kalselupdate.id — Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global mendorong Pemerintah China meningkatkan manuver diplomasinya secara signifikan. Beijing kini bergerak aktif mendekati Iran dan Oman guna mendorong dimulainya kembali proses perundingan demi meredakan ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini diambil karena stabilitas kawasan Teluk dinilai sangat vital bagi keamanan ekonomi dan pasokan energi nasional Tiongkok.
Sebagai bentuk nyata diplomasi tersebut, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menggelar pertemuan resmi dengan Ali Bagheri Kani, Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, di Beijing. Pertemuan ini membahas perkembangan situasi keamanan kawasan yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berisiko meluas menjadi konflik regional yang lebih besar jika tidak segera ditangani melalui meja perundingan.
“Dialog dan negosiasi tetap menjadi satu-satunya jalan ke depan untuk menyelesaikan konflik yang semakin berlarut-larut,” tegas Menteri Luar Negeri China Wang Yi.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Wang Yi menegaskan kembali komitmen dan dukungan penuh Beijing terhadap kedaulatan serta keamanan nasional Iran. Pihak China secara konsisten menyalahkan tindakan Amerika Serikat dan Israel atas terjadinya eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Selama ini, Tiongkok dikenal sebagai mitra dagang terbesar sekaligus pembeli utama komoditas minyak mentah dari Iran.
Meskipun memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Teheran, aktivitas diplomatik Beijing sebelumnya sempat dinilai belum menunjukkan hasil substantif dalam menghentikan konflik. Laporan media internasional Al Jazeera menilai intensifikasi pertemuan tingkat tinggi ini mengindikasikan semakin meningkatnya ketidaksabaran pihak Tiongkok terhadap perkembangan ketegangan geopolitik yang tak kunjung mereda.
Guna memperkuat jangkauan diplomasinya, Beijing juga telah menugaskan utusan khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, untuk melakukan serangkaian kunjungan kerja pada bulan ini. Zhai Jun dijadwalkan bakal melawat ke Iran, Oman, dan Arab Saudi demi membangun komunikasi intensif serta memfasilitasi dialog antarpihak yang bertikai di kawasan strategis tersebut.
Pada saat yang bersamaan, Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan dari Sultan Oman Haitham bin Tariq di Beijing. Pertemuan puncak ini mencatatkan sejarah baru karena menjadi kunjungan resmi pertama kepala negara Oman ke Tiongkok sejak kedua negara membina hubungan diplomatik pada tahun 1978.
“Timur Tengah dan kawasan Teluk tidak boleh menjadi arena persaingan kekuatan besar dan konflik geopolitik,” ujar Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan bilateral antara Xi Jinping dan Sultan Haitham tersebut menghasilkan penandatanganan 14 dokumen kerja sama strategis antara China dan Oman. Kesepakatan tersebut mencakup berbagai bidang penting, seperti pengembangan kecerdasan buatan, sektor energi ramah lingkungan, penguatan rantai pasokan global, hingga mekanisme pertukaran mata uang antara kedua negara.
Melalui pernyataan bersama yang dikeluarkan seusai pertemuan, China dan Oman mendesak pemulihan keamanan jalur pelayaran kapal di Selat Hormuz. Kedua pihak secara tegas mengimbau Amerika Serikat dan Iran untuk segera duduk bersama dan memulai kembali dialog diplomasinya guna memulihkan kestabilan politik serta keamanan di perairan vital tersebut.
Oman memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena wilayahnya membentang tepat berseberangan dengan Iran di Selat Hormuz, serta menguasai sejumlah pelabuhan penting di luar jalur perairan sempit tersebut. Sebelum perang mengganggu jalur maritim kawasan, sekitar seperlima dari total ekspor energi dunia melintas saban hari melalui Selat Hormuz.
Bagi China yang berpredikat sebagai salah satu importir energi terbesar di dunia, jaminan keamanan dan stabilitas di Selat Hormuz menjadi kepentingan ekonomi yang tidak bisa ditawar. Pentingnya keberadaan pelabuhan-pelabuhan Oman di luar jalur selat menjadikan hubungan antara Beijing dan Muscat semakin bernilai strategis di tengah gangguan impor energi yang terus membayangi akibat pertempuran.


