kalselupdate.id — Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto meninggal dunia dan telah dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu. Kepergian perwira tinggi purnawirawan yang pernah memimpin instansi militer tertinggi di tanah air tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar TNI serta seluruh masyarakat Indonesia.
Kabar duka mengenai meninggalnya mantan pejabat negara tersebut dikonfirmasi secara resmi oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul. Almarhum diketahui mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, meninggalkan warisan rekam jejak pengabdian yang sangat panjang bagi bangsa dan negara, baik di lingkungan kemiliteran maupun dalam jajaran pemerintahan sipil.
Prosesi pemakaman secara militer di TMP Kalibata berlangsung dengan suasana penuh khidmat dan mengharukan, dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang bertindak sebagai inspektur upacara. Rangkaian upacara pelepasan jenazah tersebut diwarnai dengan penghormatan terakhir dari pasukan militer, pembacaan doa bersama, hingga peletakan karangan bunga di atas pusara almarhum oleh pimpinan upacara dan perwakilan pihak keluarga yang berduka.
Sejumlah pejabat tinggi negara, tokoh nasional, serta mantan pemimpin bangsa tampak hadir secara langsung di lokasi TMP Kalibata untuk mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tampak hadir dalam deretan pelayat di antaranya Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Suyudi Ario Seto.
Dalam amanat penghormatan yang disampaikannya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas nama pribadi, seluruh prajurit TNI, serta bangsa dan negara. Ia menegaskan bahwa seluruh dedikasi, perjuangan, dan darma bakti yang telah ditunjukkan oleh almarhum Laksamana (Purn) Widodo AS sepanjang hayatnya akan terus dikenang dan dijadikan teladan moral bagi seluruh prajurit generasi penerus.
“Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri teladan bagi kita semua, dan arwahnya mendapat tempat yang semestinya di alam baka,” ucap Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Lebih lanjut, Jenderal Agus Subiyanto mengenang Laksamana (Purn) Widodo AS sebagai sosok pemimpin militer yang sangat profesional, bijaksana, dan menjadi figur panutan. Agus menceritakan kenangan pribadinya saat almarhum menjabat sebagai Panglima TNI, di mana saat itu dirinya masih meniti karier sebagai perwira berpangkat kapten hingga mayor yang senantiasa meneladani kepemimpinan almarhum.
Perjalanan karier militer Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto di matra laut bermula sejak dirinya mengakhiri masa pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL) dan lulus pada tahun 1968. Sebelum berhasil mencapai puncak pimpinan militer tertinggi di Indonesia, almarhum telah menduduki berbagai posisi strategis dan mengemban sederet amanah penting di jajaran TNI Angkatan Laut.
Karier kepemimpinannya terus melonjak hingga almarhum dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) pada kurun waktu 26 Juni 1998 hingga 17 Juli 1999. Memasuki fase transisi nasional pasca-reformasi pada tahun 1999, Presiden B.J. Habibie kemudian mempromosikan Laksamana Widodo AS untuk mengemban amanah sebagai Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Puncak karier kemiliterannya terukir pada Oktober 1999 ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara resmi melantik Laksamana Widodo AS sebagai Panglima TNI. Jabatan puncak tersebut diembannya hingga Juni 2002, yang sekaligus mencatatkan sejarah penting karena almarhum menjadi perwira tinggi pertama dari matra Angkatan Laut yang berhasil menduduki posisi Panglima TNI sepanjang sejarah berdirinya republik.
Setelah menyelesaikan pengabdian panjangnya di jajaran militer aktif dan memasuki masa pensiun dari TNI, kiprah kepemimpinan Laksamana (Purn) Widodo AS terus berlanjut di arena pemerintahan nasional. Pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, almarhum dipercaya mengemban tugas sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) sejak 21 Oktober 2004 sampai 20 Oktober 2009.
Dedikasi almarhum bagi tata kelola negara terus berjalan tatkala dirinya kembali diberikan amanah pada periode kedua pemerintahan Presiden SBY. Dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2014, Widodo AS dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) untuk memberikan pertimbangan dan masukan strategis terkait kebijakan tata negara serta keamanan nasional.
Ungkapan rasa duka mendalam atas kepergian almarhum juga datang dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang mengenang sosok Widodo AS sebagai pahlawan dan pelopor pemersatu tiga matra TNI. Sjafrie menyoroti peran krusial almarhum pada awal era reformasi dalam menjaga soliditas serta konsolidasi internal prajurit Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara di tengah gelombang perubahan politik negara.
Menurut penjelasan Sjafrie saat ditemui di rumah duka almarhum di Kompleks TNI AL, Jakarta Utara, Widodo AS pada masa-masa sulit pasca-1998 tanpa lelah turun langsung ke berbagai kawasan dan daerah. Almarhum secara aktif mengumpulkan jajaran pimpinan serta prajurit dari ketiga angkatan demi membakar semangat persatuan dan kesatuan TNI agar tetap solid mengawal transisi demokrasi nasional.
Sjafrie juga menceritakan kenangan profesionalnya saat pernah bertugas sebagai Staf Ahli Panglima di bawah kepemimpinan Laksamana Widodo AS di Mabes TNI. Ia menyebut almarhum merupakan tipe pemimpin yang sangat demokratis, tidak pernah mengambil keputusan secara sepihak, serta selalu mengedepankan diskusi mendalam bersama para stafnya melalui konsep yang sering disebut almarhum sebagai prinsip “pikir bareng”.
“Beliau menjadikan saya tangki pemikir untuk mengelola kebijakan-kebijakan dan strategi militer untuk pertahanan. Ada satu yang paling saya selalu ingat adalah ‘pikir bareng’. Jadi beliau tidak pernah berpikir sendiri,” kata Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Di samping kenangan kepemimpinannya di tubuh TNI, Sjafrie juga mengungkapkan bahwa almarhum Laksamana (Purn) Widodo AS memiliki hubungan emosional, psikologis, dan kerja sama yang sangat erat dengan Presiden Prabowo Subianto. Hubungan baik tersebut telah terjalin sejak lama, khususnya dalam merumuskan gagasan serta membangun pondasi kekuatan pertahanan Indonesia.
Sementara itu, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono usai menyampaikan ucapan belasungkawa kepada pihak keluarga almarhum menegaskan bahwa Laksamana Widodo AS adalah sosok patriot sejati. SBY menilai almarhum bukan sekadar prajurit dan pemimpin militer, melainkan seorang negarawan ulung yang telah memberikan sumbangsih serta jasa yang amat besar bagi keberlangsungan negara.
SBY menuturkan pengalaman dan kenangannya berjuang bersama almarhum sejak krisis multidimensi melanda Indonesia pada tahun 1998. Menurut SBY, Laksamana Widodo AS selalu menunjukkan sikap konsisten, bekerja tanpa kenal lelah, serta memiliki komitmen tegak lurus terhadap konstitusi dan panji Merah Putih dalam menjaga keutuhan serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rangkaian ucapan duka, penghormatan, serta kenangan dari berbagai elemen pimpinan bangsa menegaskan betapa besarnya jasa dan pengaruh yang telah ditinggalkan oleh Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto. Kepergian sosok pemimpin pemersatu ini tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi seluruh bangsa atas teladan kepemimpinan dan darma bakti yang telah diukir almarhum sepanjang hayatnya.


