kalselupdate.id — Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA dilaporkan telah menyusun sebuah dokumen rahasia yang memprediksi potensi keruntuhan Israel akibat ancaman perang saudara dari dalam negeri. Laporan rahasia bertajuk “Fracture From Within” tersebut dirilis oleh unit analisis khusus Red Cell CIA pada Agustus lalu, di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dokumen sensitif ini pertama kali diungkap ke publik oleh media investigasi Drop Site News yang berbasis di Amerika Serikat, dengan mengutip keterangan dari dua sumber resmi pemerintahan. Informasi mengenai analisis intelijen tersebut kemudian disebarluaskan lebih lanjut oleh media Middle East Monitor pada Rabu pekan ini, memicu perhatian internasional mengenai stabilitas internal sekutu terdekat Washington di kawasan tersebut.

Laporan ini disusun oleh Red Cell CIA, sebuah unit khusus yang bertugas melakukan penilaian dan analisis berwawasan ke depan di luar kerangka kerja konvensional lembaga intelijen tersebut. Unit ini didesain untuk menantang asumsi-asumsi umum serta mendeteksi adanya fenomena pemikiran kelompok yang seragam atau titik buta yang sering kali luput dari perhatian para pengambil kebijakan di Washington.

Dalam dokumen tersebut, para pakar intelijen menyoroti kombinasi berbagai tekanan sosial dan politik yang kian memanas menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Faktor utama yang memicu keretakan domestik ini meliputi krisis ekonomi yang kian mendalam serta pembengkakan anggaran belanja militer secara drastis akibat perang di berbagai front.

Selain masalah finansial, laporan rahasia tersebut juga menyoroti dampak psikologis dari kembalinya para veteran militer dari medan pertempuran yang berkepanjangan di Jalur Gaza, Lebanon, hingga ketegangan langsung dengan Iran. Banyak di antara prajurit yang kembali tersebut dilaporkan mengalami trauma psikologis yang parah, yang berpotensi memicu ketegangan sosial baru di tengah masyarakat sipil.

Isu sensitif lain yang memicu kemarahan publik luas di Israel adalah pengecualian wajib militer bagi pria Yahudi ultra-Ortodoks atau kelompok Haredi. Kebijakan ini dinilai tidak adil oleh kelompok sekuler yang harus menanggung beban pertempuran, sehingga memperlebar jurang pemisah antarkelompok masyarakat dan menciptakan gesekan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tekanan internal tersebut semakin diperparah oleh meningkatnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pemukim Yahudi ekstremis terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Di tingkat elit politik, langkah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya juga dinilai telah memicu krisis konstitusional yang memperlemah institusi demokrasi di negara tersebut.

Menariknya, hasil penilaian mendalam dari badan intelijen Amerika Serikat ini dilaporkan hanya berfokus pada dinamika populasi warga Yahudi di Israel saja. Analisis tersebut sama sekali tidak memperhitungkan keberadaan warga Arab-Israel yang mencakup sekitar 20 persen dari total populasi keseluruhan negara, yang dinilai beberapa pengamat dapat memengaruhi akurasi prediksi tersebut.

Hingga saat ini, pihak CIA di Washington masih enggan memberikan tanggapan resmi mengenai kebocoran dokumen analisis rahasia tersebut kepada publik. Pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu juga belum memberikan pernyataan formal terkait prediksi intelijen sekutu utamanya yang menyebut adanya potensi perang saudara di negara mereka.