kalselupdate.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencatatkan angka sebesar 5,47 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan tumbuh 1,59 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq). Capaian tersebut resmi diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat BPS, Jakarta, pada Kamis (5/11/2026).
Laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode Juli hingga September 2026 memperlihatkan penguatan jika dibandingkan dengan catatan pada kuartal II-2026 yang berada di angka 5,29 persen yoy. Kendati mengalami kenaikan dibanding kuartal sebelumnya, realisasi ini masih berada di bawah pencapaian kuartal I-2026 yang sempat menembus 5,61 persen yoy.
“Year on year tumbuh 5,47%,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud saat menyampaikan data terbaru tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis BPS, perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun pada kuartal III-2026. Sementara itu, nilai PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) untuk periode yang sama berhasil mencapai Rp6.741 triliun.
Realisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen ini berhasil melampaui perkiraan awal yang dibuat oleh pasar. Sebelumnya, konsensus yang dihimpun dari 15 lembaga dan institusi keuangan memproyeksikan laju ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sebesar 5,20 persen secara tahunan pada kuartal ketiga tersebut.
Sebelum data resmi diumumkan, sejumlah ahli ekonomi mengantisipasi adanya kecenderungan perlambatan. Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman sempat memperkirakan ekonomi akan melambat akibat tertahannya tingkat konsumsi rumah tangga serta belanja pemerintah sepanjang periode kuartal ketiga.
Tekanan terhadap daya beli masyarakat dinilai terjadi akibat peningkatan biaya hidup yang masih membayangi. Di sisi lain, dorongan dari belanja pemerintah diperkirakan tidak setinggi periode kuartal sebelumnya seiring dengan ketersediaan stimulus fiskal yang relatif terbatas sepanjang kuartal III-2026.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bergerak pada rentang 5,15 hingga 5,20 persen yoy. Menurut penjelasannya, kinerja ekspor dan sektor manufaktur menjadi tumpuan utama penopang ekonomi, sementara konsumsi rumah tangga dan pemerintah bergerak lebih lambat.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,23 persen yoy pada kuartal III-2026. Dengan angka proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional selama sembilan bulan pertama tahun 2026 diperkirakan secara keseluruhan berada pada tingkat 5,37 persen.
Hasil pencapaian ini menandakan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih terjaga dengan relatif baik di tengah tingginya tekanan eksternal global. Meskipun demikian, para ekonom memberikan catatan penting bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat terdistribusi secara lebih merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Tantangan utama yang perlu dihadapi ke depan bukan sekadar menjaga angka pertumbuhan di atas lima persen. Kunci keberlanjutan ekonomi bergantung pada bagaimana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan pendapatan riil masyarakat, menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas, serta mendorong pemulihan di sektor-sektor industri padat karya.


