kalselupdate.id — Badan Meteorologi Jepang membatalkan peringatan gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 9,9 setelah instrumen pemantauan mereka keliru mengestimasi kekuatan dan titik pusat getaran. Peringatan dini yang sempat disiarkan secara luas pada Jumat siang tersebut memicu kepanikan publik serta menimbulkan gangguan sesaat pada moda transportasi umum di beberapa wilayah negara tersebut.
Berdasarkan keterangan resmi Badan Meteorologi Jepang, kekeliruan tersebut bermula dari anomali sistem komputer dalam menentukan koordinat pusat gempa bumi secara presisi. Akibat kesalahan perhitungan pada algoritma awal, sistem otomatis langsung mengkalkulasi magnitudo gempa jauh melampaui skala sebenarnya hingga menyentuh angka katastrofik 9,9.
Peringatan darurat tersebut tercatat disiarkan secara serentak pada pukul 12.40 siang waktu setempat. Wilayah cakupan peringatan mencakup kawasan yang sangat luas, membentang dari wilayah utara hingga tengah Jepang, dengan laporan awal yang mengidentifikasi pusat gempa berada di Kepulauan Chishima atau Kepulauan Kuril di lepas pantai Hokkaido.
Penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas terkait mengonfirmasi bahwa peristiwa seismik yang sebenarnya terjadi adalah gempa bermagnitudo 6,9. Pusat gempa sesungguhnya terdeteksi berada di dekat Semenanjung Kamchatka, wilayah Rusia, dengan kedalaman hiposentrum mencapai 160 kilometer dan tercatat terjadi sekitar pukul 12.38 siang, atau dua menit sebelum alarm darurat berbunyi.
Pesan peringatan yang terlanjur menyebar luas sempat memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat. Hal ini terjadi lantaran peringatan dini tersebut menginstruksikan warga agar segera bersiap menghadapi guncangan hebat hingga level 7, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam skala intensitas seismik nasional Jepang.
Proyeksi guncangan dahsyat tersebut nyatanya tidak terbukti di lapangan. Badan Meteorologi Jepang mencatat intensitas getaran terkuat yang benar-benar dirasakan warga hanya berada di level 1 di wilayah Hakodate, yang terletak di bagian barat daya Prefektur Hokkaido, sehingga tidak menimbulkan kerusakan fisik apa pun.
Kendati demikian, dampak operasional sempat terasa seketika alarm otomatis berbunyi di ruang publik. Sebanyak 14 rangkaian trem di Kota Sapporo, Hokkaido, sempat dihentikan perjalanannya selama beberapa menit oleh pihak pengelola guna memastikan jalur lintasan dan infrastruktur berada dalam kondisi aman sebelum operasional kembali dilanjutkan.
Gangguan perjalanan juga sempat membayangi operasional kereta cepat shinkansen di koridor jalur Tokaido, tepatnya pada rute antara stasiun Shin-Yokohama dan Toyohashi. Kendati operasional sempat tertahan sementara, operator JR Central kemudian menyatakan bahwa penghentian jadwal kereta tersebut bukan disebabkan secara langsung oleh peringatan gempa palsu tersebut.
Pihak otoritas meteorologi akhirnya secara resmi mencabut peringatan darurat tersebut delapan menit setelah pesan pertama kali disebarkan. Selama rentang waktu delapan menit itu, jutaan warga sempat menerima notifikasi darurat berulang yang berdering serentak di ponsel pintar, siaran televisi, siaran radio, hingga sistem pengeras suara luar ruang milik pemerintah daerah.
Menanggapi kegemparan publik akibat kesalahan teknis ini, juru bicara pemerintah federal menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan dan beban yang ditimbulkan kepada seluruh lapisan masyarakat maupun sektor usaha.
“Kami telah menimbulkan kekhawatiran yang besar serta membebani pihak-pihak yang mencari tempat berlindung atau mengambil langkah demi keselamatan mereka, begitu pula pihak lain seperti sistem transportasi dan dunia usaha yang turut terdampak,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara dalam konferensi pers.
Insiden alarm palsu berskala besar ini menjadi perhatian tersendiri bagi otoritas mitigasi bencana di Jepang. Evaluasi menyeluruh terhadap keandalan algoritma komputer pemantau terus dilakukan agar kesalahan serupa tidak terulang di masa depan dan tetap menjaga kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan darurat nasional.


