kalselupdate.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahannya memiliki kemampuan untuk mengakhiri perselisihan dan konflik militer dengan Iran saat ini juga. Kendati demikian, ia menekankan bahwa pihak Washington tidak ingin terburu-buru menarik diri tanpa adanya jaminan bahwa penyelesaian konflik tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang demi stabilitas kawasan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pernyataan mengenai potensi penghentian perang tersebut disampaikan langsung oleh Trump saat berbicara dalam sebuah acara rapat umum politik di Carolina Selatan pada Rabu waktu setempat. Di hadapan para pendukungnya, ia memaparkan pandangan optimis terkait posisi tawar Amerika Serikat yang dinilainya berada di atas angin dalam menghadapi ketegangan bersenjata dengan Teheran.

Dalam pidato tersebut, Trump dengan penuh percaya diri mengklaim bahwa langkah-langkah strategis yang diambil Amerika Serikat telah berhasil menekan Iran secara menyeluruh, baik dari sudut pandang kekuatan militer maupun sektor ketahanan finansial. Menurut penjelasannya, tekanan masif yang diterapkan secara konsisten memastikan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan atau menguasai senjata nuklir.

“Ini akan segera berakhir. Kita bisa pergi sekarang, tetapi kita ingin memastikan ini bertahan untuk waktu yang lama,” tegas Donald Trump.

Selain menyoroti peta kekuatan militer, Trump membeberkan bahwa angkatan bersenjata Amerika Serikat kini telah memberlakukan blokade yang sangat ketat di kawasan Selat Hormuz. Secara sepihak dan penuh percaya diri, ia merujuk jalur perairan vital perdagangan dunia tersebut dengan sebutan baru yakni Selat Trump, sembari membandingkannya dengan langkah historis perubahan nama geografis seperti Teluk Meksiko.

Langkah pengawasan dan blokade di Selat Hormuz menjadi perhatian mendalam mengingat kawasan tersebut merupakan urat nadi utama bagi lalu lintas kapal tanker yang mengangkut pasokan energi fosil global. Penutupan atau gangguan navigasi di wilayah perairan ini secara langsung memicu kekhawatiran global terhadap kelancaran pasokan minyak bumi serta mengganggu rantai pasok logistik maritim antarbenua.

Meskipun Trump menyampaikan pesan bahwa perang mendekati akhir, dinamika berbeda muncul dari laporan investigasi media The New York Times. Laporan yang mengutip sejumlah pejabat anonim dan sumber internal pemerintah tersebut membeberkan bahwa militer Amerika Serikat bersama militer Israel sebenarnya telah merancang draf skenario untuk memperbarui dan melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran.

Rencana pembaruan serangan militer intensif tersebut dirancang untuk dieksekusi setelah pelaksanaan agenda pemilihan umum sela di Amerika Serikat. Kendati draf dan skenario tempur telah disusun secara terperinci oleh para perencana militer kedua negara, kepastian mengenai eksekusi serangan tersebut masih sangat bergantung pada keputusan akhir dari Trump sendiri.

Pertimbangan tersebut menjadi sangat krusial mengingat Trump tercatat berulang kali menggunakan hak vetonya untuk membatalkan serta menolak usulan dari pejabat militer yang menginginkan Amerika Serikat kembali terlibat dalam pertempuran berskala besar sepanjang tahun ini. Keputusan sang presiden dipandang sebagai faktor penentu utama dalam arah kebijakan luar negeri dan tindakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menanggapi bocornya dokumen serta kabar mengenai rencana serangan militer gabungan tersebut, pejabat eksekutif dari Gedung Putih memilih untuk mengambil posisi netral dan menolak memberikan konfirmasi resmi. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak memberikan tanggapan atas rumor mengenai strategi pertahanan yang bersifat rahasia.

“Pemerintah tidak mengomentari rencana militer yang mungkin atau mungkin tidak ada,” ujar seorang pejabat Gedung Putih.

Eskalasi perselisihan bersenjata secara terbuka antara gabungan militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran resmi bereskalasi sejak dimulainya aksi invasi pada 28 Februari lalu. Menganggapi tindakan ofensif tersebut, pemerintah Iran melancarkan balasan balistik melalui gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai titik strategis kawasan, serta secara efektif menutup akses pelayaran di Selat Hormuz.

Upaya diplomasi guna meredakan ketegangan sebenarnya sempat menemui titik terang melalui proses negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Kedua belah pihak bahkan telah menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni lalu, namun proses perdamaian tersebut kini mengalami kemacetan akibat adanya perselisihan mendasar yang belum terselesaikan, khususnya mengenai hak navigasi dan keselamatan pelayaran di jalur laut krusial tersebut.