kalselupdate.id — Dua pesawat militer jenis SF-260 milik Angkatan Udara Filipina bertabrakan di udara saat menjalani misi latihan di Pangkalan Udara Fernando, yang terletak di sebelah selatan Manila. Insiden maut yang terjadi pada Jumat sore waktu setempat tersebut menewaskan sedikitnya empat orang, yang seluruhnya merupakan pilot militer pengawak kedua pesawat.
Peristiwa naas tersebut dikonfirmasi oleh otoritas militer setempat setelah kedua bangkai pesawat berbaling-baling tunggal itu ditemukan jatuh di dalam kompleks pangkalan. Pihak Angkatan Udara Filipina memastikan bahwa seluruh awak yang berada di dalam kedua armada udara tersebut tidak ada yang selamat dalam kecelakaan mematikan ini.
“Kedua pesawat jatuh di dalam area pangkalan, dan tidak ada korban lainnya yang dilaporkan,” kata Juru Bicara Angkatan Udara Filipina, Kolonel Avlin Capinguian.
Pernyataan resmi tersebut mengindikasikan bahwa dampak kehancuran dari insiden benturan udara ini terkonsentrasi sepenuhnya di dalam kawasan perimeter fasilitas militer. Tidak ada warga sipil maupun personel darat di sekitar lokasi Pangkalan Udara Fernando yang dilaporkan menjadi korban terluka akibat jatuhnya serpihan pesawat.
Hingga saat ini, penyebab pasti yang memicu terjadinya benturan antara dua pesawat latih tersebut di udara masih belum dapat dipastikan secara jelas. Tim penyidik khusus dari militer Filipina telah diterjunkan ke lokasi kejadian guna mengumpulkan bukti fisik, mengevaluasi rekaman penerbangan, serta menyelidiki seluruh kronologi sebelum insiden terjadi.
Sebagai tindakan pencegahan dan demi menjamin keselamatan operasional penerbangan, Angkatan Udara Filipina langsung mengambil keputusan tegas untuk membekukan sementara seluruh aktivitas penerbangan armada SF-260. Kebijakan penghentian sementara operasional atau grounding ini berlaku bagi seluruh unit sejenis yang berada di pangkalan-pangkalan udara di seluruh wilayah negara tersebut.
Langkah penghentian sementara operasional pesawat baling-baling tunggal ini dilakukan sampai seluruh proses investigasi teknis dan evaluasi kelayakan udara selesai dilaksanakan secara menyeluruh. Otoritas militer menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh terhadap standar kelayakan penerbangan serta prosedur latihan operasional pascainsiden tragis ini.
Kecelakaan ini menambah daftar panjang insiden fatal penerbangan yang melibatkan alutsista milik militer Filipina dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum insiden di Pangkalan Udara Fernando ini, sebuah kecelakaan maut yang melibatkan jenis pesawat militer serupa juga pernah terjadi pada bulan Mei lalu di kawasan utara Filipina.
Dalam peristiwa pada bulan Mei tersebut, sebuah pesawat militer jenis SF-260 jatuh saat menjalankan penerbangan latihan di wilayah Provinsi Benguet. Insiden di Filipina bagian utara itu juga merenggut nyawa dua orang pilot militer yang berada di dalamnya, yang memicu perhatian serius terkait keselamatan penerbangan latihan militer.


