kalselupdate.id — Badan Pusat Statistik (BPS) bersama S&P Global resmi mengumumkan sejumlah data makroekonomi Indonesia pada Senin (2/11). Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Oktober 2026 tercatat melandai ke level 3,23 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), turun dari posisi bulan sebelumnya yang berada di angka 3,28 persen YoY. Angka realisasi inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan ekspektasi konsensus pasar yang memperkirakan inflasi berada di kisaran 3,30 persen YoY.
Secara bulanan, inflasi IHK mencapai 0,22 persen month-to-month (MoM), dengan tekanan utama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga pada komoditas cabai rawit, cabai merah, beras, daging sapi, dan daging ayam ras menjadi faktor pendorong utama inflasi bulanan tersebut. Sementara itu, inflasi inti juga menunjukkan tren penurunan ke level 2,56 persen YoY, lebih rendah dari proyeksi konsensus sebesar 2,7 persen YoY.
Penurunan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh efek dasar yang tinggi atau high-base effect dari harga emas perhiasan pada periode Oktober 2025. Di sisi lain, harga beras di tingkat eceran sempat menyentuh level tertinggi sepanjang tahun ini, yakni Rp15.765 per kilogram pada Oktober 2026 dibandingkan Januari yang berada di posisi Rp15.013 per kilogram. Fenomena harga beras ini menjadi perhatian khusus karena menyumbang andil yang cukup signifikan terhadap komponen harga bergejolak dalam struktur inflasi IHK.
Di sektor eksternal, Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Capaian ini melampaui ekspektasi konsensus yang sebelumnya memproyeksikan surplus di angka US$1,79 miliar. Kinerja surplus tersebut ditopang kuat oleh sektor non-migas yang mencatatkan surplus hingga US$5,67 miliar, terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 17 persen secara tahunan.
Sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit atau CPO memainkan peran krusial dalam menopang neraca perdagangan, sementara ekspor sektor pertambangan mengalami penurunan sebesar 9 persen YoY akibat melemahnya permintaan bijih tembaga. Sebaliknya, sektor migas masih mencatatkan defisit sebesar US$2,32 miliar seiring dengan tingginya impor hasil minyak yang melonjak 24 persen secara tahunan. Secara kumulatif, kenaikan nilai ekspor komoditas utama masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga global, meskipun volume ekspor untuk batu bara dan besi baja tercatat mengalami penurunan.
Kondisi manufaktur dalam negeri juga menunjukkan gairah positif dengan kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur ke level 54 pada Oktober 2026. Angka tersebut mencerminkan ekspansi aktivitas pabrik yang terkuat sejak Maret 2024. Peningkatan ini didorong oleh pesanan baru yang tumbuh pesat akibat membaiknya kepercayaan pelanggan dan peluncuran produk-produk baru di pasar.
Produksi output manufaktur tercatat mengalami laju pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir, bahkan pesanan ekspor baru mencatatkan rekor kenaikan sejak survei dimulai pada April 2011. Untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut, perusahaan secara masif menambah pembelian bahan baku. Meskipun terjadi ekspansi, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur hanya menunjukkan kenaikan tipis, sementara inflasi biaya input meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku global.
Ke depan, risiko inflasi tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai, terutama dengan adanya perkiraan penurunan produksi beras pada kuartal keempat tahun 2026 sebesar 16 persen secara tahunan. Selain itu, produsen manufaktur saat ini berada dalam siklus penyesuaian harga jual produk untuk mengompensasi kenaikan biaya produksi. Sentimen pelemahan rupiah juga menambah tekanan bagi otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Para analis memprediksi bahwa Bank Indonesia berpotensi melakukan penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin pada akhir 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Meski demikian, penurunan harga minyak global yang terjadi baru-baru ini diharapkan dapat memberikan sedikit ruang bagi penguatan rupiah. Kinerja neraca dagang yang solid dan PMI manufaktur yang ekspansif diyakini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
Dalam perkembangan sektor korporasi, beberapa emiten besar menunjukkan dinamika kinerja yang beragam. Adaro Andalan Indonesia (AADI) mencatatkan penurunan laba bersih pada kuartal ketiga 2026 akibat gangguan logistik batu bara dan beban pajak. Sementara itu, Telkom Indonesia (TLKM) mengalami penurunan laba bersih yang dipengaruhi oleh kerugian investasi mark-to-market, serta Indofood Sukses Makmur (INDF) yang mencatatkan pemulihan laba bersih yang cukup solid berkat dorongan kinerja segmen konsumer dan agribisnis.


