kalselupdate.id — Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data indeks harga konsumen (CPI) untuk periode September 2026 yang menunjukkan kenaikan melebihi proyeksi pasar. Angka CPI tahunan tercatat tumbuh 3,7 persen, lebih tinggi dibandingkan konsensus analis di level 3,6 persen dan posisi Agustus 2026 yang berada di angka 3,4 persen. Sementara itu, CPI bulanan juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,6 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar namun tetap menunjukkan tekanan inflasi yang persisten di tengah kondisi ekonomi global saat ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kenaikan indeks harga konsumen secara bulanan sebagian besar didorong oleh lonjakan harga bensin yang tercatat mencapai 9,1 persen. Secara tahunan, indeks harga energi telah mengalami kenaikan signifikan sebesar 20,4 persen. Komponen inflasi inti yang tidak memasukkan sektor pangan dan energi juga mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 2,6 persen, melampaui estimasi pasar yang sebelumnya dipatok pada angka 2,5 persen.

Reaksi pasar merespons rilis data tersebut dengan peningkatan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan analisis CME FedWatch Tool, peluang The Fed untuk melakukan kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 melonjak menjadi 44 persen dari sebelumnya hanya 22 persen sebelum data inflasi dipublikasikan. Meski demikian, mayoritas pelaku pasar masih memproyeksikan bank sentral akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga saat ini.

“Meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga AS saat ini berlawanan dengan pernyataan beberapa pejabat The Fed yang lebih dovish dan menginginkan posisi hold untuk memberikan pasar waktu mencerna kenaikan suku bunga terakhir,” tegas US Rates Strategist di TD Securities, Molly Brooks.

Dampak dari rilis data inflasi ini juga terasa pada instrumen keuangan lainnya. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mengalami volatilitas sebelum akhirnya turun 4 basis poin ke level 5,19 persen setelah sempat menembus level 5,3 persen pada perdagangan intraday. Indeks dolar AS (DXY) tercatat mengalami penguatan sebesar 0,4 persen ke level 102,5, sementara indeks saham utama seperti S&P 500 dan Nasdaq 100 kompak melemah masing-masing sebesar 1,1 persen dan 1,9 persen.

Pasar komoditas emas juga turut terdampak dengan koreksi harga sebesar 1,3 persen ke kisaran US$4.100 per ons. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,3 persen ke level 5.864 pada Kamis (15/10), yang utamanya dipengaruhi oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut mengalami depresiasi sebesar 0,2 persen ke level 17.938, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 7,25 persen.

Meskipun terjadi pelemahan pada IHSG, para analis mencatat bahwa pergerakan tersebut tidak sepenuhnya berkaitan dengan sentimen eksternal semata. Investor asing tercatat masih membukukan aliran masuk bersih atau foreign inflow sebesar Rp566 miliar pada perdagangan hari tersebut, yang mengindikasikan adanya perbedaan pandangan antara investor lokal dan pelaku pasar internasional terhadap prospek pasar domestik di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.

Ketidakpastian arah kebijakan The Fed pada pertemuan Oktober mendatang masih menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar global. Pergerakan harga emas yang sempat kembali naik 1 persen secara tahunan pada intraday Kamis, berbanding terbalik dengan penurunan indeks dolar dan yield obligasi AS, mencerminkan keraguan investor terhadap konsistensi narasi kebijakan moneter bank sentral. Konsensus pasar saat ini masih terbelah, dengan banyak pihak menunggu sinyal lebih lanjut dari para pejabat The Fed dalam beberapa pekan ke depan sebelum keputusan resmi diambil.