kalselupdate.id — Sejumlah emiten besar di Indonesia, termasuk perusahaan di bawah naungan grup konglomerasi Prajogo Pangestu dan Sinar Mas, secara resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback. Langkah korporasi ini diambil sebagai respons terhadap anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh pengumuman MSCI mengenai konsultasi usulan penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Selain perusahaan dari grup tersebut, emiten berkapitalisasi pasar besar seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Telkom Indonesia (TLKM) juga menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan program buyback yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Meski demikian, daftar emiten yang telah mengumumkan aksi korporasi ini masih tergolong terbatas, sehingga para pelaku pasar menilai bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan adanya dukungan pembelian yang signifikan bagi pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Perkembangan di pasar modal juga diwarnai oleh penyesuaian ketentuan batasan auto rejection bawah (ARB) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 20 Oktober hingga 31 Desember 2026. Untuk saham dengan rentang harga Rp11 hingga Rp14 per lembar, batas ARB kini ditetapkan secara nominal sebesar Rp1, menggantikan aturan sebelumnya yang menggunakan persentase 7 persen. Kebijakan ini diterapkan sebagai bentuk evaluasi dari penerapan ARB asimetris yang diberlakukan sejak sehari sebelumnya.
Di sisi lain, BEI juga tengah merancang kebijakan untuk mengecualikan sekitar 80 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG, dengan total bobot mencapai 18 persen. Meskipun saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan secara normal, mereka tidak akan lagi memberikan kontribusi langsung terhadap pergerakan indeks utama. Kebijakan ini menuai beragam tanggapan dari komunitas investor mengenai kualitas indeks di masa depan.
“IHSG mungkin terlihat lebih baik setelah HSC dikeluarkan, tetapi memperbaiki angka indeks tidak sama dengan memperbaiki kualitas pasar modal karena persoalan transparansi, likuiditas, dan integritas perdagangan masih belum terselesaikan,” ujar salah satu investor komunitas pasar modal.
Sementara itu, kinerja operasional emiten juga menjadi perhatian, seperti PT Semen Indonesia (SMGR) yang mencatat pertumbuhan volume penjualan sebesar 2 persen secara year-on-year selama sembilan bulan pertama tahun 2026, meskipun volume penjualan pada September 2026 sempat mengalami penurunan. Perusahaan juga mencatat pergeseran pangsa pasar domestik yang lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan industri semen secara umum.
Di sektor lain, PT Surya Citra Media (SCMA) dijadwalkan akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp8,4 per saham dengan tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 27 Oktober 2026. Sementara itu, PT Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) melaporkan pertumbuhan same store sales growth (SSSG) sebesar 2,4 persen selama periode sembilan bulan pertama tahun 2026 yang sejalan dengan target manajemen perusahaan.
Rencana ekspansi juga datang dari PT Mutuagung Lestari (MUTU) yang berencana memperluas jangkauan bisnis ke Vietnam serta menjajaki pasar di kawasan Indochina seperti Laos dan Kamboja. Perusahaan tersebut membidik sektor kehutanan, lingkungan, pertanian, hingga layanan inspeksi halal. Dalam langkah strategis tersebut, mereka tengah menjalin kerja sama dengan lembaga riset kehutanan di Vietnam untuk memperkuat basis operasional regional.
Di sisi korporasi lainnya, PT Satu Visi Putra (VISI) akan melaksanakan penerbitan saham baru melalui mekanisme private placement dengan target perolehan dana sekitar Rp120 miliar. Dana dari aksi korporasi ini direncanakan akan digunakan untuk pengembangan usaha, termasuk penyertaan saham pada sektor rumah sakit dan layanan kesehatan. Harga pelaksanaan telah ditetapkan sebesar Rp994 per saham dengan melibatkan pengendali perseroan sebagai pembeli siaga.
Kondisi makroekonomi juga turut membayangi pergerakan pasar, di mana konsensus ekonom memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada pertemuan bulan Oktober. Optimisme ini didorong oleh tingkat inflasi yang masih berada dalam rentang target BI, meskipun tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi tantangan tersendiri setelah pengumuman dari MSCI. Realisasi investasi nasional sendiri terus menunjukkan tren positif dengan mencapai Rp1.539,2 triliun hingga kuartal ketiga 2026, yang mencakup lebih dari 75 persen target investasi tahunan.


