kalselupdate.id — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi merilis bingkai foto digital atau twibbon khusus untuk memperingati Hari Santri 2026. Peluncuran twibbon bernuansa warna hijau khas NU ini mengusung tema besar “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Warga Nahdliyin serta masyarakat luas diajak untuk mengunggah foto terbaik mereka guna memeriahkan syiar Hari Santri di berbagai platform media sosial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Twibbon resmi tersebut telah dilengkapi dengan logo Nahdlatul Ulama serta logo khusus Hari Santri 2026. Masyarakat yang ingin turut serta memeriahkan momentum ini dapat mengakses dan mengunduh tautan bingkai digital tersebut melalui laman resmi https://twb.nz/hari-santri-2026pbnu. Penggunaan bingkai foto ini diharapkan menjadi sarana penyebaran pesan kebangsaan dan keagamaan secara masif di ruang digital.

Sekretaris Jenderal PBNU, H Gudfan Arif, atau yang akrab disapa Gus Gudfan, menegaskan bahwa penetapan tema Hari Santri 2026 memiliki pijakan filosofis yang sangat mendalam bagi kehidupan berbangsa dan beragama. Menurutnya, perkembangan teknologi dan arus modernisasi yang bergerak sangat cepat tidak boleh sampai membuat kaum santri terlepas dari akar keilmuan, adab, dan tradisi pesantren yang diwariskan para masyayikh.

“Santri harus memiliki akar tradisi yang kuat agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Keilmuan, adab, dan nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi pegangan dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat,” tegas Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif.

Gus Gudfan menjelaskan bahwa akar tradisi yang kokoh di lingkungan pesantren bukanlah penghambat kemajuan, melainkan justru menjadi modal utama bagi para santri dalam menjawab tantangan zaman. Nilai-nilai spiritual dan etika keilmuan yang dipelajari di pesantren memberikan pijakan moral yang kuat ketika santri terjun dan berkiprah di berbagai sektor kehidupan modern.

Mengenai frasa “Menjaga Keutuhan Negeri”, Sekjen PBNU tersebut mengingatkan kembali sejarah panjang perjuangan kaum santri dan para ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak era pergerakan nasional hingga masa kini, pesantren selalu berada di garis depan dalam merawat persaudaraan, menjaga keharmonisannya di tengah kebinekaan, serta mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peran strategis santri di masa sekarang tidak lagi terbatas pada penguasaan ilmu-ilmu keagamaan di dalam kompleks pesantren semata. Santri dituntut untuk mampu memberikan kontribusi nyata dan solusi konkret atas berbagai persoalan kemasyarakatan, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip nilai keislaman yang ramah serta nilai-nilai kebangsaan yang inklusif.

Selain meluncurkan twibbon, PBNU juga memberikan penjelasan komprehensif mengenai filosofi visual yang terkandung dalam logo Hari Santri 2026. Logo tersebut dirancang tidak hanya sekadar sebagai hiasan grafis, tetapi membawa pesan mendalam mengenai jati diri, orientasi, serta arah pengabdian kaum santri di era kontemporer.

Elemen pertama pada logo tersebut adalah gambar akar yang melambangkan keutuhan tradisi serta kokohnya sanad keilmuan pesantren. Keberadaan akar ini menegaskan pentingnya menjaga mata rantai keilmuan agama yang bersambung dan tidak terputus dari para guru, ulama, hingga generasi terdahulu sebagai pondasi utama pembentukan karakter santri.

Elemen kedua berupa simbol kitab terbuka yang merepresentasikan tradisi intelektual pesantren serta penguasaan ilmu pengetahuan. Visual kitab terbuka ini menyimbolkan keterbukaan pikiran santri terhadap kemajuan sains dan teknologi, sekaligus dorongan untuk terus belajar secara berkelanjutan tanpa melupakan khazanah keilmuan klasik.

Elemen ketiga adalah simbol kubah yang menggambarkan landasan spiritualitas dan keagamaan. Kubah tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh aktivitas kehidupan, pengabdian sosial, serta kiprah kebangsaan yang dilakukan oleh santri harus senantiasa berlandaskan pada nilai-nilai ketauhidan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Adapun elemen keempat melambangkan bentuk bintang yang menjadi simbol cita-cita luhur dan petunjuk jalan pengabdian santri bagi bangsa dan negara. Bintang ini menggambarkan harapan agar keberadaan santri senantiasa memberikan penerangan bagi lingkungan sekitar serta memandu masyarakat menuju kemaslahatan bersama.

“Melalui momentum Hari Santri 2026, pesantren dan kaum santri diharapkan terus menjaga warisan keilmuan para masyayikh sekaligus memperkuat kontribusi dalam merawat persatuan, kebinekaan, dan keutuhan Indonesia,” ujar Gus Gudfan.

PBNU berharap momentum peringatan Hari Santri 2026 ini dapat menjadi sarana refleksi sekaligus konsolidasi bagi seluruh elemen pesantren di Indonesia. Dengan menyebarluaskan twibbon serta memahami pesan di balik tema dan logo tahun ini, kesadaran kolektif mengenai peran penting santri dalam menjaga kedamaian dan keutuhan negeri diharapkan semakin menguat di tengah dinamika perubahan zaman.