kalselupdate.id — Sebanyak 92 siswa salah satu SMP Negeri di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, harus dilarikan ke rumah sakit pada Rabu (21/10/2026). Para pelajar tersebut diduga mengalami gejala keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hingga saat ini, puluhan siswa tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif serta perawatan medis di Rumah Sakit Paru (RSPG) Cisarua. Pihak kepolisian bersama otoritas kesehatan setempat telah bergerak cepat melakukan proses evakuasi dan pendataan terhadap para korban yang sempat jatuh sakit usai menyantap makanan yang dibagikan tersebut.

“Iya, diduga keracunan, sementara yang di rumah sakit ada 92 orang,” ujar Kapolsek Cisarua Kompol Budi Suratman.

Kompol Budi Suratman menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan total keseluruhan siswa yang terpapar. Hal ini dikarenakan proses evakuasi masih berlangsung, baik bagi siswa yang berada di lingkungan sekolah maupun mereka yang sudah sempat kembali ke rumah masing-masing setelah merasakan gejala gangguan kesehatan.

Terkait penyebab pasti dari dugaan keracunan tersebut, pihak kepolisian menegaskan bahwa wewenang penyelidikan medis berada di tangan dokter. Aparat kepolisian sejauh ini hanya memfokuskan diri pada pengamanan lokasi dan memastikan seluruh siswa yang terdampak mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin di fasilitas kesehatan terdekat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, menyatakan bahwa pihaknya telah menurunkan tim medis untuk menangani kejadian ini. Penanganan dilakukan secara kolaboratif antara Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat, dan pihak RSPG Cisarua untuk memastikan kondisi kesehatan para siswa segera stabil.

Kejadian ini menambah deretan peristiwa serupa terkait dugaan keracunan massal yang terjadi setelah menyantap menu makanan bergizi di sekolah. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel sisa makanan untuk menentukan apakah benar terdapat kandungan berbahaya yang memicu gangguan kesehatan pada puluhan siswa tersebut. Saat ini, situasi di lingkungan sekolah dan rumah sakit masih dalam pemantauan ketat oleh otoritas terkait guna memastikan tidak ada korban tambahan yang belum tertangani.