kalselupdate.id — Presiden Prabowo Subianto merespons cepat kendala penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Bantuan berupa 200 unit pompa air dan anggaran sebesar Rp2 miliar segera dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman yang saat ini tengah dilakukan oleh aparat di lapangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, sebelumnya melaporkan situasi terkini di lapangan kepada Presiden Prabowo pada Selasa (13/10/2026). Ia menjelaskan bahwa upaya pemadaman menghadapi tantangan berat karena titik api tersebar di area rawa yang sulit dijangkau oleh kendaraan darat. Selain medan yang berat, para petugas di lapangan juga harus tetap waspada terhadap keberadaan hewan buas yang masih menghuni kawasan hutan tersebut.

“Karena memang mobil itu tidak bisa masuk, kita hanya kekurangan pompa-pompa kecil Bapak. 50 cukup Bapak, karena di Kalimantan sini terbatas mungkin dari Jawa dikirim,” ungkap Mayjen TNI Zainul Arifin.

Menanggapi laporan tersebut, Presiden Prabowo langsung memberikan instruksi tegas untuk melampaui permintaan awal dari pihak militer. Presiden memutuskan untuk mengirimkan 200 unit pompa air guna memastikan cakupan pemadaman yang lebih luas dan efektif di seluruh titik api yang terpencar.

Selain bantuan logistik berupa pompa, pemerintah juga memberikan dukungan pendanaan untuk pembuatan sumur bor di wilayah rawan kebakaran. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pencegahan dan penanggulangan jangka pendek agar petugas dapat memiliki akses air yang lebih dekat dengan lokasi titik api. Presiden mengalokasikan dana sebesar Rp2 miliar untuk pembuatan 200 titik sumur bor, dengan harapan pengerjaannya dapat melibatkan masyarakat setempat.

Pemberdayaan warga lokal dalam pembuatan sumur bor ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi daerah sekaligus mempercepat kesiapan infrastruktur pemadaman. Pihak TNI yang bertugas di lapangan pun menyambut baik dukungan anggaran tersebut, mengingat biaya per satu titik sumur bor diperkirakan mencapai Rp10 juta. Dengan adanya 200 titik baru, akses air diharapkan tidak lagi menjadi penghambat utama dalam operasi pendinginan lahan yang terbakar.

Presiden menekankan bahwa penanganan karhutla di Tanjung Puting merupakan prioritas yang harus dilakukan secara maksimal. Ia meminta seluruh jajaran terkait untuk terus berkoordinasi guna memastikan tidak ada lagi penyebaran titik api yang meluas. Kecepatan dalam tindakan preventif di lapangan dinilai menjadi kunci utama untuk melindungi ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting dari kerusakan yang lebih parah akibat musibah kebakaran.

Hingga saat ini, tim di lapangan terus melakukan pemantauan intensif di lokasi-lokasi yang masih dalam tahap pendinginan. Meskipun kondisi medan cukup menantang dan cuaca di wilayah rawa sering kali tidak menentu, dukungan peralatan yang memadai dari pemerintah pusat diyakini akan meningkatkan moral dan efektivitas kerja para personel yang bertugas di garis depan pemadaman karhutla tersebut.