kalselupdate.id — Pasar saham global mengalami gelombang aksi jual tajam sepanjang pekan ini akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap masa depan industri kecerdasan buatan atau AI. Sentimen negatif ini mencuat menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela atau midterm di Amerika Serikat, yang diprediksi akan memicu pengetatan regulasi terhadap sektor teknologi. Padahal sebelumnya, Presiden Donald Trump sempat menyatakan dukungan penuh bagi ekspansi industri AI tanpa regulasi ketat, bahkan menyebut isu keamanan AI sebagai sebuah bentuk kekhawatiran yang tidak berdasar.
Dampak dari sentimen tersebut terlihat jelas pada perdagangan Kamis (5/11) di bursa Amerika Serikat, di mana indeks Nasdaq tercatat anjlok sebesar 6,4 persen, yang menjadi penurunan harian terdalam sejak Maret 2020. Tidak hanya itu, indeks semikonduktor SOX juga tertekan cukup dalam dengan koreksi mencapai 12 persen. Gejolak serupa merembet hingga ke bursa Asia, di mana indeks Kospi di Korea Selatan sempat mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada Jumat (6/11) akibat penurunan drastis sebesar 8,8 persen, sebelum akhirnya ditutup dengan koreksi 5,3 persen.
Kondisi pasar yang tidak menentu ini juga berdampak signifikan terhadap komoditas yang menjadi penopang utama industri AI. Harga tembaga, sebagai bahan baku vital untuk pusat data, turun sebesar 1,2 persen ke level 13.843 dolar AS per ton pada Kamis (5/11), menandai level terendah sejak Juli. Senada dengan tembaga, harga timah juga mencatatkan penurunan sebesar 3,2 persen pada hari yang sama. Tren penurunan harga komoditas ini dikhawatirkan akan membebani kinerja emiten tambang seperti Amman Mineral Internasional, Merdeka Copper Gold, serta PT Timah Tbk.
Di tengah tekanan global, pasar saham India menunjukkan ketahanan dengan kenaikan hampir 7 persen pada pekan ini. Para analis menyoroti posisi India yang diuntungkan sebagai strategi anti-AI karena memiliki eksposur domestik yang dominan serta diuntungkan oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu AS juga membawa ekspektasi baru terkait berakhirnya konflik di Iran, yang berpotensi menekan harga energi lebih lanjut dan memberikan ruang bagi pasar domestik di negara berkembang.
Sementara itu, perkembangan di sektor pertambangan mineral Indonesia turut menjadi perhatian pemerintah. Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengungkapkan rencana tiga perusahaan smelter besar untuk memangkas produksi pada tahun 2027 guna merespons kondisi kelebihan pasokan atau oversupply di pasar global.
“Penurunan volume produksi pada 2027 bisa jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya guna membuka peluang pemulihan harga seiring kondisi oversupply di pasar global,” tegas Cecep Mochammad Yasin.
Langkah efisiensi tersebut akan dilakukan oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. yang berencana memangkas produksi hingga 50 persen di smelter Sulawesi Tenggara, serta diikuti oleh Trimegah Bangun Persada dan Tsingshan Holding Group. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian permintaan komoditas mineral dunia.
Di sisi lain, kebijakan makro ekonomi nasional juga tengah mengalami penyesuaian. Pemerintah berencana mendefinisikan ulang peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai perantara tunggal dalam ekspor, bukan sebagai eksportir tunggal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan transaksi komersial oleh eksportir, sementara badan tersebut akan menjalankan fungsi pengawasan dokumen kontrak. Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 sedang difinalisasi untuk memastikan ekspor komoditas utama seperti kelapa sawit dan batu bara tetap berjalan lancar setelah akhir tahun 2026.
Selain penyesuaian peran eksportir, pemerintah juga berencana menaikkan batas konversi devisa hasil ekspor sumber daya alam ke dalam rupiah menjadi 100 persen. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa dan stabilitas moneter nasional. Bank Indonesia juga telah memperluas daftar bank yang dapat menerima devisa hasil ekspor dengan memasukkan Bank OCBC NISP, sehingga kini terdapat 16 bank yang melayani kebutuhan tersebut di tengah dinamika ekonomi global yang terus menantang.


