kalselupdate.id — Layanan perbankan dan infrastruktur keuangan di sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia, hingga Prancis mengalami gangguan sistemik dan serangan siber secara bersamaan dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa ini memicu kelumpuhan operasional pada ribuan kantor cabang dan mesin anjungan tunai mandiri (ATM), sekaligus memicu kekhawatir global terkait tingkat kerentanan keamanan siber sektor finansial internasional.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di Jepang, sebanyak 128 bank kredit daerah atau shinkin bank yang beroperasi di wilayah barat kawasan Tokai mendadak tidak dapat diakses sejak Kamis pukul 13.30 waktu setempat. Gangguan massal pada jaringan perbankan komunitas tersebut mengakibatkan nasabah tidak bisa melakukan penarikan uang tunai, penyetoran, maupun transaksi perbankan secara digital melalui saluran internet banking.

Shinkin Central Bank selaku pengelola dan pengoperasi sistem inti jaringan bank shinkin mengonfirmasi bahwa kendala teknis tersebut berdampak luas pada seluruh fasilitas layanan fisik maupun digital. Penghentian operasional terpaksa dilakukan pada sedikitnya 3.430 lokasi kantor cabang dan mesin ATM yang tersebar di wilayah Jepang bagian barat demi menghindari gangguan sistem yang lebih parah.

Pihak pengelola mengungkapkan bahwa kelumpuhan jaringan perbankan di Jepang bermula dari kegagalan komunikasi teknis pada peralatan utama yang ditempatkan di West Japan Centre. Meskipun layanan terhenti total tanpa kepastian waktu pemulihan, Shinkin Central Bank memastikan belum menemukan adanya indikasi akses tanpa izin maupun serangan siber luar dalam insiden teknis tersebut.

Berbeda dengan insiden kendala teknis yang terjadi di Jepang, sektor perbankan di Malaysia justru secara terang-terangan menjadi sasaran peretasan oleh pihak luar. Situs web resmi milik Bank Rakyat dilaporkan mengalami serangan siber yang mengubah tampilan halaman utama atau defacement, khususnya pada platform yang dikelola oleh penyedia jasa pihak ketiga.

Menteri Komunikasi Malaysia sekaligus Juru Bicara Pemerintah Madani, Datuk Seri Fahmi Fadzil, mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mengidentifikasi serangkaian gelombang serangan siber yang diluncurkan oleh aktor non-negara terhadap infrastruktur informasi negara tersebut.

“Kami telah mengidentifikasi upaya serangan siber oleh aktor non-negara, termasuk peretasan. Namun, sejauh ini tidak ada pencurian data ataupun gangguan terhadap sistem perbankan daring,” ujar Menteri Komunikasi Malaysia Datuk Seri Fahmi Fadzil.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, manajemen Bank Rakyat segera mengambil langkah tegas dengan memblokir penuh akses menuju server yang terdampak. Seluruh lalu lintas nasabah yang hendak mengakses layanan keuangan digital langsung dialihkan secara aman ke portal i-Rakyat, sebuah situs perbankan resmi yang dimiliki dan dikelola secara penuh oleh pihak bank.

Sementara itu di Benua Eropa, kejahatan siber sektor keuangan menelan kerugian materi yang sangat signifikan setelah sebuah bank regional di Prancis, Credit Mutuel Arkea, menjadi korban kejahatan peretasan. Para pelaku berhasil menembus benteng keamanan sistem internal bank dan mentransfer dana dalam jumlah besar hingga melebihi 100 juta euro ke sejumlah rekening penampung.

Kendati mengalami kebobolan dana dalam jumlah fantastis, otoritas perbankan memastikan bahwa seluruh simpanan dan dana milik nasabah berada dalam kondisi aman tanpa tersentuh oleh peretas. Pihak manajemen bank bersama kepolisian setempat juga bergerak cepat hingga berhasil melacak serta memulihkan sebagian dari dana puluhan juta euro yang sempat dialihkan tersebut.

Presiden Confederation Nationale du Credit Mutuel (CNCM), Daniel Baal, menyatakan bahwa unit khusus pemberantasan kejahatan siber Kepolisian Prancis kini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengusut tuntas jaringan pelaku di balik peretasan sistem Credit Mutuel Arkea tersebut.

“Kami menghadapi serangan siber setiap hari. Untungnya, sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya, berhasil digagalkan,” tegas Presiden CNCM Daniel Baal.

Ancaman siber di kawasan Eropa ternyata tidak hanya membidik lembaga perbankan, melainkan juga merembet ke sektor ritel dan distribusi logistik. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, jaringan supermarket di sedikitnya sembilan negara Eropa turut mengalami gangguan sistem hebat akibat serangan siber yang terencana secara matang.

Pemerintah Uni Eropa mengeluarkan peringatan keras mengenai adanya upaya sistematis dan disengaja dari pihak tertentu untuk mengacaukan rantai pasokan pangan masyarakat di kawasan tersebut. Di tengah tuduhan dan kecurigaan yang mengarah pada keterlibatan kelompok peretas, pemerintah Rusia secara tegas membantah tudingan tersebut dan menyatakan tidak terlibat dalam gangguan siber yang melanda Eropa.