kalselupdate.id — Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangkaian serangan udara ke Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, dalam kurun waktu sepekan terakhir. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas strategis, termasuk instalasi minyak milik perusahaan Aramco serta Bandara Internasional King Khalid, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan materiil yang cukup signifikan.
Aksi ofensif ini pertama kali terdeteksi pada Minggu (4/10), ketika kelompok tersebut mengklaim telah menargetkan fasilitas Aramco di Riyadh dengan rudal balistik dan pesawat nirawak. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer mereka untuk menekan pihak Arab Saudi. Insiden ini kemudian berlanjut ke sasaran sipil, termasuk bandara di Najran dan pangkalan udara di Khamis Mushait, sebelum puncaknya mengarah langsung ke Bandara Internasional Riyadh.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serangan yang berlangsung pada Kamis (8/10) telah mengenai pesawat komersial milik Saudia Airlines. Dampak dari serangan tersebut tidak hanya berupa kerusakan fisik pada pesawat, tetapi juga merenggut nyawa warga negara Saudi. Pihak maskapai secara resmi menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya salah satu pilot senior mereka, Kapten Hamoud Ali Alkalthami, saat bertugas di lokasi kejadian.
“Dengan kesedihan mendalam, Saudia mengumumkan meninggalnya Kapten Hamoud Ali Alkalthami,” tutur pernyataan resmi maskapai Saudia Airlines.
Situasi di bandara dilaporkan mencekam ketika serangan rudal kembali menghantam lokasi tersebut pada Sabtu (10/10). Para saksi mata di lokasi kejadian menceritakan suasana kepanikan saat mereka menunggu jadwal penerbangan. Ledakan terdengar di terminal penerbangan domestik, menyebabkan kerumunan penumpang berlarian mencari perlindungan di tengah kekacauan yang terjadi. Sejumlah orang dilaporkan mengalami luka-luka, dengan beberapa di antaranya harus segera dievakuasi menggunakan helikopter menuju rumah sakit terdekat akibat kondisi luka yang serius.
Data terbaru dari otoritas penerbangan sipil menunjukkan angka korban yang meningkat drastis hingga mencapai 12 orang tewas. Selain itu, sebanyak 309 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan, mulai dari luka ringan hingga cedera berat yang memerlukan penanganan intensif di unit perawatan rumah sakit. Sumber medis menyebutkan bahwa puluhan korban yang terluka mayoritas adalah warga negara Arab Saudi yang berada di area bandara saat serangan terjadi.
Menanggapi eskalasi keamanan yang memburuk, sejumlah negara asing seperti Inggris, Kanada, Jerman, Spanyol, dan Amerika Serikat segera mengeluarkan peringatan perjalanan. Mereka mengimbau warga negaranya untuk menjauhi area Bandara Riyadh dan mematuhi protokol keamanan lokal. Kedutaan Besar Spanyol secara khusus menegaskan bahwa peringatan tersebut dikeluarkan sebagai respons langsung atas serangan beruntun yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap fasilitas penerbangan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat pun menanggapi perkembangan konflik ini dengan serius. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan langkah lanjutan serta kemungkinan untuk memberikan dukungan kepada Arab Saudi dalam merespons serangan tersebut. Pemerintah AS menegaskan akan segera mengambil keputusan terkait posisi mereka dalam insiden ini setelah menerima laporan komprehensif mengenai serangan yang menghantam fasilitas sipil di Riyadh tersebut.
Hingga saat ini, otoritas Arab Saudi terus melakukan investigasi dan upaya pemulihan di lokasi-lokasi yang terdampak serangan. Belum ada pernyataan resmi lebih lanjut mengenai langkah balasan militer secara spesifik, namun situasi keamanan di sekitar bandara tetap berada dalam status pengawasan ketat. Masyarakat internasional terus memantau perkembangan di Riyadh menyusul tingginya angka korban jiwa dan ancaman stabilitas di kawasan tersebut.


