kalselupdate.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah setelah sempat mencatatkan penguatan pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026), indeks ditutup di level 5.098,06, yang mencerminkan penurunan tajam sebesar 184,26 poin atau setara dengan 3,49 persen.
Aktivitas perdagangan sepanjang hari itu mencatatkan volume transaksi mencapai 217,69 juta lot. Sementara itu, total nilai transaksi yang dibukukan di pasar modal mencapai Rp10,13 triliun. Penurunan indeks ini dipicu oleh tekanan jual yang cukup masif dari investor asing di berbagai sektor saham utama.
Data pasar menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan aksi penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp1,08 triliun di seluruh pasar. Secara spesifik, tekanan jual di pasar reguler tercatat mencapai Rp1,52 triliun. Meskipun terdapat aksi beli bersih di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp406,50 miliar, volume tersebut belum mampu menahan laju pelemahan indeks secara keseluruhan.
Aksi lepas saham oleh investor asing tersebut tersebar di sejumlah emiten berkapitalisasi besar dan saham yang aktif diperdagangkan. Berdasarkan data dari Stockbit, setidaknya terdapat 10 emiten yang mencatatkan nilai penjualan bersih tertinggi dari investor asing pada perdagangan kemarin.
Daftar emiten tersebut meliputi PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan nilai penjualan Rp34,85 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) sebesar Rp30,25 miliar, serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan nilai Rp24,35 miliar. Selain itu, investor asing juga melepas saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar Rp23,75 miliar dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) senilai Rp20,43 miliar.
Tekanan jual juga menyasar saham-saham lainnya seperti PT Astra International Tbk. (ASII) dengan nilai Rp18,49 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) sebesar Rp9,26 miliar, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) senilai Rp7,69 miliar. Menutup daftar sepuluh besar aksi jual asing, terdapat saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) sebesar Rp5,26 miliar serta PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR) dengan nilai Rp4,30 miliar.
Kondisi pasar yang tertekan ini menunjukkan sentimen negatif yang cukup kuat dari pelaku pasar global terhadap aset-aset di bursa domestik. Pergerakan IHSG ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika arus modal asing serta sentimen makroekonomi global yang memicu perpindahan aset dari pasar berkembang ke instrumen yang dianggap lebih aman oleh para pemodal internasional.


