kalselupdate.id — Sebuah serangan bersenjata terjadi saat berlangsungnya upacara pemakaman di sebuah gereja di wilayah Karak, Yordania, pada Sabtu (24/10/2026). Insiden mematikan tersebut menewaskan tujuh orang dan menyebabkan sedikitnya 40 orang lainnya mengalami luka-luka, dalam sebuah peristiwa yang dikategorikan oleh pihak berwenang sebagai aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok ekstremis.
Kepala Direktorat Keamanan Publik Yordania, Mayor Jenderal Abdallah al-Maaytah, dalam keterangannya di hadapan pers mengungkapkan bahwa mayoritas korban luka saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hingga saat ini, aparat keamanan terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang melarikan diri setelah melancarkan serangan brutal tersebut.
Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazin Al Farrayeh, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan kelompok ekstremis, meski pemerintah belum dapat memastikan apakah pelaku memiliki afiliasi dengan jaringan militan tertentu di dalam maupun luar negeri. Yordania selama ini dikenal sebagai negara yang stabil di kawasan Timur Tengah, sehingga serangan terhadap kelompok minoritas Kristen ini dianggap sebagai peristiwa yang sangat langka dan mengejutkan publik.
“Serangan teroris terhadap Karak akan dibalas dengan tindakan yang paling keras. Mereka yang berkhayal bisa memecah belah rakyat Yordania dengan peluru mereka tidak akan memiliki peluang di hadapan persatuan kita,” tegas Raja Abdullah dari Yordania.
Raja Abdullah sendiri telah mengunjungi lokasi kejadian di Karak beberapa jam pascaserangan untuk meninjau situasi secara langsung. Dukungan penuh terhadap penegakan hukum ditegaskan oleh sang raja, yang berjanji akan menghukum para pelaku dengan tangan besi guna memastikan keamanan tetap terjaga di seluruh wilayah kerajaan.
Rekaman kamera pengawas yang ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah, Al-Mamlaka, memperlihatkan detik-detik saat tiga orang pelaku melepaskan tembakan dari trotoar sambil berlindung di balik pepohonan. Dalam video tersebut, para pelaku terlihat berlari menuju pintu masuk gereja sebelum melancarkan aksi penembakan yang membabi buta terhadap para pelayat yang hadir.
Saksi mata di lokasi kejadian, Ihab Ammareen, menceritakan kengerian yang terjadi saat ia melihat banyak orang berjatuhan dengan kondisi bersimbah darah. Menurutnya, situasi di lokasi saat itu dipenuhi dengan jeritan dan ratapan para pelayat yang tidak menyangka pemakaman tersebut akan berubah menjadi tragedi berdarah dalam hitungan menit.
Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan, turut menyampaikan kecaman keras atas insiden ini melalui platform media sosial X. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan ideologi ekstremisme yang buta merusak tatanan masyarakat Yordania yang selama ini hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, juga angkat bicara melalui pernyataan resmi. Ia mengutuk keras tindakan kekerasan tersebut dan menegaskan bahwa segala bentuk serangan terhadap warga sipil maupun rumah ibadah merupakan tindakan yang tidak dapat diterima oleh komunitas internasional dalam kondisi apa pun.
Di rumah sakit pemerintah di Karak, warga setempat berkumpul untuk memberikan dukungan moral dan bantuan kepada para korban luka. Banyak dari mereka mengungkapkan rasa duka yang mendalam serta mendesak pemerintah untuk menyelidiki akar permasalahan paham radikal yang bisa memicu tindakan keji tersebut di tengah masyarakat.
Sebagai sekutu utama Amerika Serikat, Yordania selama ini dikenal sebagai mitra strategis dalam upaya pemberantasan kelompok militan di kawasan. Meski beberapa kali berhasil menggagalkan rencana serangan, insiden di gereja ini menjadi tantangan besar bagi aparat keamanan negara tersebut dalam memetakan potensi ancaman ekstremisme yang masih mengintai.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, turut mengutuk peristiwa tersebut dan menyebutnya sebagai serangan yang keji terhadap sebuah rumah ibadah. Sejauh ini, belum ada pihak atau kelompok mana pun yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, sementara aparat keamanan Yordania terus memperketat pengawasan di titik-titik krusial di seluruh negeri.


