kalselupdate.id — Gelombang unjuk rasa berskala besar kembali mengguncang sejumlah negara di Eropa sepanjang akhir pekan ini. Aksi protes yang terjadi di Prancis, Italia, hingga Portugal tersebut dipicu oleh berbagai tuntutan mendesak, mulai dari lonjakan biaya hidup yang menekan ekonomi rumah tangga hingga krisis ketersediaan perumahan yang semakin memburuk bagi kelompok muda. Situasi di lapangan diwarnai dengan ketegangan antara demonstran dan pihak kepolisian, yang berujung pada penangkapan di sejumlah titik aksi demi menjaga stabilitas keamanan publik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di Prancis, aksi demonstrasi tercatat melibatkan ratusan ribu peserta yang tersebar di berbagai wilayah. Data dari kepolisian setempat menyebutkan setidaknya 410 ribu orang turun ke jalan pada Sabtu (24/10), sementara pihak Konfederasi Umum Buruh (CGT) memberikan estimasi angka yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai hampir 800 ribu orang di seluruh negeri. Meskipun banyak aksi berlangsung sebagai bentuk protes atas kondisi ekonomi, kericuhan tidak terhindarkan di ibu kota Paris, terutama di kawasan Cours de Vincennes, di mana tercatat lebih dari 500 orang terlibat dalam konfrontasi fisik dengan aparat kepolisian.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyatakan bahwa hingga Sabtu siang, pihak kepolisian telah mengamankan setidaknya 135 orang di Paris saja, dengan total penangkapan nasional mendekati angka 1.000 orang. Ia mencatat bahwa meskipun terdapat insiden perusakan fasilitas dan penjarahan, situasi secara keseluruhan masih dinilai lebih terkendali dibandingkan dengan rangkaian aksi pada pekan sebelumnya. Pemerintah Prancis sendiri telah mengerahkan sekitar 70 ribu personel kepolisian untuk memastikan keamanan di titik-titik rawan demonstrasi.

“Kami tidak puas dengan hasil pembicaraan yang telah dilakukan sebelumnya,” tegas Nathanael Combary, perwakilan siswa sekolah menengah yang turut dalam aksi tersebut.

Aksi di Prancis bermula dari gerakan siswa sekolah menengah yang memprotes kondisi sistem pendidikan, namun kemudian berkembang luas menjadi gerakan massa akibat kemarahan publik terhadap inflasi biaya hidup. Para perwakilan siswa rencananya akan kembali menempuh jalur dialog dengan Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Senin (26/10) untuk menuntut langkah konkret dari pemerintah terkait aspirasi mereka.

Sementara itu, suasana serupa juga terjadi di Italia. Gelombang demonstrasi meletus di berbagai kota besar seperti Turin, Roma, dan Bologna pada hari yang sama. Para pengunjuk rasa di Italia secara spesifik menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan dalam konflik bersenjata serta memprotes kenaikan biaya hidup yang kian mencekik rakyat. Meskipun sebagian aksi di Milan berlangsung damai, pemerintah Italia tetap memperketat pengamanan dan mengantisipasi potensi kerusuhan setelah seruan aksi beredar luas melalui berbagai platform media sosial.

Di Portugal, perhatian masyarakat tertuju pada isu krisis perumahan yang kian parah. Polisi terpaksa membubarkan kamp protes yang didirikan oleh demonstran di pusat kota Lisbon pada Minggu (24/10) dini hari. Sebelumnya, ribuan orang telah melakukan aksi damai di jalan-jalan utama ibu kota dan mendirikan lebih dari 100 tenda di Alun-alun Rossio sebagai simbol kesulitan rakyat dalam mendapatkan hunian yang layak dengan harga terjangkau.

Krisis perumahan di Portugal dinilai sebagai salah satu yang terburuk di Eropa saat ini. Data menunjukkan bahwa harga properti di negara tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2017, sementara biaya sewa untuk kontrak baru juga mengalami lonjakan serupa. Dampak dari krisis ini sangat dirasakan oleh generasi muda, yang merasa masa depan mereka terancam oleh ketimpangan ekonomi dan spekulasi harga properti yang tidak terkendali.

Salah satu mahasiswa peserta aksi, Vitor Gomes, menyatakan bahwa keterlibatan kaum muda dalam demonstrasi ini merupakan bentuk kewajiban untuk memperjuangkan masa depan. Ia menyoroti bahwa pemusatan kekayaan dan ketimpangan sosial menjadi faktor utama yang memicu kepesimisan publik. Meskipun aparat telah memberikan peringatan sebelumnya, para demonstran tetap bertahan hingga akhirnya polisi melakukan pembubaran paksa dan sejumlah penangkapan di lokasi perkemahan tersebut.

Pihak berwenang di negara-negara tersebut kini menghadapi tantangan besar dalam meredam ketidakpuasan publik. Selain pengerahan aparat keamanan, pemerintah masing-masing negara dituntut untuk segera memberikan solusi kebijakan yang nyata guna mengatasi akar permasalahan ekonomi yang menjadi penyebab utama gelombang protes ini agar stabilitas nasional dapat kembali terjaga.