kalselupdate.id — Pemerintah Indonesia memutuskan untuk belum mengekspor pasokan listrik ke Singapura dalam waktu dekat. Kebijakan ini diambil lantaran belum adanya kesepakatan mengenai harga jual yang saling menguntungkan bagi kedua negara, serta pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri yang masih menjadi prioritas utama nasional.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa peluang pengiriman energi listrik ke negara tetangga tersebut sebenarnya masih terbuka. Namun, syarat utamanya adalah pihak Singapura harus menyetujui patokan harga yang telah dihitung secara resmi oleh pemerintah Indonesia.
Menurut Bahlil, skema kerja sama internasional di sektor energi harus membawa kemanfaatan yang seimbang bagi kedua belah pihak. Penentuan tarif listrik yang akan diekspor telah dipersiapkan secara cermat oleh Kementerian ESDM melalui pengajuan proposal resmi agar tidak merugikan kepentingan nasional.
“Kalau harganya belum cocok, kita tidak bisa. Karena itu saya meminta untuk Danantara tidak boleh dilobi untuk mau mengikuti agar harga bisa turun, karena ESDM sudah membuat perhitungan harganya sesuai dengan proposal,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia juga mengingatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) agar tetap berpegang teguh pada formula harga yang telah ditetapkan. Pemerintah menolak segala bentuk penawaran yang berpotensi menekan tarif penjualan listrik Indonesia di bawah standar keekonomian yang telah dirumuskan.
Apabila kesepakatan nilai keekonomian tersebut tidak dapat dicapai, pemerintah memastikan tidak akan ragu untuk mengalihkan seluruh alokasi energi listrik demi mencukupi konsumsi domestik. Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat pertumbuhan industri dan kebutuhan daya listrik masyarakat di dalam negeri terus mengalami peningkatan.
“Tetapi kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri. Kita harus memenuhi dulu apa yang menjadi kebutuhan kita di domestik,” kata Bahlil menegaskan.
Pernyataan senada juga disampaikannya dalam acara Minerba Convex 2026. Bahlil memastikan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian mengenai waktu realisasi ekspor pasokan daya ke Singapura karena Indonesia sendiri masih memerlukan pasokan energi dalam jumlah besar untuk mendukung pembangunan ekonomi.
Dengan demikian, keberlanjutan rencana ekspor listrik ke Singapura kini sepenuhnya bergantung pada kesediaan negara pembeli untuk menyesuaikan harga sesuai penawaran Indonesia. Selama negosiasi belum menemui titik temu, seluruh sumber daya listrik nasional akan difokuskan sepenuhnya untuk memperkuat ketahanan energi di dalam negeri.


