kalselupdate.id — Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, resmi mencalonkan diri sebagai Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Langkah ini diambil sebagai upaya nyata Indonesia dalam mendorong tata kelola kesehatan global yang lebih inklusif dan adil, terutama bagi negara-negara berkembang yang selama ini kerap menghadapi tantangan aksesibilitas sistem kesehatan.
Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperbaiki arsitektur kesehatan dunia. Menurutnya, sistem multilateral yang ada saat ini masih memerlukan reformasi mendasar agar lebih berpihak pada kebutuhan negara-negara berkembang secara proporsional dan transparan.
“Pencalonan Menteri Kesehatan kita sebagai Direktur Jenderal WHO adalah demi arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang,” ujar Arrmanatha Nasir.
Arrmanatha menambahkan bahwa Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pengamat dari luar atau hanya sekadar menyuarakan aspirasi. Pemerintah berkomitmen untuk terlibat aktif di dalam organisasi internasional guna melakukan perbaikan sistemik dari dalam. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan kebijakan yang diambil oleh lembaga dunia lebih representatif dan mampu menjawab tantangan kesehatan nyata di lapangan.
Selain melalui pencalonan di WHO, Indonesia juga tengah memperkuat posisinya di berbagai forum internasional lainnya. Langkah strategis ini mencakup keterlibatan aktif sebagai anggota Badan Auditor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas serta transparansi pengelolaan organisasi internasional secara keseluruhan. Semangat yang sama juga melandasi pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029-2030, di mana Indonesia berupaya mendorong efektivitas dan demokratisasi dalam pengambilan keputusan global.
Proses pemilihan Direktur Jenderal WHO sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada Mei 2027 mendatang. Budi Gunadi Sadikin nantinya akan bersaing dengan enam kandidat lain untuk menggantikan posisi Tedros Adhanom Ghebreyesus yang masa jabatannya akan berakhir pada 15 Agustus 2027. Para pesaing tersebut antara lain mantan Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Kluge yang diusulkan oleh Belgia, mantan Menteri Kesehatan Qatar Hanan Al-Kuwari, serta Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur Hanan Balkhy.
Persaingan ini menjadi ajang penting bagi Indonesia untuk mempromosikan visi kesehatan yang lebih berkeadilan. Pemerintah menekankan bahwa setiap lembaga multilateral harus mampu bekerja lebih efisien dan representatif, memastikan bahwa kesepakatan internasional tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Dengan mengedepankan prinsip keadilan, Indonesia berharap dapat memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat global di masa depan.
Langkah diplomasi kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah ini juga mencerminkan transisi kepemimpinan di Kementerian Luar Negeri yang tetap konsisten pada jalur kebijakan luar negeri yang proaktif. Fokus Indonesia tetap tertuju pada penguatan kerja sama multilateral yang transparan, efektif, dan demokratis dalam menangani isu-isu krusial dunia, termasuk ancaman kesehatan global di masa depan.


