kalselupdate.id — Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan kementerian setelah terjadinya insiden mematikan yang melibatkan tabrakan dua kereta api berkecepatan tinggi di rute Madrid-Andalusia. Musibah tragis tersebut merenggut sedikitnya 69 korban jiwa serta mengakibatkan sekitar 200 penumpang mengalami luka-luka, sehingga secara langsung memicu gelombang kritik berat dan sorotan tajam publik terhadap standar keandalan serta pengawasan sistem keselamatan transportasi massal di Spanyol.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pernyataan pengunduran diri tersebut disampaikan secara langsung oleh Puente di depan para anggota parlemen Spanyol di ibu kota Madrid. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatannya telah ia pertimbangkan dan ambil hanya dalam hitungan menit pertama setelah peristiwa mematikan itu terjadi, tanpa memperhitungkan apakah dirinya memikul tanggung jawab teknis secara langsung atau tidak atas terjadinya bencana transportasi nasional tersebut.

“Seorang menteri transportasi di negara seperti Spanyol tidak bisa tetap menjabat setelah dua kecelakaan dengan tingkat keparahan seperti ini terjadi dalam waktu kurang dari setahun, terlepas dari betapa berbedanya kedua insiden tersebut, dan terlepas dari apakah ia memikul tanggung jawab langsung atau tidak,” tegas Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente di hadapan parlemen.

Puente lebih lanjut menjelaskan bahwa keputusan tegas ini diambil demi menjaga etika politik dan akuntabilitas kepemimpinan di jajaran pemerintahan nasional Spanyol, terutama ketika menyangkut keselamatan jiwa publik. Menurutnya, terjadinya dua musibah tabrakan kereta api dalam skala besar dalam jangka waktu kurang dari satu tahun merupakan sinyal kuat bahwa pucuk pimpinan kementerian harus mengambil langkah penuh tanggung jawab guna memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap armada transportasi publik.

Musibah tabrakan maut yang mendorong pengunduran diri menteri tersebut terjadi pada Rabu (28/10), ketika satu rangkaian kereta api berkecepatan tinggi milik operator negara, Renfe, menghantam keras bagian belakang kereta api yang dioperasikan oleh perusahaan swasta Spanyol, Iryo, yang kala itu sedang dalam posisi berhenti. Benturan hebat antar-kereta cepat ini terjadi di kawasan dekat desa Urda, sebuah wilayah yang berjarak sekitar 130 kilometer atau 80 mil di sebelah selatan kota Madrid.

Berdasarkan hasil investigasi awal yang dirilis oleh pihak berwenang Spanyol, kecelakaan mematikan tersebut dipicu oleh kombinasi rumit antara faktor kesalahan manusia dan kegagalan pada sistem komputerisasi di rute rel berkecepatan tinggi. Sebelum benturan terjadi, kegagalan pada sistem keselamatan otomatis sebenarnya sudah bekerja secara otomatis dengan menghentikan seluruh arus pergerakan dan perjalanan kereta api di sepanjang koridor rute rel sejauh 63 kilometer.

Namun demikian, situasi menjadi kacau ketika pusat kendali perjalanan kereta api secara mengejutkan memberikan izin pergerakan kepada rangkaian kereta milik Renfe untuk terus melaju di jalur tersebut, meskipun sistem keselamatan telah mengindikasikan adanya gangguan serius. Akibatnya, kereta Renfe yang bergerak dalam kecepatan tinggi tidak mampu menghindari tabrakan fatal dan menghantam keras kereta Iryo yang sedang berhenti di lintasan yang sama.

“Terdapat sinyal merah yang melarang pergerakan, namun kereta tersebut justru diizinkan untuk terus melaju. Itu adalah keputusan yang diambil dalam situasi yang tidak dapat dijelaskan,” kata Oscar Puente terkait kegagalan instruksi di pusat kendali.

Mantan menteri tersebut secara terbuka menyuarakan keheranannya atas keputusan tak masuk akal yang diambil oleh petugas di pusat kendali operasional kereta pada detik-detik sebelum bencana terjadi. Hingga saat ini, tim investigasi independen beserta aparat berwenang masih terus mendalami penyebab mendasar dari pemberian kelonggaran sinyal berbahaya tersebut, guna mengungkap secara komprehensif rantai keputusan yang memicu terjadinya kecelakaan maut itu.

Di sisi lain, proses identifikasi terhadap seluruh jenazah korban tewas memerlukan penanganan sengit selama beberapa hari oleh tim forensik hingga akhirnya berhasil dirampungkan sepenuhnya. Badan resmi khusus yang dibentuk untuk menangani proses identifikasi, yang terdiri dari unsur kepolisian nasional dan pakar forensik Spanyol, secara resmi mengumumkan penuntasan identifikasi terhadap seluruh korban jiwa dalam tragedi perkeretaapian tersebut.

Dari total 69 korban tewas yang berhasil teridentifikasi secara resmi, sebanyak 54 orang tercatat sebagai warga negara Spanyol. Sementara itu, 15 korban meninggal dunia lainnya diidentifikasi sebagai warga negara asing yang berasal dari 10 negara berbeda, yakni empat warga negara Amerika Serikat, dua warga negara Australia, dua warga negara Jepang, serta masing-masing satu korban jiwa dari Argentina, Kanada, Prancis, Meksiko, Portugal, Tunisia, dan Republik Ceko.

Pengumuman penutupan proses identifikasi tersebut dilakukan setelah tim forensik berhasil mengonfirmasi tiga jasad korban tewas terakhir yang teridentifikasi sebagai dua warga negara Australia dan satu warga negara Jepang. Penuntasan proses identifikasi ini menjadi titik terang bagi keluarga besar para korban yang telah menanti kepastian jasad anggota keluarga mereka di tengah suasana duka mendalam sejak hari pertama musibah tabrakan terjadi pada akhir Oktober.

Peristiwa tragis di dekat desa Urda ini mencatatkan diri sebagai musibah tabrakan kereta api berkecepatan tinggi kedua yang mengguncang Spanyol sepanjang tahun ini. Sebelumnya pada bulan Januari, sebuah kecelakaan maut serupa yang melibatkan armada kereta berkecepatan tinggi juga sempat terjadi di wilayah Andalusia, Spanyol selatan, di mana insiden kelam tersebut merenggut nyawa sebanyak 46 orang penumpang.

Terulangnya insiden berdarah pada moda transportasi massal utama dalam kurun waktu singkat ini telah memicu keprihatinan luas dari publik internasional dan pakar keselamatan transportasi Spanyol. Keputusan Oscar Puente untuk meletakkan jabatan menteri diharapkan dapat membuka jalan bagi evaluasi total, perbaikan sistemik pada manajemen sinyal pusat kendali, serta peningkatan keandalan infrastruktur keselamatan perkeretaapian di seluruh wilayah Spanyol ke depannya.