kalselupdate.id — Sebuah kapal kontainer dilaporkan terbakar dan tenggelam di perairan Selat Hormuz pada Rabu (14/10/2026) setelah menghantam ranjau laut. Insiden tersebut terjadi saat kapal yang mengangkut lebih dari 2.500 unit kontainer itu mencoba melintasi jalur pelayaran yang dianggap tidak sah oleh pihak berwenang Iran.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa kapal tersebut mengalami ledakan hebat setelah menabrak ranjau di jalur yang dikategorikan berbahaya. Kobaran api yang muncul pasca-ledakan membuat kapal tidak dapat diselamatkan hingga akhirnya karam di perairan selatan Selat Hormuz pada Rabu pagi.

“Sebuah kapal kontainer yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur pelayaran yang tidak sah dan berbahaya, menabrak ranjau yang kemudian meledak,” ujar pernyataan resmi dari Angkatan Laut IRGC.

Foto-foto yang dirilis oleh pihak IRGC memperlihatkan kondisi kapal yang dipenuhi kepulan asap hitam pekat. Puluhan kontainer terlihat terlepas dari badan kapal dan mengapung di permukaan air, yang menambah risiko keselamatan bagi kapal lain yang melintas di sekitar lokasi kejadian.

Otoritas militer Iran menegaskan kendali penuh atas perairan tersebut, terutama sejak blokade efektif diberlakukan pasca-serangan besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Teheran bersikeras bahwa setiap kapal yang melintas wajib mengikuti rute pelayaran resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah Iran untuk menjaga keamanan di jalur vital minyak dan gas global tersebut.

Hingga saat ini, pihak IRGC belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas kapal, bendera negara asal, maupun status nasib para awak kapal yang berada di dalamnya. Namun, pihak keamanan maritim telah memberikan peringatan keras kepada nelayan dan kapal-kapal lokal agar waspada terhadap puing-puing kontainer yang masih tersebar di jalur tersebut.

Di sisi lain, perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard, melaporkan adanya insiden serupa yang melibatkan kapal kontainer bernama GFS Pride berbendera Singapura. Berdasarkan laporan tersebut, kapal itu terkena proyektil pada Selasa (13/10) sebelum akhirnya tenggelam, meskipun belum dapat dipastikan apakah insiden ini merujuk pada peristiwa yang sama dengan yang dilaporkan oleh pihak Iran.

Situasi di Selat Hormuz saat ini memang tengah memanas dengan serangkaian insiden maritim yang terjadi secara beruntun. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat bahwa setidaknya dua kapal kontainer lainnya terkena serangan proyektil pada hari yang sama, namun mereka berhasil melanjutkan perjalanan meski mengalami kerusakan ringan.

Ketegangan di kawasan ini dipicu oleh aksi saling blokade antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi dunia. Mengingat seperlima dari total pasokan energi global biasanya melintasi jalur ini, setiap gangguan maritim yang terjadi memicu kekhawatiran internasional akan terganggunya distribusi komoditas strategis di tengah eskalasi konflik regional yang terus berlanjut di Timur Tengah.