kalselupdate.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya keras menggalang dukungan dari para pemilih di tengah persaingan ketat pada pemilu legislatif pertama sejak meletusnya serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam seruan kuncinya, pimpinan pemerintahan Israel tersebut meminta para pendukungnya untuk membatalkan seluruh kegiatan rekreasi dan segera mendatangi tempat pemungutan suara demi mengamankan kemenangan partainya.
Suasana pemungutan suara kian memanas setelah Netanyahu menyerukan agar seluruh tempat pemungutan suara tetap dibuka melebihi jadwal penutupan resmi pada pukul 22.00 waktu setempat. Langkah kontroversial ini diiringi dengan tuduhan langsung dari Netanyahu yang menyebut bahwa komunitas warga Arab di Israel berupaya untuk mencuri hasil pemilihan umum, sehingga memicu gelombang protes serta tudingan intimidasi dari kelompok minoritas tersebut.
“Kita tidak bisa membiarkan pertarungan ini berakhir di tangan kelompok kiri dan partai-partai Arab yang ingin mengakhiri negara Yahudi. Jadi, jangan ada acara barbeku, jangan pergi ke pantai. Pergilah ke TPS dan pilih Likud,” tegas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pernyataan keras yang disampaikan Netanyahu di hadapan para pendukung fanatiknya di wilayah basis Partai Likud tersebut mencerminkan tingginya tensi politik yang terjadi sepanjang hari pemungutan suara. Retorika yang menyerang kelompok oposisi dan minoritas Arab ini dinilai banyak pihak sebagai strategi keputusasaan untuk mendongkrak partisipasi pemilih sayap kanan yang kekuatannya terancam oleh koalisi rival.
Tuduhan yang dilontarkan oleh PM Israel mengenai dugaan kecurangan oleh pemilih Arab langsung memicu kekhawatiran meluas akan adanya upaya intimidasi di TPS yang berada di pemukiman warga Arab. Komunitas minoritas Arab Israel, yang mencakup porsi signifikan dari total populasi, menegaskan bahwa tudingan tersebut merupakan bentuk propaganda berbahaya yang bertujuan untuk membatasi hak pilih serta mendegradasi legitimasi partisipasi politik mereka.
Di sisi lain, Komite Pemilihan Umum Israel melaporkan bahwa tingkat partisipasi pemilih secara nasional menunjukkan angka yang sangat tinggi. Hingga pukul 18.00 waktu setempat, angka partisipasi masyarakat telah mencapai 66,7 persen. Catatan tersebut menjadi rekor partisipasi tertinggi pada jam yang sama sejak sistem pencatatan statistik pemilu semacam ini mulai diperkenalkan pada tahun 1973.
Tingginya antusiasme masyarakat untuk mendatangi TPS tidak lepas dari latar belakang penyelenggaraan pemilu yang berlangsung di bawah bayang-bayang konflik bersenjata berkepanjangan. Trauma mendalam akibat serangan fatal pada 7 Oktober 2023 serta perang regional yang meletus di berbagai front menjadikan isu keamanan nasional, stabilitas pertahanan, dan akuntabilitas kepemimpinan pemerintah sebagai topik utama dalam kampanye seluruh fraksi politik.
Selain dinamika domestik, pelaksanaan pemungutan suara ini juga diwarnai oleh tekanan internasional yang terus meningkat terhadap Israel. Tekanan diplomatik global tersebut dipicu oleh konflik terbuka dengan Iran, operasi militer berskala besar yang menghancurkan berbagai kawasan di Jalur Gaza, kebijakan perluasan permukiman Yahudi, hingga eskalasi kekerasan yang terus berlanjut di wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Berdasarkan hasil jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan sebelum hari pemungutan suara, Netanyahu yang tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel, terlibat persaingan yang sangat ketat dengan rival utamanya, Gadi Eisenkot. Eisenkot merupakan tokoh politik berhaluan tengah dari Partai Yashar yang sebelumnya pernah mengemban amanat sebagai kepala staf militer Israel.
Gaya kepemimpinan Gadi Eisenkot yang dikenal tenang, terukur, dan berpengalaman di bidang militer dinilai para pengamat memberikan kontras yang sangat tajam jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan Netanyahu yang agresif dan telah mendominasi panggung politik Israel selama beberapa dekade. Perbedaan karakter ini menjadi salah satu pertimbangan utama bagi para pemilih dalam menentukan arah masa depan negara tersebut.
Menanggapi manuver Netanyahu yang meminta perpanjangan waktu pemungutan suara, Partai Yashar yang dipimpin oleh Eisenkot secara tegas mengeluarkan peringatan resmi. Pihak oposisi menilai Netanyahu tengah menyusun landasan narasi untuk menggugat atau menolak hasil akhir pemilu jika hasilnya tidak menguntungkan posisi politiknya dan Partai Likud.
Partai Yashar juga menolak keras permintaan perpanjangan jam operasional TPS karena menilai situasi di seluruh wilayah hukum pemungutan suara berjalan aman dan lancar tanpa adanya insiden luar biasa yang dapat dijadikan alasan pembenar atas perpanjangan waktu tersebut. Mereka mengimbau lembaga penyelenggara pemilu untuk tetap patuh pada aturan hukum yang berlaku.
Sebelum menyalurkan hak pilihnya di TPS, Gadi Eisenkot yang kini berusia 66 tahun menyempatkan diri melakukan kunjungan tertutup ke makam putranya, Gal. Putra Eisenkot tersebut gugur saat menjalankan tugas militer dalam pertempuran sengit di Jalur Gaza, sebuah peristiwa duka yang mendatangkan empati luas dari masyarakat Israel dan semakin menguatkan profil politik Eisenkot di mata publik.
“Pemerintahan terburuk sejak negara ini didirikan,” ujar Pemimpin Partai Yashar Gadi Eisenkot usai memberikan hak pilihnya.
Usai melakukan ziarah dan memberikan suara di TPS, Eisenkot secara terbuka menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Israel untuk menggunakan hak pilih mereka secara bijak guna menghentikan kepemimpinan Netanyahu. Eisenkot menegaskan bahwa pemilu kali ini merupakan momentum krusial bagi warga negara untuk melakukan perubahan mendasar dan mengganti jajaran pemerintahan yang ia nilai gagal menjaga keamanan serta stabilitas bangsa.


