kalselupdate.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi pertama, Senin (12/10/2026). Indeks ditutup anjlok 117,98 poin atau 1,94 persen ke level 5.975, setelah sempat menyentuh titik terendah intraday dengan pelemahan mencapai 2 persen pada posisi 5.971.
Pelemahan indeks hari ini terjadi secara menyeluruh, di mana seluruh sektor saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia kompak berada di zona merah. Sektor energi menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 3,57 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang melemah 3,33 persen dan sektor material dasar sebesar 2,77 persen. Koreksi juga dialami sektor industri sebesar 2,39 persen, transportasi 1,81 persen, serta konsumer primer sebesar 1,74 persen.
Tekanan serupa dirasakan sektor keuangan, kesehatan, teknologi, properti, hingga konsumer non-primer yang mencatatkan pelemahan bervariasi antara 0,49 persen hingga 0,96 persen. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup luas menyelimuti pelaku pasar domestik sepanjang sesi perdagangan pagi ini.
“Issue-issue di market masih berkait MSCI,” ujar Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati.
Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menjelaskan bahwa perhatian utama investor saat ini masih tertuju pada kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pasar tengah mengantisipasi risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier, serta menantikan kepastian terkait prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan dalam indeks MSCI yang dijadwalkan pada semester kedua tahun 2027.
Sebagai informasi, MSCI sebelumnya telah membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), serta menunda penambahan saham baru maupun peningkatan status saham dalam indeks. Kebijakan ini dijadwalkan akan melalui proses evaluasi menjelang peninjauan indeks pada November 2026, di mana pengumuman resmi dari pihak MSCI diproyeksikan akan dirilis pada akhir Oktober mendatang.
Selain faktor MSCI, tekanan terhadap IHSG juga dipicu oleh sentimen eksternal yang cukup kuat. BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini berada dalam posisi wait and see menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat dan China. Situasi ini diperparah dengan adanya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menambah ketidakpastian bagi investor global.
Agenda pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang berlangsung pada 12-18 Oktober 2026 turut menjadi perhatian serius. Pada pertengahan pekan, tepatnya Rabu (14/10/2026), pasar akan mencermati data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China yang dianggap krusial bagi arah kebijakan moneter global dan pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah.
Prospek ekonomi ke depan semakin dipengaruhi oleh pernyataan para pejabat bank sentral AS, The Fed, yang dijadwalkan memberikan pidato pada periode 14-16 Oktober 2026. Pernyataan tersebut diharapkan memberikan sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga, yang secara langsung akan memengaruhi arus dana asing ke pasar modal negara berkembang seperti Indonesia.
Dalam pandangan BRI Danareksa Sekuritas, prospek IHSG dalam jangka pendek cenderung negatif karena besarnya tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Jika inflasi AS nantinya tercatat lebih tinggi dari estimasi, risiko penguatan dolar AS akan semakin besar, yang pada gilirannya dapat memicu tekanan lanjutan terhadap rupiah serta arus keluar modal asing dari pasar saham domestik.
Perkembangan data ekonomi dari China juga menjadi variabel kunci bagi kinerja saham berbasis komoditas dan prospek ekspor Indonesia. Dengan berbagai tantangan yang ada, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau setiap perkembangan sentimen global serta kepastian kebijakan MSCI sebagai panduan utama dalam menentukan langkah investasi selanjutnya di pasar modal Indonesia.


