kalselupdate.id — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kawasan Asia Tenggara saat ini tengah menghadapi salah satu krisis kabut asap lintas batas paling serius dalam sejarah. Fenomena ini dipicu oleh intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di wilayah Indonesia, sehingga dampaknya meluas hingga ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Direktur Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyoroti tingkat keparahan situasi ini. Ia menilai bahwa kondisi udara di wilayah terdampak telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan bagi kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

“Menurut saya, peristiwa yang sedang kita alami saat ini merupakan salah satu kejadian kabut asap lintas batas yang paling parah, bahkan mungkin yang terburuk, yang berdampak ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan negara-negara lain,” ujar Direktur Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill.

Churchill menambahkan bahwa pihaknya memprediksi kabut asap ini masih akan terus menyelimuti kawasan dalam waktu dekat. Ia sangat berharap kondisi atmosfer dapat segera membaik seiring dengan perubahan pola musim serta intensitas curah hujan yang lebih tinggi di lokasi titik api, yang diharapkan mampu membantu proses pemadaman secara alami di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Meskipun pemerintah Indonesia telah berupaya maksimal melalui pengerahan personel di lapangan serta pemanfaatan teknologi rekayasa cuaca, Churchill menekankan bahwa intervensi manusia memiliki keterbatasan. Menurut pandangannya, faktor alam berupa hujan yang turun secara berkelanjutan menjadi kunci utama dalam memadamkan api yang telah meluas di berbagai titik lahan gambut dan hutan di Indonesia.

Terkait manajemen krisis di masa depan, WMO mendorong negara-negara ASEAN untuk mulai mempertimbangkan model kerja sama lintas negara yang lebih kolaboratif dalam penanganan karhutla. Ia mencontohkan keberhasilan model penanganan kebakaran di Australia yang mampu memobilisasi sumber daya bersama ketika menghadapi ancaman bencana yang melampaui kapasitas satu negara saja.

Strategi tersebut mencakup pembentukan aliansi untuk berbagi peralatan berat, helikopter, pesawat pemadam kebakaran, hingga tenaga ahli yang siap diterjunkan ke titik api tanpa memandang batas negara. Churchill meyakini bahwa investasi bersama dalam peralatan pemadam kebakaran yang terstandarisasi di tingkat ASEAN akan memberikan respons yang jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan upaya mandiri yang terfragmentasi.

Fenomena El Nino yang memperburuk kondisi iklim global juga menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla adalah risiko nyata bagi setiap negara di kawasan ini. Oleh karena itu, sinergi antar menteri di lingkup ASEAN sangat krusial untuk segera diwujudkan, terutama dalam aspek pemanfaatan teknologi prakiraan cuaca serta pertukaran data mengenai pergerakan api di lapangan.

Di sisi lain, situasi di lapangan memang menunjukkan urgensi yang tinggi. Pekan lalu, indeks polusi udara di Singapura tercatat mencapai angka 288 pada sore hari, yang dikategorikan dalam level tidak sehat dan menjadi catatan tertinggi sejak tahun 2015. Sementara itu, wilayah Sarawak di Malaysia sebelumnya juga sempat melaporkan kualitas udara dalam kategori berbahaya akibat kiriman asap yang terbawa oleh arah angin.

Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan sinyal keterbukaan untuk menerima bantuan dari negara-negara tetangga dalam upaya menanggulangi karhutla yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kerja sama internasional yang melibatkan teknologi canggih dan pengalaman praktis dari para ahli diyakini sebagai langkah paling rasional untuk menghentikan siklus tahunan kabut asap yang terus berulang dan merugikan banyak pihak di kawasan Asia Tenggara.