kalselupdate.id — Iran menegaskan kesiapan penuh militernya untuk menghadapi segala kemungkinan serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat maupun Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa seluruh pasukannya kini berada dalam kondisi siaga tinggi dan tidak akan lengah sedikit pun dalam merespons ancaman musuh yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Ketegangan yang kian meningkat di kawasan tersebut memicu Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk memerintahkan para komandan militer agar bersiaga penuh menghadapi berbagai potensi eskalasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wakil Urusan Politik IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, menjelaskan bahwa militer Iran saat ini beroperasi dengan asumsi bahwa serangan dari pihak lawan dapat dilancarkan kapan saja. Oleh karena itu, Teheran telah menyusun berbagai langkah strategis untuk memitigasi risiko tersebut. Menurut Javani, kemampuan pertahanan Iran telah berkembang pesat dan tidak lagi terbatas pada aspek defensif semata, melainkan mencakup kemampuan untuk melakukan operasi preventif hingga ofensif yang terukur.

“Sepenuhnya siap menghadapi skenario apa pun yang mungkin dirancang oleh musuh,” tegas Brigadir Jenderal Yadollah Javani, Wakil Urusan Politik IRGC.

Javani menambahkan bahwa kekuatan militer Iran mampu memberikan perlawanan berat, termasuk ancaman terhadap kapal-kapal perang Amerika Serikat di wilayah perairan strategis. Ia juga menegaskan bahwa setiap wilayah yang dimasuki pasukan musuh, baik melalui serangan udara maupun lintas perbatasan, akan segera berubah menjadi medan pertempuran yang mematikan bagi pihak penyerang. Pernyataan ini mencerminkan doktrin pertahanan Iran yang menekankan pada efektivitas respons cepat.

Senada dengan hal tersebut, anggota senior parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menekankan bahwa respons Iran terhadap ancaman tidak akan dibatasi oleh batasan geografis maupun target spesifik. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran ini menyebut perintah dari Mojtaba Khamenei kepada jajaran militer bersifat final dan mengikat. Ia memastikan bahwa setiap ancaman yang datang akan dibalas dengan tindakan yang jauh lebih keras dibandingkan aksi-aksi sebelumnya, tanpa memberikan ruang negosiasi bagi pihak lawan.

Mojtaba Khamenei sebelumnya secara tegas memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel agar tidak mencoba melancarkan serangan militer baru. Pemimpin Tertinggi Iran tersebut menyatakan bahwa jika musuh kembali berulah, maka bangsa Iran beserta angkatan bersenjatanya memegang kendali penuh untuk menentukan waktu dan kondisi yang tepat guna mengakhiri pertempuran. Khamenei bahkan telah menginstruksikan pembaruan daftar target strategis dengan menyertakan berbagai aset penting milik Amerika Serikat dan Israel sebagai langkah antisipasi.

Di sisi lain, dinamika politik di Washington masih menunjukkan ketidakpastian mengenai langkah militer selanjutnya. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan dalam sebuah konferensi pers di Atlanta bahwa meskipun tujuan militer dapat dicapai jika diinginkan, Presiden Donald Trump hingga kini belum mengambil keputusan final terkait tindakan ofensif lanjutan terhadap Iran. Situasi yang menggantung ini membuat peluang terjadinya konflik terbuka tetap ada di tengah upaya diplomasi yang masih terus diupayakan oleh berbagai pihak internasional.

Menanggapi situasi yang kian memanas, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mendesak agar perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran segera diselesaikan melalui jalur diplomasi. Fidan menekankan pentingnya menjaga stabilitas di jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz agar tidak terganggu oleh konflik militer yang berkepanjangan. Sebagian besar komunitas internasional sepakat bahwa eskalasi baru harus dihindari guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.