for Accountability mendesak lembaga California Bar Association untuk melancarkan penyelidikan resmi terhadap Zacharia. Lembaga tersebut menegaskan bahwa pengakuan sebagai pengacara tanpa lisensi sah merupakan pelanggaran hukum serius di wilayah California.

Masalah yang menimpa Zacharia makin diperparah oleh munculnya rekaman wawancara lamanya dengan influencer sayap kanan Jack Posobiec. Dalam wawancara yang disiarkan pekan ini, Zacharia melontarkan komentar kontroversial mengenai kondisi infrastruktur sanitasi di China yang memicu polemik diplomatik.

Dalam percakapan tersebut, Zacharia menceritakan kenangannya usai kembali dari China pada tahun 2016. Ia meragukan anggapan bahwa China dapat mengungguli Amerika Serikat dengan alasan negara tersebut bahkan tidak memiliki fasilitas toilet yang layak pada saat itu.

Komentar sinis tersebut dinilai tidak sejalan dengan garis diplomasi yang sedang dibangun oleh Donald Trump terhadap Beijing. Belakangan ini, Trump justru kerap membanggakan hubungan bilateral dan komunikasi personalnya yang dinilai sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping.

Sebelum timbulnya kontroversi ini, Trump dan Xi Jinping baru saja menggelar pertemuan puncak di Washington DC pada September lalu untuk membahas isu-isu krusial seperti kecerdasan buatan, perdagangan global, hingga konflik Iran. Kedua pemimpin negara tersebut bahkan telah sepakat untuk merencanakan pertemuan tatap muka lanjutan pada akhir tahun ini.