kalselupdate.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi masih akan berada dalam tekanan pelemahan hingga penghujung tahun 2026. Mata uang Garuda tersebut bahkan berisiko terperosok ke level Rp18.350 per dolar AS apabila kondisi pasar global dan domestik tidak mengalami perbaikan signifikan dalam waktu dekat.
Pengamat mata uang Lukman Leong menjelaskan bahwa tren pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan. Dari sisi eksternal, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, serta tingginya harga minyak dunia menjadi penekan utama bagi stabilitas kurs rupiah di pasar keuangan internasional.
“Tekanan terhadap rupiah masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun, terutama karena ketidakpastian terkait MSCI, arus keluar modal asing, serta tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak,” tegas Lukman Leong, Pengamat Mata Uang.
Faktor internal yang turut memperburuk situasi adalah laporan MSCI mengenai pasar modal Indonesia yang memicu kekhawatiran investor. Sentimen ini mendorong terjadinya arus keluar modal asing atau capital outflow yang secara langsung mengurangi pasokan valuta asing di dalam negeri. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, ruang penguatan bagi rupiah dinilai sangat terbatas sehingga mata uang ini sulit kembali ke level Rp17.000-an.
Lebih lanjut, Lukman menyebutkan bahwa kondisi tekanan ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga awal tahun 2027. Perbaikan posisi rupiah sangat bergantung pada perubahan fundamental yang nyata, seperti pengukuhan status pasar oleh MSCI, berakhirnya konflik di Timur Tengah, serta penurunan harga minyak mentah global. Tanpa adanya katalis positif tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah menuju Rp18.350 per dolar AS menjadi skenario yang paling mungkin terjadi di akhir tahun.
Senada dengan pandangan tersebut, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memproyeksikan pergerakan rupiah akan tertahan di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS sampai kuartal keempat berakhir. Ia menilai sangat sulit bagi rupiah untuk menembus ke arah penguatan di level Rp17.000 atau justru terperosok lebih dalam hingga melampaui Rp18.200 per dolar AS dalam waktu dekat.
Tauhid menyoroti bahwa peran Bank Indonesia (BI) akan menjadi penentu krusial dalam menahan laju depresiasi mata uang nasional. Menurutnya, BI akan berupaya melakukan langkah intervensi maksimal, termasuk dengan mendorong instrumen lindung nilai seperti swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk memberikan perlindungan bagi pelaku pasar.
Meskipun otoritas moneter dipastikan bakal mengerahkan segala upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun ketergantungan pada dinamika global tetap menjadi tantangan berat. Langkah all-out yang diambil oleh BI ditujukan agar rupiah tidak terpuruk lebih dalam, namun realitas pasar menunjukkan bahwa kembali ke level di bawah Rp18.000 per dolar AS merupakan tantangan yang sangat berat untuk dicapai dalam waktu singkat.
Data pasar menunjukkan bahwa pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11/2026), dolar AS sempat berada di level Rp18.145 sebelum akhirnya sedikit menguat ke posisi Rp18.160. Pergerakan yang variatif ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar terhadap berbagai sentimen global yang sedang berkembang. Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari otoritas terkait dalam menanggapi tekanan ekonomi yang diprediksi masih akan berlanjut setidaknya hingga akhir periode tahun berjalan.


