kalselupdate.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 3,8 persen atau terkoreksi 192,5 poin pada perdagangan Selasa (3/11). Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan jual yang masif, tercermin dari arus keluar modal asing atau net foreign outflow yang mencapai Rp575 miliar dalam satu hari perdagangan. Penurunan tajam ini menandai koreksi harian terdalam sejak 16 Oktober 2026, periode di mana pasar saham Indonesia dihadapkan pada ketidakpastian terkait wacana penurunan status pasar oleh MSCI menjadi standalone market.
Aksi jual yang mendominasi pasar kali ini terutama didorong oleh kinerja saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps. Tercatat lima kontributor utama pelemahan indeks adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Selain faktor teknis, tekanan juga dipengaruhi oleh kebijakan Bursa Efek Indonesia yang mengecualikan saham HSC dari perhitungan indeks sejak 2 November 2026.
Kondisi pasar yang tertekan ini berlangsung di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia. Sempat melandai karena harapan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, harga minyak kembali bergejolak setelah eskalasi militer di Pulau Qeshm, Iran. Secara akumulatif, IHSG telah mencatatkan pelemahan sebesar 3 persen sejak awal pekan ini, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak di kisaran level 18.148, mendekati rekor terendah yang dicapai pada akhir Oktober lalu.
Pasar obligasi pemerintah juga menunjukkan respons negatif dengan yield obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2020 di angka 7,81 persen pada perdagangan Senin sebelum akhirnya sedikit melandai ke level 7,72 persen. Meski harga minyak sempat melandai, sentimen tersebut belum mampu menjadi katalis positif bagi pasar modal domestik yang saat ini lebih sensitif terhadap isu eksternal dan fundamental makroekonomi.
Di sisi lain, terdapat sejumlah aksi korporasi yang tetap berjalan di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Merdeka Battery Materials berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement sebanyak 10,8 miliar saham baru guna mendanai kebutuhan modal kerja dan pengembangan aset perusahaan. Rencana aksi korporasi tersebut dijadwalkan untuk dibahas lebih lanjut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 8 Desember 2026.
Emiten lainnya juga mengumumkan pembagian dividen interim, seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk yang akan membagikan dividen senilai total 74,2 juta dolar AS, serta PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk dengan dividen interim Rp52,49 per saham. Kebijakan pembagian dividen ini diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang yang tetap memantau fundamental perusahaan di tengah volatilitas indeks harga saham.
Perkembangan di sektor energi terbarukan juga menjadi sorotan, terutama mengenai proyeksi produksi listrik dari PT Arkora Hydro. Dalam pemaparan publik, manajemen menargetkan pertumbuhan produksi listrik hingga 49,4 persen secara tahunan pada 2027 seiring dengan rencana pengoperasian pembangkit listrik tenaga air baru di Sulawesi. Perusahaan terus berupaya menjajaki potensi energi terbarukan di Indonesia yang pemanfaatannya saat ini dinilai masih sangat rendah dibandingkan total potensi yang tersedia.
Terkait regulasi pemerintah, Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan pernyataan mengenai rencana perubahan aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Pemerintah berencana melakukan sosialisasi terkait perubahan tersebut setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak, termasuk eksportir dan pengusaha. Budi menegaskan bahwa langkah ini tidak berkaitan dengan kebijakan sentralisasi ekspor yang dijalankan oleh entitas tertentu.
“Pemerintah akan melakukan sosialisasi terhadap perubahan aturan penempatan DHE SDA tersebut, serta akan mempertimbangkan usulan dari pengusaha maupun eksportir,” tutur Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Sementara itu, emiten sektor peternakan seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk menunjukkan dinamika kinerja laba yang bervariasi pada kuartal ketiga 2026. Meskipun mencatatkan pemulihan margin laba usaha seiring membaiknya harga ayam broiler, kedua perusahaan menghadapi tantangan pada segmen pakan ternak akibat kenaikan harga bahan baku seperti bungkil kedelai dan jagung yang belum sepenuhnya dapat diteruskan ke tingkat harga jual konsumen.
Bagi para pelaku pasar, situasi saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Analis menilai bahwa di tengah koreksi yang terjadi, investor dengan cakrawala investasi jangka panjang dapat memanfaatkan momentum untuk mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental kuat serta riwayat pembagian dividen yang konsisten. Hingga saat ini, pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi global yang dapat memberikan sentimen positif bagi pemulihan IHSG di masa mendatang.


