kalselupdate.id — Jumlah korban jiwa akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali bertambah. Seorang anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP) bernama Munawi (44) dinyatakan meninggal dunia pada Senin (19/10), setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Munawi merupakan salah satu dari 12 petugas dan relawan yang berupaya memadamkan api di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah L, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo. Ia ditemukan dalam kondisi tidak berdaya akibat terkepung asap tebal dan kobaran api saat menjalankan tugas pemadaman yang berlangsung sejak Kamis (15/10) lalu. Akibat insiden tersebut, Munawi mengalami luka bakar serius yang mengharuskannya dirujuk ke rumah sakit di Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

“Bapak Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polhut yang turut mengambil bagian dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah berpulang setelah menjalani perawatan intensif,” tutur Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha.

Kepergian Munawi menambah daftar panjang korban meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran hutan tersebut. Sebelumnya, empat orang telah lebih dahulu gugur saat berjuang memadamkan api di titik Pusung Lingker, Probolinggo, pada Kamis (15/10). Keempat korban tersebut terdiri dari dua petugas Balai Besar TNBTS, yakni Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata, serta dua orang karyawan hotel di sekitar lokasi kejadian bernama Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19).

Selain korban meninggal dunia, insiden karhutla di wilayah tersebut juga mengakibatkan beberapa personel mengalami luka-luka. Salah satu yang masih dalam perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo adalah seorang sekuriti hotel bernama Suraji. Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi pihak pengelola TNBTS serta masyarakat setempat yang selama ini turut serta bahu-membahu menjaga kelestarian kawasan konservasi tersebut dari ancaman kebakaran.

Pihak Balai Besar TNBTS menyampaikan duka cita yang mendalam atas pengorbanan para petugas dan relawan yang telah gugur. Rudijanta menyebut bahwa dedikasi almarhum dan seluruh tim merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap keselamatan bersama di tengah risiko tinggi yang dihadapi saat bertugas di lapangan. Pihak balai juga mendoakan agar seluruh amal kebaikan para almarhum diterima di sisi Allah SWT.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah atas musibah ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dikabarkan telah menyiapkan santunan bagi keluarga para korban meninggal dunia. Masing-masing ahli waris rencananya akan menerima bantuan uang senilai Rp10 juta sebagai bentuk empati dan dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan. Hingga saat ini, upaya pemulihan pascakebakaran di beberapa titik kawasan Bromo masih terus menjadi perhatian berbagai pihak terkait demi memastikan kondisi lahan kembali stabil dan aman.