kalselupdate.id — Bencana dahsyat runtuhnya Gletser Kolka yang terjadi di kawasan Pegunungan Kaukasus, Republik Ossetia Utara, Rusia selatan, pada 20 September 2002 malam hari mencatatkan sejarah kelam sebagai salah satu tragedi alam paling mematikan. Peristiwa yang berlangsung sekitar pukul 20.00 waktu setempat tersebut dipicu oleh runtuhnya bongkahan batu dan gletser gantung dari lereng utara Gunung Dzhimarai-Khokh yang kemudian menghantam gletser utama di bawahnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Benturan dalam skala sangat besar tersebut serta-merta menghancurkan struktur Gletser Kolka dan memicu gelombang longsoran masif berupa campuran es, salju, serta batuan. Volume material yang terlontar diperkirakan mencapai lebih dari 100 juta meter kubik, lalu meluncur cepat menyusuri kawasan Lembah Sungai Genaldon.

Material longsoran es dan batuan tersebut menerjang sepanjang 18 kilometer dengan kecepatan ekstrem yang diperkirakan mencapai 180 kilometer per jam. Laju material yang begitu cepat tidak memberikan kesempatan bagi warga setempat untuk menyelamatkan diri saat tumpukan material menerjang kawasan Karmadon Depression.

Dampak keterjangkauan longsoran tersebut merusak secara masif dan menimbun Desa Nizhniy Karmadon beserta beberapa area permukiman warga di sekitarnya. Timbunan es, salju, dan bebatuan besar menghancurkan infrastruktur bangunan dan jalur akses di sepanjang lembah.

Tumpukan material dalam jumlah raksasa tersebut pada akhirnya tersumbat di celah sempit yang dikenal sebagai Gates of Karmadon. Hambatan alami di celah ini membentuk bendungan buatan setinggi hingga 130 meter yang menyumbat aliran sungai dan memicu terbentuknya danau-danau air tawar sementara di wilayah tersebut.

Laporan resmi mencatat sedikitnya 125 orang dinyatakan tewas atau hilang akibat tertimbun di bawah tumpukan es dan material longsoran yang sangat tebal. Banyaknya material padat yang menimbun kawasan permukiman menyulitkan proses pencarian dan penyelamatkan korban oleh tim evakuasi di lapangan.

Akibat tebalnya lapisan es yang membeku serta tumpukan batuan yang menutup area terdampak, tim penyelamat hanya berhasil menemukan 20 jenazah selama seluruh proses evakuasi dijalankan. Sebagian besar korban lainnya tetap berada di bawah lapisan es dan tanah yang membeku dalam jangka waktu yang sangat lama.

Berdasarkan investigasi ilmiah dan data dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), pemicu langsung dari bencana ini adalah runtuhnya batuan dan gletser gantung dari Gunung Dzhimarai-Khokh. Tim peneliti yang diterjunkan ke lokasi menyimpulkan adanya beberapa faktor geologis kompleks yang melatarbelakangi terjadinya tragedi dahsyat tersebut.

Salah satu faktor utama yang diidentifikasi oleh para ahli adalah kedekatan lokasi bencana dengan Gunung Kazbek, sebuah gunung api dorman di kawasan Kaukasus. Aktivitas panas bumi serta emisi gas belerang atau fumarol di sekitar wilayah tersebut diduga meningkatkan suhu dasar gletser, mencairkan lapisan es bagian bawah, dan mengumpulkan kantong-kantong air dalam jumlah sangat besar.

Selain faktor panas bumi, tim peneliti juga menemukan indikasi bahwa dua gempa bumi berskala kecil yang terjadi beberapa bulan sebelum bencana memegang peranan penting. Guncangan tektonik tersebut diperkirakan memperlemah ikatan gletser gantung pada dinding batuan gunung, sehingga membuatnya sangat rapuh dan mudah runtuh sewaktu-waktu.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa peristiwa runtuhnya Gletser Kolka ini merupakan fenomena keruntuhan gletser berskala sangat besar atau planetary scale. Karakteristik bencana ini jauh melampaui pergeseran gletser musiman biasa atau glacier surge, karena melibatkan kehancuran total struktur gletser akibat dorongan energi yang sangat kuat.