kalselupdate.id — Harga emas dan perak dunia mengalami tekanan jual pada perdagangan Selasa hingga Rabu (14/10/2026), seiring dengan sikap hati-hati para pelaku pasar global. Kondisi ini dipicu oleh antisipasi investor terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat serta pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang diharapkan mampu memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Merujuk data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa mencatatkan penurunan sebesar 0,34% ke level US$ 4.156,75 per troy ons. Tren negatif ini berlanjut pada Rabu pagi pukul 06.42 WIB, di mana harga emas kembali terkoreksi tipis 0,02% ke posisi US$ 4.155,76 per troy ons. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan emas selama dua hari berturut-turut di pasar internasional.

“Pasar cenderung menunggu untuk melihat bagaimana hasil data inflasi pekan ini,” ujar Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di StoneX.

Para pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dijadwalkan keluar pada Rabu malam waktu setempat. Data ini akan diikuti oleh laporan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Kamis mendatang, yang menjadi indikator krusial bagi bank sentral AS dalam menentukan langkah kebijakan suku bunga. Pernyataan Kevin Warsh pada Kamis juga akan menjadi perhatian utama para analis untuk membaca prospek ekonomi AS.

Volatilitas harga emas yang tinggi saat ini mencerminkan kegugupan pasar terhadap data ekonomi makro. Gubernur The Fed, Christopher Waller, sebelumnya menyampaikan pandangannya bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS belakangan ini lebih merefleksikan penguatan pertumbuhan ekonomi domestik. Ia menambahkan bahwa ekspektasi inflasi secara keseluruhan masih dianggap terkendali, meskipun terdapat tekanan di beberapa sektor.

Secara fundamental, logam mulia seperti emas cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak memberikan imbal hasil berupa bunga kepada pemegangnya. Perangkat CME FedWatch mencatat bahwa peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diprediksi hanya sebesar 19%, namun ekspektasi kenaikan pada Desember melonjak hingga 88%.

Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun terpantau mengalami koreksi dari level tertingginya, meski tetap bertahan di posisi yang relatif tinggi. Situasi ini turut menyeret harga minyak dunia yang sedang berada dalam tren penurunan pertama dalam hampir sepekan terakhir. Ketidakpastian ekonomi ini turut disoroti oleh Dana Moneter Internasional (IMF) yang memberikan peringatan terkait risiko utang pemerintah serta kenaikan imbal hasil obligasi akibat tekanan inflasi dari konflik geopolitik.

Analis dari Commerzbank menilai bahwa kebijakan suku bunga tinggi merupakan pedang bermata dua bagi pasar emas. Di satu sisi, suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk menyimpan emas. Namun di sisi lain, beban fiskal pemerintah yang membengkak akibat bunga utang yang tinggi menciptakan kekhawatiran baru mengenai keberlanjutan ekonomi jangka panjang yang sering kali memicu minat beli emas sebagai aset lindung nilai.

Senada dengan emas, harga perak juga mencatatkan pelemahan signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir. Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada Selasa anjlok 1,45% ke level US$ 59,44 per troy ons. Tren pelemahan berlanjut pada Rabu pagi pukul 06.42 WIB dengan penurunan tambahan sebesar 0,54% ke level US$ 59,11 per troy ons.