kalselupdate.id — Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bergerak cepat mengevakuasi seekor orang utan yang ditemukan berjalan kebingungan di kawasan kilometer 14 ruas Jalan Pangkalan Bun-Kolam, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Satwa yang dilindungi tersebut menarik perhatian warga sekitar dan pengguna jalan setelah terlihat melintas dengan pergerakan yang tidak wajar di area yang sempat terdampak kebakaran lahan.
Kemunculan primata bertubuh besar di sekitar perintisan jalan antarwilayah ini memicu kekhawatiran masyarakat. Gerakan orang utan yang tampak lemas dan canggung mengindikasikan adanya rasa tidak nyaman serta potensi gangguan kesehatan yang dialami satwa tersebut. Berada di tepi jalan raya yang padat lalu lintas, situasi tersebut dinilai membahayakan keselamatan orang utan maupun pengendara yang melintas.
Proses pengamanan satwa langka ini melibatkan tim gabungan dari petugas konservasi setempat beserta aparat pemerintah kecamatan. Sebelum tindakan evakuasi dilakukan, tim di lapangan terlebih dahulu melakukan pemantauan ketat selama kurang lebih dua jam untuk memastikan pergerakan serta kondisi sekeliling tempat keberadaan orang utan agar proses penyelamatkan berjalan aman.
“Setelah mengintai selama dua jam, akhirnya orang utan yang terlihat beberapa hari lalu di kilometer 14 ruas Jalan Pangkalan Bun-Kolam berhasil dievakuasi bersama tim BKSDA Kalteng,” kata Camat Kotawaringin Lama, Trias Agung Wibowo.
Trias menjelaskan bahwa laporan mengenai keberadaan orang utan di sekitar lokasi bekas kebakaran lahan tersebut telah beredar sejak beberapa hari sebelumnya. Warga yang melintas kerap melihat satwa itu berada di pinggir jalan dan kebingungan mencari arah, hingga akhirnya penanganan secara medis dan konservasi disiapkan oleh pihak berwenang.
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka, menyampaikan bahwa penanganan langsung oleh petugas profesional sangat krusial agar orang utan dapat diamankan sesuai standar operasional yang berlaku tanpa melukainya.
“Penanganan oleh petugas konservasi diperlukan agar satwa dapat diamankan dengan prosedur yang tepat. Langkah selanjutnya terhadap orang utan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan serta lokasi yang aman bagi satwa,” terang Handi Nasoka.
Setelah berhasil ditenangkan dan dievakuasi dari kawasan jalan raya, orang utan tersebut langsung dibawa oleh tim BKSDA Kalimantan Tengah untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Tim medis satwa akan memastikan apakah individu orang utan tersebut mengalami luka, dehidrasi, atau trauma fisik akibat kehilangan habitat alaminya pasca-kejadian kebakaran lahan di area sekitar.
Tahapan pemeriksaan medis menjadi penentu utama dalam mengambil keputusan lanjutan terhadap masa depan satwa liar tersebut. Jika kondisi kesehatannya dinyatakan stabil dan memungkinkan, pihak BKSDA Kalteng akan merencanakan proses pelepasliaran kembali ke habitat alami yang jauh dari pemukiman warga serta jalan raya utama demi menjamin kelangsungan hidupnya.
Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan indikasi trauma berat atau gangguan fisik yang membutuhkan perawatan intensif, orang utan ini akan menjalani masa rehabilitasi terlebih dahulu di pusat penyelamatan satwa. Penanganan ini dilakukan guna memastikan bahwa konflik antara satwa liar dan manusia di area bekas kebakaran dapat diminimalisasi secara efektif.


