kalselupdate.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi memberikan peringatan mengenai rencana operasi militer skala besar yang akan segera diluncurkan di wilayah Tepi Barat. Langkah ini diambil sebagai respons tegas pemerintah Israel setelah insiden serangan bersenjata yang terjadi di sebuah pos pemeriksaan dekat Hebron, wilayah selatan Tepi Barat, yang menyebabkan dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Insiden penyerangan tersebut terjadi di tengah situasi politik domestik Israel yang sedang memanas menjelang pemilihan umum. Netanyahu yang menghadapi persaingan ketat dalam kontestasi politik tersebut menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi aksi kekerasan yang menargetkan aparat keamanan. Dua pelaku penyerangan dilaporkan tewas di tempat setelah terlibat baku tembak sengit dengan personel militer Israel saat peristiwa berlangsung.

Dalam kunjungannya ke lokasi kejadian di Hebron, Netanyahu memberikan instruksi langsung kepada jajaran komando militer untuk mempersiapkan langkah ofensif yang belum pernah dilakukan sejak Perang Enam Hari tahun 1967. Operasi tersebut direncanakan akan menyasar lingkungan tempat tinggal para pelaku dengan cara mengevakuasi penduduk setempat guna mempermudah akses penyisiran senjata dan penghancuran infrastruktur yang dianggap sebagai basis kelompok militan.

“Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan menyisir dari rumah ke rumah, kami juga akan menyita senjata-senjata yang ada di sana, serta menangani dan menghancurkan seluruh infrastruktur teroris,” ujar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Netanyahu menjelaskan bahwa militer Israel kini telah memiliki kesiapan penuh untuk melaksanakan mandat tersebut. Meski waktu pelaksanaannya masih dirahasiakan, ia memastikan bahwa operasi tersebut merupakan prioritas pertahanan yang harus dilakukan demi menjamin keamanan wilayah Yudea dan Samaria. Pendekatan yang akan digunakan disebut-sebut mengadopsi model serupa yang telah diterapkan di sejumlah kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, turut memberikan pernyataan dukungan melalui platform media sosial X. Ia menegaskan bahwa setiap lingkungan berbasis klan di Hebron, yang menjadi asal dari para pelaku penyerangan, akan dikosongkan dari penduduknya. Strategi ini serupa dengan operasi militer bertajuk Iron Wall atau Tembok Besi yang diluncurkan sejak Januari 2025 dan telah berdampak pada puluhan ribu warga Palestina.

Laporan dari kantor hak asasi manusia PBB mencatat bahwa operasi militer sebelumnya telah menyebabkan ribuan pengungsi Palestina kehilangan tempat tinggal dan hingga Juli tahun ini belum mendapatkan izin untuk kembali. Di wilayah seperti Jenin dan Tulkarem, militer Israel bahkan dilaporkan masih terus bercokol dengan mendirikan pusat operasional di dalam rumah-rumah penduduk. Penghancuran bangunan padat di lorong-lorong sempit dilakukan untuk mempermudah pergerakan kendaraan lapis baja militer.

Situasi di Tepi Barat kini berada dalam ketegangan tinggi seiring dengan rencana eskalasi militer yang diusung oleh pemerintah Israel. Keberadaan militer di wilayah pendudukan terus menjadi sorotan internasional, terutama terkait dampaknya terhadap masyarakat sipil yang terjebak di tengah konflik berkepanjangan. Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kapan tepatnya fase operasi besar di Hebron tersebut akan dimulai di lapangan.