kalselupdate.id — Manchester City mengamankan kemenangan telak 3-0 atas Liverpool dalam lanjutan Premier League di Stadion Anfield, meski laga tersebut diwarnai tekanan hebat dan cemoohan dari puluhan ribu pendukung tuan rumah menyusul keputusan bahwa klub dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran aturan keuangan.
Tiga gol kemenangan skuad asuhan Enzo Maresca seluruhnya tercipta pada babak kedua melalui aksi Erling Haaland, Jeremy Doku, dan Rayan Cherki. Kepastian kemenangan tim tamu makin terbuka setelah gelandang Liverpool, Ryan Gravenberch, dijatuhi kartu merah akibat menerima kartu kuning kedua dari wasit.
Hasil positif di Anfield tersebut sekaligus menjaga rekor sempurna Manchester City pada awal musim Premier League, yang membuat mereka tetap kokoh berada di puncak klasemen sementara. Namun, hasil lapangan tersebut diwarnai bayang-bayang kontroversi hukum finansial yang menyelimuti manajemen klub asal Manchester tersebut.
Atmosfer di dalam Stadion Anfield sepanjang pertandingan berlangsung sangat tidak bersahabat. Sebanyak 56.000 pendukung Liverpool yang memadati stadion meluapkan kemarahan mereka melalui bentangan spanduk bertuliskan tuduhan seperti “Shamchester” dan “Cheat”, disertai nyanyian sindiran yang menyebut City tidak pernah memenangkan trofi sejak 1967 sebelum diambil alih oleh konsorsium Abu Dhabi pada 2009.
Pengelola pengeras suara stadion bahkan turut memainkan lagu-lagu dengan judul bernada sindiran sebelum dan sesudah pertandingan, seperti “Joker and the Thief” milik Wolfmother serta “Little Lies” dari Fleetwood Mac. Meski demikian, para pemain tim tamu tetap menunjukkan ketenangan dan mampu mengendalikan jalannya laga hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan City di Anfield menjadi perhatian khusus mengingat sejarah persaingan ketat kedua klub dalam perburuan gelar juara. Liverpool sebelumnya harus puas finis di posisi runner-up di bawah City pada musim 2013-2014 dan 2018-2019 dengan selisih satu poin, serta menderita kekalahan tipis pada musim 2021-2022 yang kini dinilai publik tidak lepas dari dampak pelanggaran aturan keuangan di luar lapangan.
Pihak Manchester City saat ini telah resmi mengajukan banding atas putusan Premier League terkait 114 pelanggaran aturan finansial tersebut. Meskipun proses hukum dan sidang banding belum secara resmi tuntas, anggapan publik dan klub-klub pesaing cenderung menilai pencapaian serta gelar yang diraih City telah ternoda oleh kasus hukum ini.
Di tengah tekanan yang kian membendung, para pemain beserta jajaran staf pelatih yang dipimpin Enzo Maresca berupaya tetap profesional dan fokus pada performa di lapangan. Pendukung setia City yang bertandang ke markas Liverpool juga memperlihatkan aksi perlawanan dengan mengacungkan ratusan pisang tiup, menghidupkan kembali tradisi unik klub pada era 1980-an saat masih berkompetisi di divisi kedua.
Tekanan dari luar justru dinilai membentuk mentalitas khusus bagi skuad Manchester City untuk tampil lebih solid di setiap pertandingan.
“Kami tahu akan ada kegaduhan, tetapi kami harus menciptakan kegaduhan kami sendiri dengan memenangi pertandingan,” kata Manajer Manchester City, Enzo Maresca.
Penyerang Manchester City, Erling Haaland, menyatakan kebanggaannya atas karakter dan ketahanan mental yang ditunjukkan seluruh rekan setimnya di tengah situasi sulit dan tekanan penonton tuan rumah. Haaland menyebut hasil manis di Anfield sebagai momen penting yang menunjukkan kekompakan tim dari lini belakang hingga lini depan.
Meski demikian, di luar kelompok pendukung City, respons yang muncul atas keberhasilan klub tersebut cenderung diwarnai rasa skeptis dan ketidakpuasan. Jika pada era kepemimpinan Pep Guardiola dominasi City diapresiasi lewat kualitas permainan, situasi terkini justru memicu kemarahan publik yang mengkhawatirkan rusaknya integritas dan keadilan kompetisi Liga Primer Inggris.
Para pengamat menilai, apabila pada akhirnya proses banding menolak permohonan City dan sanksi berat berupa pengurangan poin masif atau degradasi dijatuhkan, maka deretan kemenangan yang diraih musim ini tidak akan memiliki arti dalam catatan sejarah. Sebaliknya, jika City terbebas dari hukuman berat, kredibilitas aturan finansial Premier League dipertanyakan oleh klub-klub peserta lainnya.
Gelombang kritik terhadap dampak kasus ini juga disampaikan oleh sejumah tokoh sepak bola Inggris. Legenda Manchester United, Gary Neville, menilai bahwa ketidakpastian dan noda dari kasus pelanggaran keuangan ini memberikan stigma negatif yang sangat besar bagi citra kompetisi dan klub itu sendiri dalam jangka panjang.
“Tanyakan satu hal kepada diri Anda sendiri: Apakah Man City akan menjuarai Premier League jika mereka tidak melakukan apa yang selama ini mereka lakukan? Sama sekali tidak mungkin,” ujar Paul Merson.
Merson menambahkan bahwa tindakan jajaran manajemen tingkat atas Manchester City pada dasarnya telah merampas momen-momen bersejarah dari klub-klub pesaing beserta para pemainnya. Keberhasilan membangun skuad dengan dua pemain bintang di setiap posisi dinilai tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan finansial yang melanggar ketentuan di balik layar.
Hingga pekan keenam, Manchester City masih memimpin puncak klasemen Premier League dengan keunggulan tiga poin atas Arsenal, setelah melakukan investasi besar mencapai 450 juta poundsterling atau sekitar 596 juta dolar AS pada bursa transfer musim panas. Kehadiran amunisi baru seperti Enzo Fernandez, Elliot Anderson, Ayyoub Bouaddi, dan Illiman Ndiaye semakin memperkuat kedalaman skuad mereka.
Situasi gantung terkait sanksi ini menimbulkan ketidakpastian mendalam bagi seluruh kontestan liga, baik tim pemburu gelar seperti Arsenal maupun klub-klub papan bawah yang berjuang mengumpulkan poin demi menghindari ancaman degradasi. Poin yang hilang saat berhadapan dengan City dirasa memberikan dampak langsung terhadap peta persaingan akhir musim.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sidang banding Manchester City dijadwalkan mulai berlangsung pada 14 Desember, dengan panel independen beranggotakan tiga orang yang diberi waktu maksimal 30 hari untuk mengeluarkan keputusan final. Namun demikian, para ahli hukum memperkirakan proses ini masih berpotensi berlangsung lebih lama apabila terdapat upaya-upaya hukum lanjutan yang ditempuh oleh pihak klub.


