kalselupdate.id — Ancaman penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) berisiko memicu penarikan dana investor asing dalam jumlah signifikan dari pasar domestik. Analisis pasar modal mencatat bahwa estimasi arus keluar (outflow) dana asing dari Bursa Efek Indonesia diproyeksikan mencapai kisaran 8 miliar hingga 11 miliar dolar AS apabila reklasifikasi tersebut terealisasi secara penuh.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Proyeksi potensi tekanan pelepasan aset investor luar negeri tersebut dihitung melalui dua pendekatan analisis utama, yakni metode top-down dan bottom-up. Perhitungan ini memberikan gambaran mengenai besarnya porsi modal asing pasif yang keluar secara mekanis otomatis serta porsi dana aktif yang bergantung pada keputusan manajer investasi global.

“Jika menggabungkan kedua metode perhitungan tersebut, kami memperkirakan terdapat dana asing sebesar 8-11 miliar dollar AS yang berisiko keluar akibat reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market. Dari jumlah tersebut, sekitar 3 miliar dollar AS merupakan dana pasif dan 5-8 miliar dollar AS merupakan dana aktif,” ujar Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin.

Dalam pemaparannya, Wilbert memperjelas bahwa rincian perhitungan berdasarkan pendekatan bottom-up mengacu pada data kepemilikan saham asing yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Oktober 2026 dan harga penutupan saham pada akhir Oktober 2026. Berdasarkan data tersebut, kepemilikan dana yang terdaftar dalam exchange-traded fund (ETF) asing pada 43 saham yang masuk MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) tercatat mencapai 3,8 miliar dolar AS.

Sementara itu, kepemilikan reksa dana asing, baik yang dikelola secara pasif maupun aktif di bursa domestik, mencapai nominal 19,9 miliar dolar AS. Pada saat yang sama, kepemilikan investor institusi global tercatat mencapai 30,4 miliar dolar AS. Pengelompokan data ini semakin mendalam seiring langkah KSEI yang kini membagi kategori investor ke dalam 39 jenis dari yang sebelumnya hanya sembilan jenis, sehingga pemisahan kategori investor dapat diukur secara jauh lebih akurat.

Meski angka kepemilikan investor asing terlihat besar, kisaran angka tersebut mencakup pula dana yang mengacu pada penyedia indeks global lainnya seperti FTSE, serta dana investasi independen yang tidak terikat pada indeks acuan mana pun. Oleh sebab itu, total angka tersebut diposisikan sebagai batas atas maksimal dan bukan estimasi pasti arus keluar. Untuk menyesuaikan estimasi secara presisi, analisis mengasumsikan porsi perbandingan aset MSCI yang mencapai sekitar 6 triliun dolar AS dibandingkan FTSE sekitar 3 triliun dolar AS, dengan asumsi 75 persen reksa dana non-ETF terikat pada indeks.

Hasil perhitungan penyesuaian tersebut menghasilkan estimasi awal bahwa dana pasif yang benar-benar terkait langsung dengan MSCI adalah sebesar 2,5 miliar dolar AS, sedangkan porsi dana reksa dana terhitung sebesar 10,6 miliar dolar AS. Pembobotan ini memberikan gambaran riil mengenai seberapa besar modal luar negeri yang berisiko terhempas dari papan pencatatan saham nasional jika terjadi penurunan peringkat bursa.

Apabila pasar saham Indonesia kemudian dialihkan ke dalam kategori Frontier Market, langkah tersebut diperkirakan hanya mampu menutupi sebagian kecil dari gelombang arus modal keluar. Potensi masuknya dana baru dari indeks Frontier Market diperkirakan paling banyak hanya mencapai 1 miliar dolar AS. Indonesia memang memegang bobot lumayan besar yakni sekitar 20 persen dalam indeks MSCI Frontier Markets, namun total dana global yang mengacu pada indeks tersebut relatif terbatas, yakni sekitar 10 miliar dolar AS.

Dengan memperhitungkan tambahan masuknya modal dari pasar Frontier tersebut, arus keluar bersih dana asing dari bursa Indonesia diproyeksikan tetap berada pada angka yang tinggi, yakni antara 7 miliar hingga 10 miliar dolar AS. Karakteristik penarikan dana juga bervariasi, di mana hanya dana pasif sebesar 3 miliar dolar AS yang bersifat mekanis atau keluar secara otomatis sesuai algoritma indeks, sementara dana aktif sebesar 5 hingga 8 miliar dolar AS sangat fleksibel tergantung pada keputusan manajer investasi.

Manajer investasi aktif memiliki diskresi penuh untuk menentukan apakah mereka tetap mempertahankan atau menjual portofolio saham Indonesia yang mereka pegang. Praktik memegang saham di luar indeks acuan utama (off-benchmark holding) merupakan hal yang lumayan lazim dilakukan oleh pengelola dana global di pasar berkembang. Contoh riil dapat dilihat dari Argentina yang tetap menjadi salah satu negara tujuan investasi off-benchmark yang disukai investor global meskipun statusnya diturunkan menjadi Standalone Market pada 2021.

