kalselupdate.id — Pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, kembali memutuskan untuk meliburkan seluruh aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah selama lima hari terhitung mulai Senin akibat kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan dari Indonesia yang dinilai kian membahayakan kesehatan masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Langkah penutupan operasional lembaga pendidikan tersebut ditetapkan seusai dilaksanakannya rapat koordinasi Komite Penanganan Bencana Kabut Asap Johor pada Sabtu siang. Keputusan mendesak ini diambil menyusul laporan pemantauan kualitas udara terkini yang memperlihatkan angka Indeks Pencemaran Udara masih bertahan pada level yang sangat mengkhawatirkan tanpa menunjukkan adanya pemulihan signifikan.

Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negara Bagian Johor, Muhammad Naqib Md Ghazali, menyatakan bahwa durasi perpanjangan masa penutupan sekolah ke depan akan terus diselaraskan dengan fluktuasi mutu udara harian, estimasi cuaca dari otoritas meteorologi, serta hasil telaah risiko medis yang dilakukan oleh instansi kesehatan setempat.

Kebijakan penghentian sementara kegiatan tatap muka di institusi pendidikan ini diambil selaras dengan instruksi langsung dari Pemangku Raja Johor, Tunku Mahkota Ismail. Arahan tersebut menegaskan tekad kuat otoritas pemerintahan wilayah bagian dalam memprioritaskan keselamatan fisik serta perlindungan kesehatan para pelajar dan masyarakat luas dari dampak pencemaran.

Selama gerbang sekolah ditutup untuk sementara waktu, seluruh agenda pembelajaran tidak serta-merta ditiadakan. Para siswa diwajibkan beralih mengikuti sistem pengajaran dan pembelajaran di rumah atau yang dikenal dengan metode Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah, merujuk pada ketentuan teknis Manual PdPR Versi 2.0 yang telah diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia.

Otoritas pendidikan setempat tetap memberikan ruang dispensasi yang sangat terbatas bagi peserta didik tingkat akhir yang dijadwalkan menempuh agenda ujian maupun evaluasi resmi. Pengecualian ini hanya dapat dijalankan melalui izin terkoordinasi dari Departemen Pendidikan Negara Bagian Johor dengan penerapan protokol kesehatan yang amat ketat di lingkungan kelas.

Departemen Pendidikan Johor menegaskan larangan keras terhadap segala bentuk kegiatan tambahan di luar sesi ujian yang telah disetujui. Petugas berwenang akan mengevaluasi pelaksanaan prosedur standar operasi setiap hari dan terus menjalin komunikasi intensif bersama lembaga penguji kementerian untuk menyusun kembali kalender penilaian bagi institusi sekolah negeri serta madrasah keagamaan.

Menghadapi situasi udara yang tercemar parah, masyarakat diimbau dengan sangat untuk mengenakan masker saat berada di ruang terbuka dan mematuhi seluruh instruksi mitigasi medis. Instansi kesehatan setempat telah membunyikan alarm peringatan terkait ancaman gangguan pernapasan serius apabila warga menghirup partikel polutan dalam kurun waktu yang lama secara terus-menerus.

Tindakan perlindungan ekstra ditekankan secara khusus bagi anak-anak usia dini, kaum lansia, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan. Kekhawatiran tersebut beralasan mengingat sepanjang bulan Oktober ini tercatat sebanyak 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas melanda Johor, yang memperlihatkan peningkatan tajam sebesar 20,7 persen hanya dalam rentang waktu sepekan.

Gelombang penghentian aktivitas sekolah kali ini memperpanjang rangkaian penutupan yang terjadi sepanjang bulan ini. Sebelumnya, otoritas setempat telah memerintahkan penghentian aktivitas persekolahan selama dua hari sejak 8 Oktober, yang kemudian berlanjut dengan masa perpanjangan selama lima hari terhitung mulai 12 Oktober akibat minimnya perbaikan atmosfer udara.

Berdasarkan data Sistem Manajemen Indeks Pencemaran Udara dari Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, kawasan Pasir Gudang di Johor menjadi wilayah dengan tingkat keparahan tertinggi di tingkat nasional setelah menyentuh indeks 190 pada Minggu pagi. Angka tersebut menempatkan kawasan industri dan permukiman itu langsung ke dalam kategori udara tidak sehat.

Negara Bagian Johor tercatat sebagai area yang menanggung dampak paling parah di semenanjung, di mana delapan stasiun pemantau resmi secara serentak melaporkan kualitas udara buruk. Selain Pasir Gudang, tingkat polusi yang mengkhawatirkan terpantau di Larkin dan Kota Tinggi yang sama-sama menyentuh indeks 181, disusul Pengerang pada angka 178, Batu Pahat 169, Kluang 163, Tangkak 160, dan Segamat dengan capaian 157.

Penurunan kualitas atmosfer akibat sebaran partikel kabut asap karhutla ini juga merambah ke kawasan Lembah Klang dan sekitarnya, kendati wilayah tersebut sempat diguyur hujan dengan intensitas lebat beberapa waktu sebelumnya. Indeks pencemaran di Johan Setia tercatat berada di level 163, Shah Alam pada skala 161, Klang berada di posisi 159, Petaling Jaya bertengger di angka 157, serta Banting mencatat 156.

Kondisi tidak sehat serupa turut membayangi wilayah ibu kota dan pusat administrasi pemerintahan federal Malaysia. Stasiun pencatat di Cheras mendeteksi indeks 156, kawasan Batu Muda menunjukkan angka 155, sementara pusat pemerintahan Putrajaya berada pada level 159. Berdasarkan acuan resmi otoritas lingkungan Malaysia, skala angka 101 hingga 200 tergolong ke dalam kategori tidak sehat, sedangkan angka yang melampaui ambang batas 200 resmi masuk dalam klasifikasi sangat tidak sehat bagi kelangsungan hidup manusia.