kalselupdate.id — Pemadaman listrik massal melanda sebagian besar wilayah Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (12/10/2026). Gangguan sistem interkoneksi kelistrikan Batam-Bintan ini mulai terjadi sejak pukul 06.30 WIB dan memberikan dampak domino yang signifikan bagi kehidupan warga sehari-hari. Selain aliran listrik yang terputus total hingga belasan jam, masyarakat juga harus menghadapi kendala ketersediaan air bersih serta sulitnya mengakses layanan sinyal seluler dan internet.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Situasi tersebut memicu gelombang keluhan dari warga yang memadati berbagai platform media sosial sepanjang hari. Banyak warga mengungkapkan kesulitan dalam beraktivitas, mulai dari hambatan saat bekerja hingga kendala dalam berkomunikasi dengan keluarga. Kondisi ini diperparah dengan suhu udara yang panas, sementara kebutuhan dasar seperti air bersih tidak dapat terpenuhi secara optimal akibat pompa air yang mati total di banyak kawasan.

Keluhan warga mencerminkan betapa vitalnya ketersediaan energi listrik bagi mobilitas penduduk. Beberapa warga mengaku terpaksa harus berdiam diri di rumah tanpa informasi yang memadai karena perangkat seluler mereka kehabisan daya. Sebagian pekerja bahkan melaporkan bahwa mereka tidak dapat menuntaskan tugas kantor karena koneksi internet yang terputus, sementara layanan pesan antar makanan daring juga tidak berfungsi akibat ketiadaan listrik di sisi penyedia layanan maupun pelanggan.

“Pemadaman listrik berdampak pada operasional Water Treatment Plant di beberapa lokasi, yaitu Ladi, Harapan, Muka Kuning, Piayu, Tembesi, Nongsa dan Duriangkang,” ujar Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait.

Pihak BP Batam menjelaskan bahwa instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) di sejumlah wilayah mengalami penurunan kapasitas produksi yang drastis. Meskipun telah berupaya menggunakan genset sebagai sumber daya cadangan, kapasitas distribusi air bersih hanya mampu dipertahankan sekitar 30 persen dari kebutuhan normal. Kondisi ini membuat sejumlah warga di area seperti Batu Aji dan Tiban tetap kesulitan mendapatkan air bersih meskipun aliran listrik di rumah mereka telah kembali menyala pada Senin malam.

Data dari PT PLN Batam mencatat sebanyak 411.219 pelanggan terdampak akibat gangguan yang melanda sistem kelistrikan Batam-Bintan tersebut. Hingga Senin malam pukul 22.45 WIB, pihak PLN menyatakan sekitar 55,6 persen pelanggan atau sebanyak 228.480 sambungan telah kembali mendapatkan pasokan listrik secara bertahap. Sementara itu, sekitar 182.739 pelanggan lainnya masih harus menunggu proses pemulihan lebih lanjut karena gangguan pada beban kelistrikan yang mencapai 578,2 megawatt.

Proses perbaikan dilakukan secara intensif dengan memprioritaskan fasilitas publik yang bersifat vital seperti rumah sakit, bandara, serta pelabuhan. Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam, Rudi Antono, mengonfirmasi bahwa tim teknis terus bekerja di lapangan untuk memulihkan 15 gardu induk yang mengalami gangguan. Hingga saat ini, pihak PLN Batam masih melakukan investigasi mendalam guna mengetahui penyebab pasti di balik gangguan sistem kelistrikan yang meluas tersebut.

Manajemen PT PLN Batam telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Mereka juga mengapresiasi kesabaran warga selama proses pemulihan infrastruktur energi berlangsung. Di sisi lain, pemerintah setempat mengimbau agar masyarakat tetap bijak dalam menggunakan air bersih selama masa transisi pemulihan sistem, serta menyiapkan cadangan secukupnya untuk mengantisipasi gangguan teknis yang mungkin masih terjadi di masa mendatang.