kalselupdate.id — Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan pemerintahannya saat ini tengah melakukan investigasi menyeluruh terhadap perusahaan yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia. Dampak dari kebakaran tersebut telah menyebabkan kabut asap pekat menyelimuti wilayah Singapura dalam beberapa hari terakhir, yang memicu penurunan kualitas udara secara drastis di negara tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam langkah tegasnya, Singapura menegaskan akan menggunakan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas atau Transboundary Haze Pollution Act untuk menindak pihak-pihak yang terlibat. Aturan yang mulai berlaku sejak September 2014 ini memberikan wewenang kepada otoritas Singapura untuk mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan, meskipun kegiatan operasional atau lokasi kebakaran tersebut berada di luar wilayah teritorial Singapura.

“Jika diperlukan, kami akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas Singapura, serta menjajaki langkah bersama dengan negara-negara lain,” tegas Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.

Situasi kualitas udara di Singapura tercatat mencapai titik terburuk pada Rabu lalu, dengan tingkat PM 2.5 per jam di wilayah barat sempat menyentuh angka 288. Catatan tersebut menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2015. Selain itu, Indeks Standar Polusi atau PSI 24 jam juga sempat mencapai angka 212 pada Kamis lalu, yang menandai rekor tertinggi baru sepanjang tahun ini.

Lawrence Wong menjelaskan bahwa kondisi kabut asap saat ini diperparah oleh fenomena musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya. Meski pemerintah Singapura menyadari keterbatasan dalam mengendalikan faktor cuaca maupun pergerakan angin yang membawa asap melintasi perbatasan, mereka tetap berkomitmen untuk melakukan segala upaya perlindungan bagi warganya. Pemerintah saat ini telah menyalurkan masker N95 secara gratis kepada kelompok warga yang rentan serta menyediakan tempat berlindung berpendingin udara di berbagai pusat komunitas.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, menambahkan bahwa pihaknya terus mengumpulkan data dan meninjau situasi di lapangan sebelum memutuskan langkah hukum lebih lanjut. Pemerintah Singapura juga telah menawarkan bantuan teknis kepada pihak Indonesia guna membantu upaya pemadaman api di titik-titik kebakaran hutan. Tawaran tersebut tetap terbuka sebagai bagian dari upaya kerja sama erat antarnegara di kawasan ASEAN dalam menangani akar masalah kabut asap secara kolektif.

Pemerintah Singapura menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan dukungan logistik dan perlindungan kesehatan bagi masyarakat tetap tersedia di tengah memburuknya kualitas udara. Pihak otoritas menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan bahwa mereka yang berkontribusi terhadap pencemaran udara lintas batas dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di negara tersebut.

Upaya diplomasi juga terus dilakukan untuk memastikan koordinasi yang efektif dengan negara tetangga. Fokus Singapura saat ini tidak hanya pada mitigasi dampak jangka pendek bagi kesehatan warga, tetapi juga pada penyelesaian masalah kebakaran hutan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas batas yang lebih intensif di masa mendatang.