kalselupdate.id — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Djalal, menepis keras tudingan yang menyebut Singapura berkonspirasi untuk menjatuhkan ekonomi serta pasar modal Indonesia melalui Morgan Stanley Capital International (MSCI). Narasi spekulatif yang beredar di publik tersebut dinilainya sama sekali tidak masuk akal dan jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Isu yang belakangan berembus menuding negara tetangga tersebut berusaha merebut aset-aset strategis Indonesia melalui skema penentuan indeks saham MSCI hingga memicu aksi jual murah atau fire sale. Menanggapi hal tersebut, Dino menegaskan bahwa skenario semacam itu tidak memiliki dasar yang kuat dalam konteks hubungan diplomatik maupun ekonomi kedua negara di kawasan Asia Tenggara.
“Pandangan yang belakangan beredar bahwa Singapura sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia, menyabotase ekonomi Indonesia dan melalui MSCI mencoba merebut aset-aset Indonesia dalam situasi fire sale atau jual saham murah, adalah pandangan yang tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya,” tegas Dino Patti Djalal.
Dino yang juga pernah mengemban amanat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat menjelaskan bahwa rekam jejak hubungan bilateral menunjukkan hal sebaliknya. Singapura secara konsisten hadir memberikan bantuan dan menjalin kemitraan erat dengan Indonesia dalam berbagai momen kritis, mulai dari penanganan bencana alam hingga pemulihan krisis ekonomi.
Sejarah mencatat peran aktif Singapura saat mendukung Indonesia menghadapi bencana besar seperti tsunami Aceh dan Nias, gempa bumi, krisis moneter, hingga penanganan pandemi COVID-19. Selain dalam bentuk bantuan darurat, kerja sama strategis juga terbangun berkelanjutan melalui investasi, bidang pendidikan, pertahanan militer, serta pengembangan kawasan ekonomi khusus seperti Batam, Bintan, Karimun, dan Kendal di Jawa Tengah.
Menurut Dino, ketergantungan antarnegara tetangga membuat stabilitas nasional Indonesia menjadi faktor yang sangat vital bagi Singapura. Dampak dari gejolak politik maupun kemerosotan ekonomi di Indonesia akan langsung dirasakan oleh Singapura karena letak geografisnya yang berdampingan secara langsung.
“Mereka adalah salah satu negara yang paling terdampak kalau terjadi gejolak politik dan ekonomi di negara kita. Karena itu, sebagai negara kecil yang secara geografis dihimpit Indonesia dan Malaysia, hukumnya tabu dan haram bagi elite politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia,” ujar Dino Patti Djalal.
Ia menambahkan bahwa prinsip saling menjaga keamanan dan stabilitas tersebut berlaku dua arah, di mana Indonesia pun memegang prinsip yang sama untuk tidak merugikan Singapura. Oleh karena itu, membangun rasa curiga berlebihan atau memperlakukan Singapura seolah-olah sebagai pihak penentang dianggap sebagai langkah yang sangat kontradiktif bagi diplomasi Indonesia.
Dalam konteks dinamika regional saat ini, Dino menguraikan bahwa ujian keharmonisan hubungan kedua negara kerap tecermin dari isu-isu lintas batas, salah satunya masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Penanganan krisis lingkungan ini menjadi tolok ukur kepemimpinan diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Diplomasi yang bijak dalam mengatasi masalah kabut asap dinilai akan semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai pemimpin alamiah atau natural leader di kawasan Asia Tenggara. Langkah tanggap dan kolaboratif akan mengukuhkan martabat serta kebesaran bangsa di mata internasional, alih-alih memicu ketegangan yang tidak perlu dengan negara-negara tetangga.
Dino mencontohkan keberhasilan diplomasi penanganan bencana tsunami Aceh dan Nias pada tahun 2004 silam sebagai bukti nyata kepemimpinan Indonesia. Kala itu, Pemerintah Indonesia mampu mengoordinasikan berbagai bantuan serta kerja sama dengan negara tetangga dan masyarakat internasional secara transparan dan efisien.
Pendekatan diplomasi yang inklusif dan kolaboratif dalam situasi krisis tersebut terbukti mampu menaikkan nilai rasa hormat serta kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Kepercayaan internasional tersebut menjadi modal diplomatik yang sangat berharga dalam menjaga posisi tawar Indonesia di kancah global.
Sikap saling percaya dan memperkuat kemitraan strategis dinilai jauh lebih menguntungkan ketimbang terprovokasi oleh isu-isu konspirasi yang tidak berdasar. Bagi perekonomian dan pasar modal Indonesia, fokus pada penguatan fundamental serta keterbukaan kerja sama regional menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.


