kalselupdate.id — Seorang peserta ajang lari jarak jauh ITB Ultra Marathon 2026 berinisial D (21) dilaporkan meninggal dunia setelah mendadak kolaps saat melintasi Jalan Raya Bandung, kawasan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Sabtu (17/10/2026). Korban sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat guna memperoleh tindakan medis darurat, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Peristiwa nahas tersebut bermula saat korban tengah menempuh rute lari maraton bersama peserta lainnya di wilayah Cianjur. Berdasarkan rekaman video yang beredar, pemuda berusia 21 tahun itu tampak ambruk dan tergeletak dalam kondisi tidak sadarkan diri di pinggir jalan raya sebelum akhirnya ditemukan dan dievakuasi oleh pengguna jalan yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
Warga serta pengguna jalan yang menyaksikan peristiwa itu segera berupaya melarikan korban ke Rumah Sakit dr. Hafid Cianjur. Tim medis di rumah sakit tersebut langsung melakukan serangkaian prosedur darurat untuk memulihkan kondisi pelari tersebut. Kendati demikian, upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil hingga pihak dokter menyatakan peserta maraton itu meninggal dunia di ruang perawatan.
Pascapemeriksaan medis dan penanganan awal di RS dr. Hafid, jenazah korban kemudian dirujuk menuju Instalasi Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur. Langkah pemindahan ini dilakukan guna melengkapi prosedur penanganan dan pengawetan jenazah sebelum dipulangkan ke daerah asalnya di Provinsi Jambi.
Teknisi Forensik Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Sayang Cianjur, Ghifar, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima kedatangan jenazah pelari tersebut dari rumah sakit rujukan. Saat tiba di RSUD Sayang pada Sabtu malam, jasad korban sudah selesai dipulasara dan terbungkus rapi menggunakan kain kafan.
“Kami menerima kiriman jenazah, dan atas permintaan pihak keluarga diminta untuk memformalin sebagai persyaratan perjalanan ke Jambi,” tutur Ghifar saat ditemui di RSUD Sayang Cianjur.
Proses pemberian formalin tersebut merupakan syarat administratif dan kesehatan dalam prosedur pengangkutan jenazah lintas daerah. Ghifar menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu kedatangan rombongan keluarga korban yang sedang menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Cianjur untuk mendampingi langsung kepulangan almarhum ke Jambi.
Terkait penyebab pasti dari peristiwa kolaps yang berujung fatal tersebut, pihak forensik RSUD Sayang Cianjur menyatakan tidak memiliki wewenang atau informasi terperinci mengenai catatan medis almarhum. Seluruh berkas riwayat medis awal berada di bawah kendali RS dr. Hafid selaku pihak pertama yang menangani korban secara langsung. Pihak forensik hanya memastikan bahwa almarhum tercatat sebagai salah satu pelari dalam perlombaan maraton tersebut.
Hingga Sabtu malam, pihak panitia penyelenggara maupun rekan-rekan korban yang mendampingi di rumah sakit belum memberikan keterangan resmi kepada awak media mengenai musibah tersebut. Suasana duka tampak menyelimuti para pendamping yang menunggu penyelesaian administrasi dan kedatangan pihak keluarga dari Jakarta.
Di samping itu, kepolisian setempat serta panitia pelaksana ajang ITB Ultra Marathon belum mengeluarkan rilis tertulis mengenai kronologi detail insiden ini. Belum ada penjelasan lebih lanjut terkait kondisi kesiapan fisik korban maupun pengawasan medis yang menyertai rute perlombaan ekstrem tersebut.
Ajang ITB Ultra Marathon 2026 sendiri diselenggarakan selama tiga hari, terhitung sejak Jumat (16/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026). Perlombaan lari ketahanan fisik ini menempuh jarak sejauh 180 kilometer dengan rute yang membentang dari Jakarta menuju Bandung melewati jalur Puncak dan wilayah Kabupaten Cianjur.

