kalselupdate.id — Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, menjadi sorotan internasional setelah aksi heroiknya melindungi para pelajar yang sedang melakukan demonstrasi di pinggiran kota Paris, Prancis, mendadak viral di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman yang beredar luas, Bagayoko terlihat berdiri kokoh di barisan depan guna menghalangi laju polisi anti-huru-hara yang dilengkapi tameng dan perlengkapan taktis lengkap, sembari berteriak lantang meminta aparat menghentikan tindakan represif mereka terhadap para demonstran muda.
Peristiwa dramatis tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa, 6 Oktober 2026, di tengah gelombang unjuk rasa yang dipicu oleh keresahan mendalam atas kondisi sektor pendidikan di wilayah kelas pekerja tersebut. Bagayoko, yang juga merupakan politisi dari partai sayap kiri radikal France Unbowed (LFI), secara konsisten memberikan dukungannya terhadap aspirasi para siswa yang menuntut keadilan sosial dan perbaikan fasilitas belajar-mengajar.
Di dalam kantornya pasca-insiden tersebut, Bagayoko menegaskan bahwa keputusannya untuk pasang badan didasari oleh situasi di lapangan di mana aparat keamanan dinilai bertindak terlalu agresif terhadap anak-anak sekolah yang tidak bersenjata. Menurutnya, tindakan penyerbuan yang dilakukan oleh kepolisian sama sekali tidak proporsional mengingat sebagian besar pelajar yang hadir dalam aksi tersebut sama sekali tidak menunjukkan perilaku kekerasan atau membahayakan petugas.
“Mereka telah memutuskan untuk menyerbu dan benar-benar mengejar para pelajar, yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi,” ujar Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko.
Upaya mediasi dan perlindungan yang dilakukan oleh sang wali kota sayap kiri tersebut sayangnya tidak menghentikan tindakan tegas dari aparat keamanan. Polisi anti-huru-hara pada akhirnya tetap menembakkan gas air mata ke arah kerumunan massa guna membubarkan aksi, di mana kepulan asap kimia tersebut juga mengenai Bagayoko yang berada di lokasi kejadian bersama para demonstran.
Gelombang demonstrasi pelajar yang bermula dari wilayah pinggiran Paris yang terpinggirkan ini telah berlangsung selama lebih dari dua minggu, menyingkap tabir kemarahan publik yang kian meluas terhadap kebijakan pemerintah. Aksi turun ke jalan ini tidak hanya melibatkan ratusan sekolah di berbagai wilayah, tetapi juga memicu penutupan sekitar 400 sekolah akibat situasi keamanan yang tidak kondusif serta aksi mogok massal.
Ketegangan sosial ini eskalasinya kian meningkat mengingat Prancis sedang bersiap menghadapi pemilihan umum dalam kurun waktu enam bulan ke depan untuk mencari pengganti Presiden Emmanuel Macron. Sejak aksi protes ini bergulir pada akhir September, tercatat lebih dari 6.000 orang telah ditangkap oleh otoritas keamanan dan puluhan pelajar mengalami luka-luka akibat bentrokan fisik dengan aparat di lapangan.
Berbagai organisasi pembela hak asasi manusia serta serikat pekerja lokal telah melayangkan tuduhan serius kepada kepolisian Prancis atas penggunaan taktik kekerasan yang berlebihan terhadap anak-anak di bawah umur. Mereka menyoroti penggunaan tongkat pemukul, gas air mata secara masif, hingga penembakan senjata ‘flashball’ atau peluru karet keras yang dinilai sangat membahayakan keselamatan fisik para demonstran remaja.
Di sisi lain, pihak berwenang Prancis memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa ratusan petugas kepolisian juga mengalami luka-luka serius akibat serangan dari oknum demonstran yang anarkis. Pemerintah melaporkan adanya aksi pembakaran serta penjarahan di beberapa gedung sekolah, serta serangan fisik yang menyasar para guru dan warga sipil di sekitar lokasi unjuk rasa yang tidak terkendali.
Kota Saint-Denis sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tantangan sosial-ekonomi yang sangat tinggi di Prancis, di mana tingkat kemiskinan di kawasan ini mencapai lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional. Kondisi ini menjadikan Saint-Denis sebagai episentrum awal meletusnya protes pelajar, yang dipicu oleh kemarahan atas ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sanitasi yang tidak higienis, krisis kekurangan tenaga pengajar, serta ketimpangan kesempatan yang terus terjadi.
Bagayoko memandang bahwa gelombang protes semacam ini bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi kekecewaan menahun yang selalu berulang di setiap awal tahun ajaran baru akibat janji-janji kesetaraan dari Republik Prancis yang tidak pernah ditepati, khususnya bagi masyarakat kelas pekerja di daerah pinggiran dan pedesaan. Sebagai solusi konkret, dirinya mendesak pemerintah pusat untuk memprioritaskan investasi besar-besaran di sektor pendidikan publik serta mengenakan pajak yang lebih tinggi bagi kelompok miliarder guna mendanai perbaikan fasilitas sosial.
Menanggapi tuntutan yang semakin meluas ini, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meninjau kembali seluruh poin tuntutan yang diajukan oleh para siswa. Pemerintah berjanji akan merumuskan dan mengajukan proposal usulan solusi konkret pada akhir Oktober, meskipun hingga kini belum ada rincian teknis yang dipublikasikan ke hadapan publik mengenai langkah penyelesaian tersebut.
Di tengah situasi yang memanas, pemerintah Prancis sempat mengisyaratkan adanya keterlibatan politisi dari partai France Unbowed (LFI) yang dituding berada di balik mobilisasi aksi protes para pelajar demi kepentingan politik menjelang pemilu. Tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh Bagayoko, yang menganggap tudingan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap kecerdasan serta aspirasi murni dari para demonstran muda yang memperjuangkan hak-hak dasar mereka.
Sebagai seorang ayah dari empat anak, Bagayoko merasa memiliki keterikatan emosional dan tanggung jawab moral yang kuat untuk menjaga para siswa yang turun ke jalan tersebut, karena mereka merupakan representasi dari generasi masa depan yang harus dilindungi keselamatannya dari segala bentuk kekerasan aparat.
“Siswa-siswa SMA yang turun ke jalan itu bisa saja anak-anak saya sendiri, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mendampingi mereka,” pungkas Bally Bagayoko.