Dengan bobot bursa Indonesia yang saat ini berada di angka 0,41 persen dalam indeks global, ukuran pasar saham nasional terbilang cukup efisien sehingga jika manajer investasi memutuskan mempertahankan saham Indonesia di luar indeks acuan, biaya lacak kesalahan atau tracking error yang timbul relatif kecil. Keputusan akhir para pengelola dana aktif akan sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka masih melihat nilai fundamental dan prospek imbal hasil investasi di pasar saham Indonesia.

Dampak penarikan dana asing diprediksi tidak akan tersebar secara merata di papan perdagangan, melainkan terkonsentrasi pada saham-saham unggulan. Berdasarkan estimasi, sembilan saham kategori Standard dalam indeks MSCI diperkirakan bakal menanggung tekanan jual paling masif sebesar 7,8 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan 82 persen dari total potensi pelepas modal asing pada kelompok utama yang diperkirakan sebesar 9,5 miliar dolar AS, sementara 34 saham kategori Small Cap dihadapkan pada potensi pelepasan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS.

Pada jajaran saham emiten berkapitalisasi pasar terbesar (blue chip), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten yang berpotensi mengalami tekanan jual asing terbesar, yakni mencapai 2,3 miliar dolar AS atau setara Rp 41,8 triliun. Posisi kedua ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan potensi arus keluar modal sebesar 1,6 miliar dolar AS atau setara Rp 28,9 triliun.

Emiten perbankan plat merah lainnya yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berpotensi mencatatkan pelepasan dana asing sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 23,6 triliun. Dari sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berisiko diterpa aksi jual hingga 800 juta dolar AS atau senilai Rp 15 triliun.

Emiten konglomerasi otomotif dan industri PT Astra International Tbk (ASII) juga diperkirakan menghadapi aksi lepas saham sebesar 700 juta dolar AS atau Rp 13,2 triliun. Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menghadapi potensi penarikan modal asing senilai 400 juta dolar AS atau setara Rp 7,4 triliun, disusul oleh emiten alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 300 juta dolar AS atau senilai Rp 5 triliun.

Dua emiten besar lainnya yang turut masuk dalam perhitungan tekanan jual kategori Standard adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Kedua emiten tersebut masing-masing berpotensi menghadapi tekanan pelepasan saham oleh investor asing senilai 200 juta dolar AS, atau masing-masing setara Rp 3,5 triliun untuk BRPT dan Rp 3,2 triliun untuk BRMS.

Selain besaran nilai dana yang keluar, tingkat ketahanan likuiditas saham dalam menyerap pasokan jual menjadi perhatian penting para pelaku pasar. Saham-saham kategori Standard diperkirakan membutuhkan waktu rata-rata 40 hari perdagangan untuk menyerap habis tekanan jual asing, apabila dihitung berdasarkan rata-rata volume transaksi harian selama tiga bulan terakhir.

Secara lebih rinci, saham BBCA diperkirakan memerlukan durasi 39 hari perdagangan untuk menetralkan tekanan aksi jual tersebut. Sementara itu, BBRI membutuhkan waktu sekitar 40 hari perdagangan, BMRI membutuhkan 37 hari perdagangan, serta TLKM diproyeksikan memerlukan durasi penyerapan sekitar 36 hari perdagangan.

Beberapa emiten blue chip membutuhkan kurun waktu yang lebih panjang untuk menyerap pasokan saham dari investor asing. ASII diperkirakan memerlukan waktu sekitar 54 hari perdagangan, UNTR membutuhkan durasi hingga 51 hari perdagangan, sedangkan BBNI diperkirakan memerlukan waktu penyerapan likuiditas sekitar 45 hari perdagangan.

Di sisi kelompok saham kapitalisasi kecil atau Small Cap, potensi total dana asing yang berisiko keluar mencapai 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp 30,85 triliun. Di dalam kelompok ini, emiten barang konsumsi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan estimasi penarikan dana terbesar yaitu 148,6 juta dolar AS atau setara Rp 2,69 triliun.

Emiten sektor energi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menyusul dengan potensi penarikan dana asing sebesar 111,7 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,02 triliun. Emiten terkait lainnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), diperkirakan menghadapi outflow sebesar 99,8 juta dolar AS atau setara Rp 1,81 triliun.

Tekanan jual juga diproyeksikan menimpa emiten unggas PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebesar 92,2 juta dolar AS atau setara Rp 1,67 triliun, emiten tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 86,7 juta dolar AS atau Rp 1,57 triliun, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 77,9 juta dolar AS atau senilai Rp 1,41 triliun.

Ditinjau dari durasi waktu penyerapan pasokan jual pada kelompok saham Small Cap, emiten semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) tercatat sebagai saham yang membutuhkan waktu paling lama untuk memulihkan kestabilan likuiditasnya, yakni mencapai 75 hari perdagangan.

Sebaliknya, saham-saham yang didukung tingkat likuiditas transaksi harian yang tinggi diproyeksikan sanggup menyerap gelombang tekanan jual dalam waktu jauh lebih singkat. Saham BUMI dan PT Petrosea Tbk (PTRO) diperkirakan hanya memerlukan waktu 3 hari perdagangan untuk menyerap pasokan saham asing, sementara PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) masing-masing membutuhkan durasi sekitar 4 hari perdagangan.